Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 14 Kekepoan Yana


__ADS_3

Livy yang merasa tertangkap basah oleh Yana langsung menutup mulutnya rapat. Ya, walau pun sudah tak bisa bersembunyi lagi setidaknya dia bisa terhindar dari Yana si tukang kepo itu.


Namun pemikirannya itu salah, Yana dengan bar-barnya semakin menggedor-gedor pintu kamarnya. Mungkin kalau bangunnya itu sudah tua dan tukang bangunannya tak perfasional, pintu itu mungkin akan ambruk saat ini juga dan Livy akan menjadi korbannya.


"Vi, lo jangan pura-pura tidur deh. Gue denger suara teriakan elo tadi. Cepetan bukain pintunya!" Perintah Yana yang masih setia menggedor-gedor pintu kamarnya.


Menghela napasnya, dengan segala keterpasaan Livy pun beranjak dari tempat tidurnya, enggak sekali rasanya. Namun dia tak ingin membuat sang  pemilik kos mendatangi kamarnya karena ulah bar-bar si Yana.


"Apa!" Tampang datar sudah tercetak jelas di wajahnya itu.


"Lama." Kesal Yana yang langsung masuk kedalam tanpa permisi terlebih dahulu dengan pemilik kamar.


Di dalam kamar, Yana sudah siap melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sejak tadi mengganggu pikiran gadis tersebut. "OMG. Lo dapet boneka cantik kaya gini, Vi. Aaaa.. gue juga jadi pengen."


"Hemm.'' gumamnya seraya menutup pintu kamarnya.


"Dih, jutek banget sih." Yana mendengus melihat sikap  yang tak pernah berubah itu, meskipun sudah menemukan sesuatu yang baru.


"Sejak kapan lo jadi suka boneka, Vi. Atau jangan-jangan elo mau jadi cewek tulen kaya gue." Canda Yana disertai cengiran garingnya.


"Tulen pala lo botak, gue ini kan emang cewek tulen dari dulu. Emangnya lo pikir gue cewek jadi-jadian.'' Ekspresi wajah Livy bener-bener terlihat datar.


"Hahaha.. canda Vi, jangan di masukin ke pan*at lah omongan gue ini."


"Enggak akan. Lagian udah gue saring ke memori otak kecil gue kalau lo itu ngeselin dari pertama kali gue kenal sama lo." Livy kini berjalan dan duduk di sebelah Yana.


Yana hanya menggedikkan bahunya tak acuh. "Gimana?'' Tingkat kekepoan Yana mulai aktif.


Livy menaikan satu alisnya, gadis itu masih di mode terbang dan belum ada niatan untuk membalas.

__ADS_1


"Livy." Begitu katanya, dengan kedua tangan yang sudah menggoyang-goyangkan lengan Livy.


"Hem.'' Sahutnya malas.


"Hammmmm.... hemm... ham... aja terus udah kaya lagunya Nika Samyang, yang gini liriknya hemmmmmm...hemmmm." Yana sok-sokan menyanyi, padahal dirinya tak bisa mengucapkan liriknya dengan benar.


Memukul kepala Yana pelan, "Bego! Lo malah kelihatan kaya kumbang tanpa madu, suara lo cuma kedengaran nyaring di telinga gue, bahka bikin frustasi otak gue meningkat." Begitulah cicitan Livy yang terlihat menyebalkan. "Lagian itu bukannya lagunya Nisa Sabyan. Kenapa lo suka banget ganti nama orang tanpa seizinnya, sih. Kaya si Paijo itu juga lo ganti.'' Lanjutnya.


"An*ir lo, mending gue tadi diem aja nggak usah komentar kalau endingnya elo malah ngehina gue sambil mukul kepala gue kaya gini. Bisa geser banyak ini otak gue karena ulah lo, Vi." Yana merasa ciut hati saat Livy mengatakan hal yang mungkin membuatnya kesal, bahkan kepalanya mungkin terlihat benjol akibat pukulan yang diberikan Livy tadi. Namun yang namanya Yana tetap saja tak ambil pusing, bagaimana pun dia sudah menghafal karakter dari sahabat satu kosnya itu.


Livy tetap lah livy, gadis itu tetap saja terlihat datar meskipun Yana sudah memasang tampangnya yang paling jelek dan memelas pun, dia tak akan peduli dan justru semakin membullynya.


"Dasar. Sahabat nggak respek lo, gue udah pasang muka jelek, melas kaya gini. Elo tetep nggak peduli, dasar kambing guling."


"Udah?" Gadis itu melipat kedua tangannya dan menaruhnya di dada.


" Udah ngomelnya. Kalau udah, gue mau istirahat gue capek!" Begitu katanya dengan memasang wajah masamnya.


Mendengus kesal, namun masih setia duduk di atas ranjang tanpa dosa. "Terus aja ngusir gue, gue nggak akan pergi dari sini sebelum lo cerita tentang cowok itu ke gue." Katanya yang justru langsung merebahkan tubuhnya di sana. Benar-benar si Yana ini selain ratu kepo, dia juga sangat menjengkelkan.


"Lo mau dengerin apa tentang dia?" Livy beralih dari tempatnya berdiri dan ikut duduk di sisi ranjang dengan menyingkirkan kaki Yana yang masih memalang.


"Gila, dia ganteng banget. Elo ketemu dia dimana?" Seketika Yana langsung membenarkan posisinya, matanya terbuka cukup lebar dengan tampang seriusnya.


"Nemu di kuburan." Jawab Livy ngasal. "Udah ah lo kepo banget." Finalnya.


Mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan memegang bantal kesayangan sahabatnya itu, mungkin niatnya akan memukul Livy mengunakan bantal tersebut. Namun Livy sudah hafal gelagat dari temannya itu.


"Udah, jangan lo pegang-pegang terus bantal gue, nanti lecek." Begitu katanya dengan tangan mengambil alih bantal tersebut.

__ADS_1


"Di tanyain serius juga, jawabnya ngasal banget. Kan siapa tau gue ketularan kaya lo juga, bisa dapetin cowok seganteng dia." Yana mengedip-ngedipkan matanya, dengan kedua tangan menyatu, mungkin gadis itu membayangkan sesuatu.


Menghela napasnya pelan, "Lo beneran mau tau?" Akhirnya Livy kembali membuka suara.


Anggukan antusias dari Yana mengadakannya dia sangat ingin mengetahuinya.


"Gue ketemu dia di taman deket kampus, waktu itu gue...." Livy menghela napasnya sesaat. "Lo taulah perasaan gue kaya gimana waktu itu karena ulah si bren*sek Adam." Lanjutnya.


"Iya gue tau, terus." Jiwa kekepoan Yana mulai keluar kembali, bahkan berkali-kali lipat dari sebelumnya.


"Ya, gue ketemu dia pas matahari tenggelam."


"Seriusan lo? Napak nggak itu kakinya?" Begitu katanya dengan wajah mendekat ke arah Livy dan mata yang mulai melebar.


Tangan enteng Livy kembali melayang kearah kepala Yana, dia memukulnya pelan. "Ya napak lah, lo kan udah lihat sendiri.Lo pikir dia makhluk astral atau sejenisnya."


"Ya kali aja, itu wujud lain dari dia." Seketika tampang Yana kembali merengut, gadis itu mengusap pelan kepalanya, untung saja kepalanya itu ciptaan Tuhan, jika tidak mungin sudah remuk akibat kelakuan Livy yang terus memukulnya secara bar-bar.


"Maksud lo gue bakalan jadian sama cowok nggak jelas gitu, atau lebih tepatnya gue pacaran sama hantu." Kesal Livy yang kini juga menatap ke arah Yana.


"Hehehe ya kali aja." Menyenggol lengan Livy dengan khas cengiranya. "Elo berharap jadian juga ya sama dia, gue pikir elo itu cewek yang datar dan nggak punya rasa sama cowok setelah kejadian si Adam itu." Ledek Yana tak tanggung-tanggung.


Seakan kepalanya mulai mendidih akibat celotehan yang Yana lontarkan. Livy segera berdiri. "YANA! Udah basa-basinya. Kalau udah lo keluar deh, gue mau istirahat. Capek gue dengerin lo ngoceh muluk."


Dengan ogah-ogahan Yana beranjak dari atas ranjang, sesekali dia mencolek temannya yang berwajah datar itu. "Ck. Jangan lupa pajak jadiannya kalau kalian udah jadian ya.'' Kedipan mata itu kembali di perlihatkan di depan Livy.


Menaikkan satu alisnya dengan atensi menatap ke arah pintu. Paham dengan pikiran Livy, Yana segera melangkah keluar dari kamar tersebut. Seringaian terlihat dari wajah Yana yang memang sedikit mengurangi rasa keponya.


Lagi dan lagi Livy menghela napasnya, entah dia harus bersyukur atau tidak memiliki sahabat yang begitu peduli dengan kehidupannya. Berbaring di atas ranjang, dengan mata mulai terpejam.

__ADS_1


__ADS_2