Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 26 Emosi Livy


__ADS_3

Dikelas mahasiswa yang lain sibuk membicarakan Livy dan ke dua temannya itu. Livy yang sudah tidak tahan dengan cicitan tak berguna mereka pun langsung mengebrak meja.


Brak... Brak... Brak...


"Mulut kalian bisa diem nggak! Apa perlu, gue bikin mulut kalian diem selamanya!" gadis itu melihat sekelilingnya, tatapannya begitu tak bersahabat seperti ingin membunuh seseorang.


Seketika seisi kelas terasa hening, tak ada yang berani membuka mulut mereka saat kemarahan Livy sudah di pucuk ubun-ubun. Yana tau, sejak tadi Livy sudah memendam rasa kesalnya kepada Adam, sehingga emosinya tak bisa terkontrol lagi. Atau mungkin juga karena moodnya sedang tidak baik-baik saja.


"Siapa di antara kalian yang berani ngegosipin tentang jeleknya gue dan kedua sahabat gue! Tunjukin sekarang juga. Gue dari tadi udah sabar. Tapi mulut racun kalian bikin gue naik darah!" teriak Livy dengan atensi menatap sekelilingnya, matanya benar-benar membuat dengan sempurna.

__ADS_1


Mereka yang tak ingin mendapat masalah dari Livy langsung saja menunjuk ke arah Dimas, laki-laki yang suka ngerumpi sana sini dan ngegosip tak jelas.


Mata Livy kembali melebar, dia menatap lurus ke arah Dimas. Bahkan, tak ada cela untuk laki-laki menghindar dari gadis tersebut.


"Ow... mulut racun lo, Dim, yang udah bikin seisi kelas heboh kaya gini? Apa perlu, mulut lemes lo ini gue tutup pakai kaki meja biar lo diem seumur hidup! Urusan gue sama Adam udah selesai. Lagian ngapain mulut lo ngember sana-sini, udah bosen hidup lo!" Kaki Livy kini melangkah mendekati posisi Dimas berdiri.


Dimas gemetaran, bahkan dia tiba-tiba menjadi gagap, karena tindakan Livy yang menakutkan itu. "G-g-gue.. m-min-ta.. m-m-ma-af.. Vy, g-gue nggak lagi-lagi ngomongin e-elo sama ke dua sahabat lo." bibir Adam bergetar hebat saat mengucapkan kata tersebut, lelaki itu menyatukan kedua telapak tangannya, dia memohon dengan bibir yang masih bergetar akibat menahan rasa takutnya, bulu kuduknya secara instan berdiri saat tatapan Livy tak lepas darinya, lelaki itu seakan mati kutu karena tak mampu melawan gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Dimas yang masih berdiri ditempatnya mengangguk pelan, seluruh tubuhnya gemetaran, menandakan jika dia benar-benar ketakutan bahkan wajahnya kini tertunduk. Hingga, celana yang dia pakai pun basah karena mengompol. Seisi kelas sontak berbisik, ada juga yang tertawa karena melihat Dimas si biang nyinyir ketakutan bahkan sampai mengompol.

__ADS_1


Livy kembali ke tempat duduk dengan muka masamnya, sedangkan Yana yang tau akan isi hati Livy saat ini, mencoba menenangkan sahabatnya. "Lo nggak perlu se-marah ini, Vy. Kasihan Dimas, sampai ketakutan kaya gitu." Yana mencoba menasehati. Tangan kanannya mulai aktif mengusap punggung Livy dengan pelan.


"Gue kesel aja, mulut cowok tapi kaya bencong gitu, nyinyir banget." balasnya seraya meletakkan kepalanya di atas meja.


"Iya, gue tau. Tapi ini juga demi kebaikan lo, gue tau hati lo lagi nggak baik-baik aja hari ini, tapi please. Jangan bikin nama lo makin buruk di mata temen-temen yang lainnya." kini Dinda yang mencoba menasehati.


"Iya Yan, gue minta maaf, nggak seharusnya gue marah-marah. Tapi gue ingat kejadian tadi, rasanya gue nggak terima aja! Sampai di kelas mulut mereka juga bikin masalah." Livy masih mengepalkan tangannya, Yana langsung memeluk erat tubuh Livy. Matanya memanas saat mengingat kejadian tadi.


"Nangis aja Vy, kalau itu bisa bikin elo tenang. Gue siap jadi sandaran elo ketika lo sedih kaya gini."

__ADS_1


"Nggak ada sejarahnya gue nangis gara-gara dia. Kalau gue nangis gara-gara Sammuel, baru gue lakuin." balasnya yang tak ingin di bilang cengeng.


Dasar Livy si bucin ini, jika menyebut nama lelaki yang dia sayang saja sikap dia berubah menjadi manis, sedangkan jika mengingat Adam, wujud singa-nya langsung keluar tanpa menunggu nanti.


__ADS_2