
Setelah pulang dari menonton futsal, Livy menggelengkan kepalanya seolah semua yang mengganggu pikirannya itu akan hilang jika dia melakukan itu.
"Gue benar-benar bodoh sekarang." katanya dengan pelan karena memang tadi dia mengatai dirinya bodoh jika masih memikirkan seorang Sammuel. Dan sebuah keputusan menjadikannya terlihat bodoh, karena dia kembali untuk mencoba keberuntungan dengan pergi ke lapangan di pinggir taman.
"Gue ngelakuin ini karena gue merasa bersalah sudah mengusir Sammuel waktu itu. Iya, hanya itu!" gadis itu mulai bergumam seorang diri. Dia hanya belum bisa mengartikan tindakan yang ia lakukanĀ sekarang.
Belum pernah sekalipun dia melakukan hal bodoh seperti sekarang ini. Sampai bertemu Sammuel dua kali, ah tidak. Tiga kali jika pertemuan tadi juga di hitung.
Livy berharap, ini bukan tanda kebodohan permanen. Karena kalau sampai iya, orang tuanya pasti akan kebingungan mencarikan obat untuk penyakitnya ini.
Sampai di sana, seperti biasa. Hanya ada keheningan. Bukannya lapangan tersebut tak pernah di kunjungi oleh orang lain, hanya saja di jam seperti ini memang sudah sepi.
Duduk di tempat biasa, Livy melihat jam tangannya untuk melihat waktu. Pukul lima tiga puluh, sebentar lagi malam dan Livy masih dengan bodohnya menunggu lelaki itu dan mengharap jika dia akan datang.
__ADS_1
Untuk membunuh rasa bosannya, dia berjalan mengelilingi lapangan. Hanya berjalan, bukan berlari seperti orang lain lakukan. Setelah lelah, dia kembali duduk namun bukan di pinggir lapangan seperti sebelumnya, tapi di tengah lapangan dengan wajah menatap ke atas.
"Gue udah beneran gila gara-gara itu cowok." gumamnya lagi yang hanya di dengar oleh keheningan dan di jawab oleh hembusan angin.
Berdiri dengan lunglai, dia meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kosannya.
Sebelumnya, dia hanya akan membeli snack di minimarket untuk stok makanan, Livy memang sering menghabiskan waktu dengan mengemil untuk mengusir kejenuhannya jika di kos.
"Livy!" suara Yana lagi. "Lo kenapa? Akhir-akhir ini sering banget ngilang sih, tau nggak gue nyariin lo sampai pusing." Kata Yana dan pastinya dengan tampang cemberutnya. Kini gadis itu menatap ke arah tangan Livy. "Nyetok lo?"
Di bukanya kantong putih itu dan mengambil satu snack dari sana.
"Gue buka ya?" katanya bertanya, sekaligus untuk memberi tahu Livy jika dia mengambil satu snack itu. Hanya gumaman yang Livy berikan sebagai jawaban.
__ADS_1
"By the way, Livy,'' kata Yana sambil mengunyah kripik kentangnya. "Lo kemana aja sih, akhir-akhir ini ngilang terus?" sepertinya Yana tak akan melupakan begitu saja pertanyaan yang belum di jawab oleh Livy tadi.
Livy menunjuk kantong putih tersebut, "Ambilin minuman itu." katanya yang di sanggupi oleh Yana.
Meneguknya, kemudian menjawab. "Gue main aja. Sumpek di kos mulu. Lihatnya cuma lo lagi dan lo terus setiap harinya. Apalagi makin kesini lo makin bawel." Makinya yang di hadiahi lemparan bantal oleh Yana.
"Mulut lo pedes banget kalau ngatain orang!" seru Yana yang bernada-kan kesal.
Livy tak menyambungi ucapan sahabatnya itu, dan di memilih berbaring seraya menutup matanya.
"Ya elah. Tidur lagi!" protes Yana.
Livy diam saja tak peduli dengan gumaman Yana. Dia lelah dengan apa yang dialaminya beberapa hari ini. Bisa-bisanya dia bertindak konyol dengan mengharapkan bertemu lelaki yang hanya 'numpang lewat' saja dalam hidupnya.
__ADS_1
Apa karena dia baru saja putus? Jadi hatinya masih lemah? Astaga. Livy menyerah menghadapi semua tindakan anehnya itu. Dia tak akan menuruti hatinya yang mencoba meracuni otaknya dengan melakukan hal seperti itu lagi. Tentu saja jawabannya tidak.