Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 17 Keseriusan Sammuel


__ADS_3

Di dalam sebuah gedung bioskop, keduanya nampak antusias dengan film yang baru saja di putar di layar lebar tersebut. Tak terkecuali bagi Sammuel yang memang sesekali melirik kesamping kirinya. Dia mengamati Livy dalam diam, gadis itu terlihat masih fokus pada layar besar itu.


"Kenapa ngeliatin gue? Ada yang aneh." kata Livy yang tak mengalihkan atensinya pada layar besar tersebut.


Tersenyum tipis, Sammuel mengusap kepala Livy beberapa kali. Memang gadis itu berbeda dengan gadis yang pernah dia jumpai sebelumnya, dia akan langsung to the poin tanpa ada niatan untuk basa-basi. Begitu pula dengan dirinya. Jadi menurutnya jika mereka menikah Sammuel tak perlu belajar banyak untuk mengetahui sifat dan perilaku Livy, karena kebenarannya mereka memiliki sifat yang terbilang sama.


"Kalau ngajakin gue nonton, fokus ke filmnya, jangan ngeliatin gue terus. Gue risih di tatap lo kaya gitu."


"Iya aku fokus sama film sekaligus fokus ke kamu, Vi." tutur Sammuel yang belum juga mengalihkan pandangnya.


Menarik napas secara perlahan, mungkin Sammuel dapat mengetahui jika jantungnya sedang berdetak tak karuan. Wanita mana yang tak leleh mendengar perkataan lelaki tampan yang mencoba merayunya sepeti itu. Rasanya, Livy si muka datar pun tak bisa untuk memungkiri akan hal tersebut. Namun dia tetap berusaha tenang dan tak terlihat salah tingkah.


Meraih popcon yang ada di pangkuan Livy, nampaknya Sammuel sengaja melakukannya untuk menarik perhatian lawan jenisnya.


"Emang popcon lo udah habis?" Livy sengaja bertanya seperti itu agar Sammuel menghentikan aktifitas mengambilnya.


"Apa yang kamu pegang itu lebih menarik dari apa pun, jadi aku pilih popcon yang kamu bawa." Sammuel akan melakukan seribu cara agar Livy beralih pandang dari layar lebar itu.


Namun sayang, usahanya sia-sia. Tak ada tanda-tanda dari Livy untuk melirik dirinya. Jika di dalam bioskop boleh melakukan keributan, lelaki itu memilih untuk mencubit pipi Livy saking gemasnya, atau agar atensinya beralih kepadanya meskipun hanya sedetik. Namun sayang dia tak bisa melakukan hal itu, dia takut kan mengganggu konsentrasi penonton lainnya.


Dua jam sudah mereka menghabiskan waktu untuk menonton. Keduanya keluar dari gedung bioskop tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kamu mau makan apa?" tawar Sammuel mencoba mencairkan suasana.


"Enaknya makan apa ya?" Livy balik bertanya.


"Biasanya yang nentuin itu cewek kalau mereka lagi jalan bareng." finalnya yang tak ingin memutuskan sendiri.


Livy menaikan satu alisnya, mencoba memberikan jawaban yang tepat agar Sammuel tak terus menatapnya.


"Kalau makanan seafood kamu alergi nggak?'' Livy melayangkan pertanyaan yang terdengar cukup konyol, tapi tak ada salahnya juga bertanya, siapa tau Sammuel memiliki riwayat alergi terhadap makanan laut.

__ADS_1


Menggeleng pelan. "Oke seafood." Begitulah jawaban antusias yang di berikan oleh Livy.


Kali ini dia tak akan ragu-ragu untuk mengatakan hal yang melintas di dalam otaknya. Menarik pipi Livy pelan, hal ini memang yang di inginkan Sammuel sejak tadi. "Polos."


"Apa?" mengernyitkan keningnya merasa tak mengerti.


"Kita makan si polos." balasnya yang langsung merangkul pundak Livy dan membawanya pergi.


Si polos? Dia berpikir jika Livy itu polos? Sammuel tak tahu saja jika Livy sedang mengalami patah hati, dia akan bertindak bar-bar. Mungkin Sammuel akan berpikir berkali-kali untuk mengatakan hal tersebut.


"Mereka pasangan ya, cocok banget."


"Bikin iri."


"Mana pacar halu gue? Kenapa dia nggak dateng-dateng sih. Liat mereka makin baper aja ini hati gue."


"Dunia emang nggak adil. Yang cantik pasti dapetnya yang ganteng, hukum alam emang kaya gitu ya? Huhuhu menyedihkan jadi seorang jomblo."


Ucapan beberapa gadis itu membuat keduanya saling melirik, tak ada yang bersuara. Livy merasa canggung dengan perkataan mereka yang faktanya mengatakan jika mereka ini masih dalam proses pendekatan. Ya.... walaupun Sammuel sudah meyakinkan hati Livy akan keseriusannya tentang perasaan yang sesungguhnya. Namun, Sammuel tetap menghargai keinginan Livy yang meminta waktu untuk berpikir sejenak akan hatinya yang masih ragu akan 'cinta' itu, dia tak ingin tersakiti untuk kedua kalinya, seperti itu yang dikatakan oleh Livy waktu itu.


Sammuel mengarahkan ibu jarinya untuk membersikan sisa makanan yang masih menempel di sudut bibir Livy. Membuat siapa saja yang melihat tindakannya itu berteriak histeris, apalagi para 'jomblo', mereka pasti akan iri setengah mati dengan kedua orang itu.


"Ada sisa makanan di bibir kamu." tutur Sammuel yang tak lupa menampilkan senyumnya. Sammuel bukan tipe lelaki yang mengumbar senyum ke sembarang orang, Livy adalah wanita yang paling beruntung mendapatkan kesempatan langka itu.


Detik ini juga, jantung Livy ingin loncat dari tempatnya. Jika tak mengingat dirinya di juluki sebagai gadis cantik bermuka datar, mungkin dia akan melompat kegirangan karena perlakuan romantis yang di berikan oleh Sammuel.


"Thanks." ucapnya dengan keadaan tenang dan biasa saja.


"It's oke." Sepertinya Sammuel mulai mengetahui sisi lain dari seorang Livy. Gadis cantik bermuka datar dengan segala kepribadian yang masih misterius.


"Abis ini balik apa jalan lagi?" tawar Sammuel.

__ADS_1


"Kalau jalan mau kemana?"


"Terserah kamu."


"Sammuel!" Tampang datar Livy kembali terlihat, sebenarnya dia tak baik-baik saja karena debaran jantungnya terus merancu. Hanya saja dia tak ingin mendapat kesan buruk dari lelaki yang bernama Sammuel itu.


Sedangkan Sammuel bertopang dagu, memandangi Livy yang terlihat mengemaskan dengan tampang datarnya itu. "Apa calon pacar ku? Atau lebih tepatnya calon istri masa depan ku." Begitulah balasan yang Sammuel berikan.


Mata Livy membola tak kala mendengar ucapan absurd Sammuel yang entah sengaja atau tidak. Gadis itu seakan mematung, bahkan mulutnya seakan terkunci.


"Kenapa? Bukannya kita baru jalanin tahap pendekatan, nggak masalahkan kalau aku bilang kaya tadi kan, lagi pula aku udah pernah bilang keseriusan ku sama kamu waktu itu, kalau kita sama-sama cocok, nikah muda pun nggak akan jadi masalah buat kita." Sammuel semakin mengembangkan senyumnya kala Livy yang masih itu mematung itu terlihat seperti boneka barbie yang siap dikemas hanya untuk dirinya seorang.


"Dan gue nggak pernah berpikir kalau elo bakalan jadi pacar gue atau suami gue. Gue harap lo jangan terlalu kepedean dulu deh." Livy kembali menguasai dirinya. Gadis itu tak ingin terlihat konyol di hadapan Sammuel.


"Kalau gitu kita ambil langkah kedua." Lelaki itu tak ingin menyerah begitu saja, apalagi mendengar alasan sederhana dari Livy, dia tak akan menyerah begitu cepat.


"Langkah kedua? Apa maksud lo?" Mengernyitkan kening dengan mata menyipit. Sepertinya Livy benar-benar penasaran dengan jawaban yang akan di berikan Sammuel terhadap dirinya.


"Langkah kedua yang artinya kita nggak pacaran dan langsung menikah." Jelas Sammuel dengan tampang serius dan tak main-main.


Menelan saliva-nya beberapa kali. Bagi Livy, ucapan Sammuel menandakan keseriusan antara hubungan mereka.


"Kita masih terlalu muda, jangan berpikir terlalu jauh."


"Karena aku pengen buktiin kalau aku serius sama kamu." Finalnya.


menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, otak Livy mulai beroperasi kembali.  Bagaimana mungkin lelaki yang baru dia jumpai beberapa bulan yang lalu sudah membahas hal seserius ini lagi.


"Kamu udah tau semua tentang aku dari biodata yang aku kasih ke kamu waktu itu, dan aku akan coba mencari tahu tentang kamu dengan cara ku sendiri."


Livy benar-benar tak dapat mengontrol jantungnya lagi, bahakan ingin rasanya dia berteriak untuk melepaskan rasa bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2