
Livy merasa pusing karena gedoran di pintu kamarnya. Dia baru saja memejamkan matanya, tapi entah kenapa Yana selalu bertindak bar-bar ketika mengetuk pintu kamarnya itu.
Padahal biasanya, tak ada yang penting sama sekali ketika gadis itu sampai di kamarnya. Bahkan terkadang hanya bilang, "Lo tidur?" Begitu saja kemudian pergi lagi ke kamar miliknya.
Keterlaluan memang si Yana itu jika sudah mulai bertindak.
Gedoran itu kembali terdengar. Livy menggeram dan bangun untuk membukakan pintu kamarnya.
"Kenapa sih, Yan?" tanya Livy dengan mata yang masih ngantuk sekali, padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh tiga puluh.
"Ada yang nyariin elo, tuh." katanya dengan wajah antusias. "Dia ganteng banget.'' tambahnya lagi.
Livy menatap malas kepada Yana. "Siapa emang?" Yang dimaksud Livy adalah salah satu temannya yang tadi siang menggodanya dengan rayuan busuk mereka.
Yana menggeleng, "Bukan Livy. gue serius ini. Dia cakep banget. Paijo mah kalah, dia masih di bawah rata-rata sama cowok yang nyariin lo ini," katanya masih dengan semangat.
"Ya udah, gue turun." Livy akan menutup pintunya namun tangan Yana lebih dulu mencegahnya. "Rapiin dulu rambut elo." katanya sambil menyisir rambut Livy dengan jarinya, perhatian sekali memang si Yana ini.
"Halah." keluhnya dengan bibir mengerucut. Sebenarnya Livy mana pernah peduli dengan rambutnya yang berantakan. Dia langsung menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan untuk menemui tamunya tanpa mempedulikan Yana yang berdecak karena sifat cuek sahabatnya itu.
Sampai di bawah, Livy tak merasa ada yang di kenali dari orang di sana selain penghuni kos yang memang sedang mendapatkan tamu juga. Matanya menyipit seolah melakukan itu bisa menajamkan penglihatannya.
"Vi, lo di cariin, tuh?" Itu suara kakak tingkatnya.
"Mana, Kak?" gadis itu nampak mendongakkan kepalanya.
"Itu, yang motornya sport warna putih." jelasnya sambil menunjuk dengan dagunya.
Livy merasa tak mengenal lelaki itu. Lagi pula, kenapa juga lelaki itu tak memberi isyarat jika dia mencarinya dan malah duduk terdiam di saung dengan kepala tertutup helm full face yang mengarah kepadanya. Berjalan mendekat, Livy mencoba mencari tahu siapa lelaki berhelm itu. "Maaf, Mas cari saya?" tanyanya mencoba memastikan.
Lelaki itu membuka helmnya, dan Livy langsung tahu siapa gerangan orang yang mencari dirinya itu.
"Sam?" Katanya hanya untuk memastikan dirinya sendiri.
Lelaki itu tersenyum. "Hay." sapa-nya. "Apa kabar?" Imbuhnya. Tak ada senyum balasan yang diberikan untuk Sammuel.
Gadis itu mengangguk. "Gue baik." ucapnya seraya ikut duduk di saung. Mereka duduk bersebelahan tanpa mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Kenapa lo dateng kesini? Apa ada sesuatu yang penting?" Livy berinisiatif bertanya. Karena Sammuel juga menutup mulutnya tanpa mengatakan apapun.
"Maaf karena waktu itu."
Livy mengernyitkan keningnya, gadis itu tak mengerti arti kata waktu itu yang diucapkan oleh Sammuel. Namun, dia memilih untuk tetap diam dan menunggu kelanjutannya.
"Aku nggak nyapa kamu, padahal aku lihat kamu waktu ada pertandingan futsal." Sammuel mencoba menjelaskannya.
"Gue pikir, elo udah lupa sama wajah gue ini." Livy tentu saja kesal ketika mengingat kejadian waktu itu. Bukan karena Sammuel yang tak menyapanya, hanya kesal karena dia bertindak bodoh dengan berusaha mendekati Sammuel waktu itu.
"Mana mungkin begitu." balas Sammuel Mereka kembali terdiam. Livy pun tak tahu harus menanggapi seperti apa ucapan Sammuel.
"Lalu?" tanya Livy lagi. Yang membuat Sammuel menoleh ke arahnya. "Kita satu kampus?"
"Nggak." Sammuel menunduk sambil memainkan kunci motornya.
__ADS_1
"Pertandingan persahabatan kemarin, sama kampus gue?" gadis itu masih penasaran. Namun dia akhirnya tau jika Sammuel bukan mahasiswa dari kampusnya.
"Gue minta maaf karena udah ngusir lo waktu itu." Sammuel harus mengatakan itu agar tak merasa bersalah atas tindakannya beberapa hari yang lalu. Dan jika perasaan yang dia pikir karena rasa bersalah kepada Sammuel itu masih bergelayut di hatinya, maka Sammuel memang sudah mampu mempengaruhi hidupnya.
"Jadi?" tanya Sammuel.
Livy mengernyit tak mengerti dengan maksud ucapan lelaki itu. "Maksudnya?"
"Kenapa kamu mengusirku waktu itu?" Livy akan menjawab ketika Sammuel menyela. "Kamu udah janji akan cerita." Sammuel tahu, gadis itu pasti akan mengelak dan menghindar.
Dan memang benar, Livy sejujurnya tak ingin mengatakan apapun kepada Sammuel tentang masalah itu. Sammuel hanyalah orang asing di kehidupannya. Kemungkinan, dia hanyalah pemeran pendukung di dalam skenario kehidupannya.
"Livy."
Gadis itu tahu panggilan tersebut untuk apa. Menghela napas, Livy berusaha bercerita.
"Mantan gue dateng waktu itu." Jujurnya. "Hari dimana kita bertemu pertama kali, itu adalah hari dimana gue baru aja putus sama dia."
Sammuel mendengarkan dengan seksama.
"Dia selingkuh, dan gue tahu dengan mata kepala gue sendiri. Dan besoknya, gue putusin dia. Hari itu, hari kedua lo nganter gue pulang, dia datang buat minta maaf. Cerita selesai." finalnya.
"Kamu masih cinta sama dia?"
"Awalnya iya. Tapi, sekarang gue udah buang rasa sayang gue ke dia."
Sammuel menghela napasnya. Dia tak tahu harus mengatakan apa kepada gadis di sampingnya itu.
"Aku nggak tahu harus bilang apa?" jujur Sammuel.
Sammuel mengedikkan bahunya. ''Pengen lihat kamu." katanya. "Beberapa hari aja kita nggak ketemu?" Sammuel berlagak seperti menghitung dengan jari-jarinya. "Dua Minggu?" Ekspresi wajahnya terlihat kaget, membuat Livy berdecak. "Karena itu aku kesini." Lanjutnya. "Karena aku juga ingin memastikan kepada mu, jika aku serius dengan apa yang aku bilang waktu itu."
"Yang mana?" tanya Livy cepat.
"Aku suka kamu." Jelas Sammuel.
"Ck." Decakan itu keluar begitu saja dari mulut Livy di iringi dengan helaan napas berat.
"Lo orang asing di kehidupan gue, Sam." katanya. "Dan gue nggak seberani itu untuk menjalin hubungan dengan orang yang bahkan nggak mau menyapa gue, meskipun dia lihat gue dengan jelas."
"Kalau kamu lupa, aku mau coba ingetin kamu. Aku tadi udah minta maaf tentang masalah itu, dan kamu juga udah maafin aku kan barusan." Sammuel akan meladeni Livy kali ini dan tak akan membiarkan gadis itu menang begitu saja saat 'berdebat' dengannya.
"Kalau aku masing terlihat asing buat kamu, aku akan mengatakan semua tentang diriku. Kalau perlu, aku akan membuatkan biodata di ketikan dengan times new roman dengan spasi 1,5 dan akan aku serahkan ke kamu."
Lagi-lagi Livy berdecit. "Konyol." Begitu katanya.
''Jadi bisa kamu pertimbangkan itu?" Sammuel tak mau pulang membawa kekecewaan. Mereka memang asing, seperti yang di bilang oleh Livy tadi. Tapi, bagi Sammuel, rasa sukanya sudah semakin berkembang sekarang.
"Gue nggak tahu." kata Livy blak-blakan. "Gue cuma mikir, gue punya pacar sekarang, juga nggak akan nikah sekarang."
"Kata siapa?"
"Apanya?'' Livy memicing merasa tak paham dengan ucapan lelaki itu.
__ADS_1
"Kalau memang kita udah cocok satu sama lain, nggak ada salahnya kita menikah muda." Pemikiran Sammuel semakin membuat Livy sakit kepala.
"Lo gila!" serunya dengan menggeleng dramatis.
"Kenapa enggak?" balas Sammuel santai. "Kamu udah delapan belas tahun, aku sembilang belas tahun. Kalau kita udah merasa cocok selama kita pacaran, mungkin satu tahun lagi kita bisa melangsungkan pernikahan."
Semakin lama mengobrol dengan Sammuel membuat Livy semakin to*ol di buatnya.
"Lo seriusan ngomong kaya gitu?" gadis itu masih tak percaya.
Sammuel mengedikkan bahunya. "Aku nggak pernah main-main sama apa yang udah aku ucapin." jelasnya.
Livy tak menjawab lagi. Dia duduk dengan menggantung kakinya. Mau tak mau, ucapan Sammuel menjadi pikiran untuknya. Lelaki yang masih duduk di bangku kuliah, masih semester tiga pula, sudah mengatakan keseriusannya tentang masalah pernikahan. Memangnya apa yang dia punya? Bahkan sekarang saja, dia mungkin masih bergantung kepada kedua orang tuanya.
Ya, mungkin saja, jika dia sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri. Atau seperti cerita hidup di novel yang sering Yana baca, dia sudah menjadi seorang CEO di usia yang terbilang masih muda?
Ah, tidak... Livy menggelengkan kepalanya untuk mengusir pemikiran aneh yang masuk ke dalam kepalanya. Sampai-sampai, Sammuel mengernyit dan menyeringai.
"Kenapa kamu menggeleng-geleng begitu?" tanyanya menyadarkan Livy.
Tak mendapatkan jawaban, lelaki itu kembali bersuara. "Aku serius dengan biodata itu Livy. Aku akan buatkan itu untuk kamu." Lelaki itu kemudian berdiri tepat di depan Livy.
"Kamu istirahatlah, aku pulang dulu." ucapnya seraya menaiki motor sport berwarna putih itu, kemudian memakai helm full face-nya.
Sungguh, kalau Livy bisa menilai, Sammuel memiliki nilai sembilan puluh sembilan. Jika di lihat dari parasnya, tubuh yang terbilang tinggi dan wajahnya yang tampan, dan ketika mengendarai motor seperti saat itu, benar-benar cocok untuknya.
"Aku pergi dulu." katanya, dan motor besar itu meraung meninggalkan asap di udara.
Inginnya, Livy tak mempercayai apapun yang di katakan oleh Sammuel kepadanya. Tapi, di satu sisi lain hatinya meminta untuk mencoba.
Tapi dia belum menentukan semua itu. Semuanya terasa cepat dan terburu-buru. Meskipun banyak orang yang akan percaya pada cinta pandangan pertama, tapi baginya, cinta itu butuh proses.
Masuk kembali kedalam rumah kosnya, Yana tak akan melepaskan Livy begitu saja. Gadis itu bahkan memasang wajah penasarannya dan mengikuti Livy dari belakang untuk mengetahui siapa lelaki tampan yang datang untuk mencari sahabatnya itu.
"Yan!" katanya memperingatkan.
"Gue mau tahu."
Livy ingin saja berteriak sekarang juga. Kenapa dulu dia harus menawari Yana satu kos dengannya dan berakhir satu kelas pula. Kalau tidak, mungkin dia tak akan direpotkan oleh hal-hal semacam ini.
''Besok aja." jawab Livy. "Gue ngantuk dan butuh tidur." Di tatapnya Yana lekat untuk memberi ketegasan atas ucapannya.
"Tapi Vi.."
"Gue serius, Yan. Selamat malam." Tak perlu merasa menunggu jawaban Yana, dia pun masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan rapat.
Keinginannya saat ini adalah tidur, tapi sayangnya dia tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Gadis itu memikirkan tentang takdir. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda, otaknya berselancar tentang takdir yang digariskan untuknya beberapa hari ini.
Sammuel. Pemikiran lelaki itu terlalu 'dewasa' menurutnya. Tentu saja setiap orang memiliki rencana dalam hidupnya. Entah menikah muda itu adalah salah satu rencana Sammuel, atau hanya karena ingin menyambungkan kalimat yang dia katakan tadi.
Di cobanya untuk mencari tahu tentang Sammuel di dalam media sosial. Karena Livy hanya memiliki media sosial instagram saja, dia mencoba mengetikkan nama 'Sammuel' di sana.
Menyerah, kata itu di katakan pada dirinya saat ini. Livy meletakkan ponselnya di atas nakas. Biarlah dia menunggu saja apa yang akan Sammuel berikan kepadanya tentang semua hal dari diri lelaki itu.
__ADS_1
Karena tak kunjung kembali mengantuk, Livy memilih untuk mengemil sampai kenyang. Dia yakin, ketika perutnya sudah kenyang nanti, kantuk itu akan datang.