Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 10 Playboy Cap Kadal


__ADS_3

Sammuel tahu, apa yang dikatakannya kepada Livy tempo hari akan membuat gadis itu bingung. Mengatakan suka, bahkan ketika mereka baru dua kali bertemu. Jika di pikir memang tak masuk akal, tapi memang begitulah hidup. Terkadang, hal yang di bilang dan tak masuk akal itu tak selamanya buruk. Jadi, di coba pun tak masalah kan?


Jika datang ke kos Livy adalah usaha yang pertama untuk dia mendekati Livy dengan cara yang benar, maka yang dilakukannya kali ini adalah usaha keduanya.


Sammuel datang ke kampus Livy seorang diri untuk menemui gadis itu. Entah apa yang akan dia lakukan setelah bertemu Livy, biar itu menjadi urusan belakangan.


Melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, Sammuel sudah menunggu selama setengah jam. Dia berharap akan bertemu Livy di sini, karena dia tentu tak tahu jadwal kuliah gadis itu.


Beberapa mahasiswa lain juga menatap ke arahnya, entah karena apa. Mungkin saja, mereka merasa tak pernah melihat lelaki itu di kampus mereka, atau karena mereka merasa jika Sammuel memang tampan.


Dan hukum alamnya, di mana ada orang tampan, maka dia akan menjadi pusat perhatian.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, ketika tak sengaja dia membalikkan tubuhnya, Livy berjalan bersama kedua temannya yang mendekat ke arahnya.


Livy sebetulnya juga tahu jika Sammuel akan datang ke kampusnya. Namun, ketika lelaki itu berada di sana, di depannya, kedua tangannya di masukkan ke dalam celana, kemudian atensinya menatap lurus kearah dirinya berada, dia sadar jika lelaki itu adalah Sammuel.


Mendekati lelaki itu, di ikuti kedua temannya, Livy berhenti tepat di depan Sammuel. Yana dan Dinda saling melirik satu sama lain. Mereka pasti penasaran dengan lelaki tampan di depannya itu.


"Ngapain lo kesini?" tanya Livy, sekaligus sebagai sapaan. Tak ada basa-basi sama sekali.


"Cari kamu." jawabnya lugas, tanpa merasa ada pengelakkan. Memang begitulah faktanya. "Masih ada jam kuliah, atau udah selesai?"


"Udah selesai, tapi aku mau langsung karaokean."

__ADS_1


Sammuel mengangguk. "Baguslah, bisa tunda rencananya? Ada yang mau aku kasih tahu ke kamu." pintanya.


Livy sadar, Alister bukan lelaki yang suka berbasa-basi. Dan itu sama seperti dirinya. Dia katakan saja apa yang ada dalam pikirannya itu.


"Gue udah terlanjur janji."


"Enggak, enggak." Itu suara Yana menginterupsi. "Kalau kalian mau pergi, pergi aja. Kita karaokean-nya lain kali aja." Begitu katanya, yang mendapatkan senyuman tipis dari Sammuel.


"Jadi?" Tatapan Sammuel mengarah kepada Livy.


"Sepenting apa sih?" Entah kenapa, Livy suka sekali mengelak, padahal ketika dia tak menemukan Sammuel waktu itu saja, dia sempat meras galau.


Sammuel kembali mengedikkan bahunya. "Sepenting kamu di hatiku," ucap lelaki itu dengan santainya.


Bahkan kedua temannya saja, rasanya ingin memekik, saking gemasnya mereka kepada sikap Sammuel.


"Kita pergi sekarang?" Sammuel sadar, keberadaannya di kampus ini membuatnya menjadi pusat perhatian. Karena itu, dia segera memilih untuk menyingkir dari sana sepertinya adalah keputusan yang lebih bijak.


Mengangguk, Livy menyetujui. "Oke." katanya singkat.


Dia memberikan kunci motor miliknya kepada Yana, agar gadis itu bisa memakai motornya untuk pulang.


"Gue pergi dulu." pamitnya kepada kedua temannya yang di jawab dengan anggukan oleh mereka. Sammuel hanya mengangguk saja tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Kemudian mereka berlalu dari sana yang di ikuti pandangan oleh Yana dan Dinda.


"Itu dia yang gue maksud, Din." Yana tak tahan untuk segera berbicara. "Ganteng kan?" imbuhnya.


"Banget." sambung Dinda. "Tinggi banget, ya ampun. Sipit pula matanya udah kaya oppa-oppa korea."


"Kenal dimana itu si Livy sama cowok modelnya kaya begitu, ya?" kata Yana lagi.


"Elo yang satu kos aja nggak tau, apa lagi gue. Kalau pun masih ada, gue pengen satu yang kaya gitu." sahut Dinda dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya, biasa reaksi berlebihan kalau lihat cowok ganteng.


Keduanya pergi dari tempat itu untuk pulang, toh rencana mereka gagal total. Namun belum juga mereka sampai di parkiran, mereka sudah di cegat oleh seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Adam.


"Livy sama siapa?" Wajah lelaki itu terlihat kaku dan datar. Dia mungkin merasa tak terima karena Livy tiba-tiba bersama lelaki lain.


"Bukan urusan Kakak sih. Kakak kan bukan cowoknya Livy lagi." Yana memang ikut menyaksikan bagaimana Adam berselingkuh dengan perempuan yang entah siapa itu.


Decakan mulai terdengar. "Dia yang udah punya pengganti gue, kenapa dia yang bilang gue selingkuh?" protes lelaki itu tanpa tahu malunya.


"Karena emang Kakak yang selingkuh. Kalian ciuman di depan Pink kafe!" Yana tak mau kalah. "Masih mau ngelak? Gue juga lihat elo kok waktu itu, jadi nggak usah cari alasan lain buat ngejatuhin Livy di depan kita!" Yana bahkan sudah tak harus menghormati kakak tingkatnya itu karena kesal. Sudah ketahuan, mengelak pula.


Adam merasa salah tingkah, kemudian pergi begitu saja tanpa pamit atau berbasa-basi. Dan itu membuat Yana mencibir. "Dasar playboy cap badak." Begitu katanya mencaci.


"Udah nggak usah di urusin cowok gila modelnya kaya dia. Yang ada entar kita ikutan gila karena kebanyakan ngeladenin omong kosongnya." kata Dinda sambil menarik tangan Yana. Kalau dibiarkan, entah 'cap' apa saja yang akan keluar dari bibir Yana.

__ADS_1


__ADS_2