
Posisinya, Livy sedang duduk di lantai dengan punggung membungkuk, lengan kiri menyanggah tubuhnya dan sebuah buku tebal berada di depannya. Tangan kirinya menggenggam sebuah penghapus, dan otaknya berkonsentrasi mengerjakan tugas. Sesekali ditegakkan tubuhnya untuk membaca buku ketika soal yang dikerjakannya ada yang tidak dia mengerti.
Kedua sahabatnya pun melakukan hal yang sama. Mereka sedang fokus dengan soal di depannya dan menemukan jawabannya. Seharusnya, mereka tak memiliki jam kuliah lagi sekarang. Tapi bagi Livy dan kedua sahabatnya, mengerjakan tugas akutansi seorang diri itu tak asyik. Jadi mereka memutuskan mengerjakan tugas tersebut di kampus, padahal masih minggu depan mengumpulkannya.
Livy benar-benar dalam mode serius kali ini, bahkan hilir mudik langkah kaki mahasiswa lain tak membuatnya melirik, apalagi menoleh.
"Ya ampun, Livy. Kalau serius begitu rasanya pengen langsung gue ajak ke KUA aja lo." godaan itu dari teman sekelasnya, yang bernama Adit. Pasalnya, gadis itu menutup bibirnya rapat tanpa mengobrol-kan sesuatu, meskipun hanya sekedar basa-basi.
"Kalau gue sih enggak." Yang lain menyahut. "Pengen gue bungkus terus gue buat parsel, gue serahin ke nyokap sambil bilang, 'Ma, ini calon menantu mu, Mama." sahut teman lainnya yang bernama Alvian. Dan yang lainnya terkikik karena lelucon garing yang mereka lontarkan satu sama lainnya, lain dengan Yana dan Dinda yang melihat kelakuan absurd teman-teman sekelasnya yang memang cukup menghibur bagi mereka.
Tapi sayang, Livy tak bereaksi. Memang begitulah teman-teman lelakinya. Meskipun Livy jutek, tapi bagi mereka gadis itu asyik diajak berteman.
"Mumpung Livy sekarang lagi jomblo, pepet aja lah, entar takutnya di comot lagi sama beruang tetangga sebelah." Celetuk Alvian disertai kikikan.
Satu sentakan sebuah sepatu melayang ke arah mereka yang memang hanya berjarak sekitar lima meter dari Livy dan kedua sahabatnya duduk.
"Berisik lo pada!" Begitu kata Livy dengan mata memicing. Tapi, bukannya takut mereka malah berteriak dan semakin ngakak.
"Kita berhasil bangunin Livy, Vin." Timpal Adit merasa puas.
__ADS_1
Kemudian suara sorakan kembali terdengar. Livy berdecak karena hal itu. Banyak yang segan dengan Livy karena sikapnya yang terlalu jutek. Tapi bagi mereka, Livy itu terlihat cute dengan wajah datarnya.
Tak mempedulikan sepatunya yang masih berada di tangan teman-temanya, dia kembali mengerjakan tugasnya, dia tak ingin hanya karena gangguan-gangguan dari mereka, tugasnya tak selesai-selesai.
"Vi, ni sepatu lo mau gue lempar balik, atau gue bawa pulang biar lo jadi cinderella, gue?" Suara bising itu kembali terdengar namun kali ini Rama yang memulai berceloteh-nya. Lelaki itu memasukkan telunjuknya ke dalam sepatu dan memutar-mutar alas kaki sepatu Livy seolah mencubit.
"Gue bisa gila kalau kaya ini terus." gumamnya yang mampu di dengar oleh Yana dan Dinda. "Mending kita ngerjain dimana gitu kek, yang nggak ada perusuh-nya kaya mereka." katanya melanjutkan ucapannya.
"Kos?" Yana bersuara sekaligus memberi usulan.
Livy mengangguk setuju dan segera membereskan buku dan alat tulis yang masih berserakan. Diikuti kedua sahabatnya.
Sebelum berlalu dari sana, dijambaknya rambut dari tiga lelaki itu secara bergantian, dan di tendangnya lutut mereka, baru lah dia pergi dari sana. Gadis itu tidak mempedulikan ringisan yang keluar dari bibir mereka.
"Perusuh." katanya sambil berjalan di ikuti kedua sahabatnya.
Ketiganya kembali ke kos dan melanjutkan mengerjakan tugasnya di sana. Tidak sedikit waktu yang mereka habiskan untuk mengerjakan satu tugas. Akutansi memang seperti sifat gadis, terkadang sulit untuk di mengerti.
"Selesai!" Livy melemparkan pensilnya pelan, karena tugas sudah berhasil dia kerjakan. Dosen akutansi-nya memang sedikit killer.
__ADS_1
Dalam mengerjakan tugas tak boleh ada coretan, karena itu mereka selalu menggunakan pensil setiap mengerjakan tugas, soal harus berbeda dengan teman satu kelasnya. Jadi, mereka memilih untuk mengundi-nya di dalam kelas, dan soal mana yang akan mereka dapatkan. Bahkan tak urung, ada yang berteriak kesal karena soal itu terlalu panjang dan berbelit. Membuat frustasi otak saja.
"Din, nginep sini aja udah," tawar Yana. Rumah Dinda memang tak terlalu jauh dari kampus, hanya butuh waktu lima belas menit saja. Karena itu, diantara mereka bertiga hanya Dinda yang tidak tinggal di rumah kos.
"Mau sebenernya, tapi nyokap nggak bakalan kasih izin." balas Dinda dengan raut wajah yang terlihat sedikit kecewa.
Menurut Dinda, dia tetap harus pulang meskipun itu sudah malam, dengan catatan memang benar-benar mengerjakan tugas.
"Kalian nggak pulang?" tanya Dinda kepada kedua sahabatnya itu.
Livy menggeleng dengan cepat. "Malas gue di jalan." katanya mengeluh.
"Elah, tinggal duduk manis di mobil aja, pakai ngeluh." sambung Yana.
"Justru itu. Malas aja jadinya." Gadis itu mulai membayangkan betapa macetnya jalan jika dia benar-benar pulang ke rumah. Padahal, di daerah kampusnya juga sering sekali macet, tapi dia menikmati saja kemacetan itu.
"Kebanyakaan alasan emang lo ya." Tunjuk Yana dengan bibir terangkat sedikit.
Kedikan bahu di berikan Livy yang membuat Yana semakin mengomel seperti kumbang tentunya.
__ADS_1