Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 13 Unik


__ADS_3

Menghentikan motornya di halaman masjid, Alister membuka helm full face-nya. "Kamu sholat kan?" Satu hal ini yang membuat Livy terkesan. Dulu Adam saja tak mempedulikan hal semacam ini. Bahkan, ketika keluar bersama Livy dan gadis itu meminta untuk berhenti di tempat ibadah, lelaki itu akan bilang, "Sekalian di kos aja ya." Begitu katanya.


Dan kali ini Sammuel, melakukan sebaliknya. Dia tahu kewajibannya sebagai orang yang beragama.


"Iya," jawab Livy singkat. "Gue langsung masuk ya, entar ketemu di sini lagi." katanya.


Sammuel mengangguk dan mereka berpisah dan masuk ke dalam masjid untuk menjalankan ibadah. Livy memang bukan gadis yang pintar dalam agama, namun dia tahu kewajibannya sebagai seorang beragama. Karena sejak kecil, orang tuanya mendidiknya untuk tidak meninggalkan kewajibannya tersebut.


Setelah selesai Livy menunggu di depan masjid dan duduk di anakan tangga. Bahkan setiap orang yang berlalu-lalang di sana menatapnya dengan heran karena ada boneka besar di sampingnya. Tapi gadis itu tetap tak peduli dan tetap saja memasang muka datarnya.


Hingga Sammuel datang dan mencolek lengannya. "Ayo." ajaknya yang dituruti oleh Livy.

__ADS_1


Melanjutkan perjalanan untuk segera sampai ke rumah kosnya. Tidak ada rencana untuk mereka menghabiskan waktu bersama. Tapi Livy bisa merasakan bagaimana menyenangkannya hari ini.


Motor sport putih itu berhenti tepat di depan kos Livy. Gadis itu turun dan melepaskan helm yang di pakainya, kemudian menyerahkannya kepada Sammuel.


''Terimakasih." katanya sedikit menjeda ucapannya. "Untuk hari ini." Sammuel yang masih berada di atas motor mengangguk.


"Sama-sama." Sammuel sebenarnya masih ingin berada di sana bersama gadis yang disukainya itu, tapi dia sadar, Livy terlihat begitu lelah. Lagi pula, dia tidak ingin Livy kesal karenanya dan suasana hati gadis itu menjadi buruk.


Mengangguk pelan. "Iya. Gue tau kok, lo tenang aja pasti gue baca." balasnya sedikit menyematkan senyum meskipun itu tipis sekali.


"Aku pergi dulu." Sammuel kembali memakai helm full face-nya dan berlalu dari sana setelah mendapatkan anggukan dari Livy.

__ADS_1


Naik ke lantai atas, Livy langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia tak melihat keberadaan Yana yang mungkin saja gadis itu tengah menonton drama korea di kamarnya. Meletakkan boneka di atas ranjang, gadis itu kembali membuka tasnya untuk mengambil apa yang tadi Sammuel berikan kepadanya.


Membenarkan posisi duduknya di kursi, dia mulai membuka dan membaca isinya. Perlahan, Livy membaca secara detail kertas yang tadi Sammuel berikan kepadanya. Nampak seulas senyum muncul dari sudut bibirnya. Dia merasa Sammuel berbeda dengan lelaki yang pernah dia jumpai selama ini. Benar-benar unik dan terkesan konyol.


Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. Entah mengapa rasa tenang di dalam hatinya mulai terasa, ataukan dia benar-benar akan membuka hatinya untuk seorang Sammuel. Meletakkan selembar kertas tersebut di nakas. Livy mulai memindah posisi tubuhnya ke atas ranjang agar lebih nyaman.


"Livy, lo jangan terlihat konyol kaya gini, apa kata orang jika liat muka lo yang datar ini berubah." katanya pada diri sendiri.


"Ah, jangan jadi orang gila yang tiba-tiba menguar senyum, Vi, apa yang bakalan Yana bilang tentang lo nanti." Entah mengapa suara Livy terdengar cukup keras, hingga membangunkan tetangga sebelah yang tadinya damai santosa menggedor pintunya secara tiba-tiba.


''Vi, elo udah pulang?'' Begitu tanyanya dengan tangan masih menggedor-ngedor pintu secara bar-bar.

__ADS_1


__ADS_2