
Sore ini Sammuel terlihat sedang mendribel bolanya, lelaki itu beberapa kali memasukan bola ke dalam ring. Livy, tentu saja duduk manis di pinggir lapangan sambil mengamati setiap gerakan yang di lakukan oleh kekasihnya itu. Dengan bertopang dagu dan bola mata yang lari kesana-kesini, gadis itu tak sedikit pun mengalihkan atensinya dari sana.
"Semangat Boo," kata Livy sedikit berteriak.
Sammuel hanya tersenyum tipis dan menggiring bolanya hingga ke pinggir lapangan, duduk di sebalah Livy dengan keringat bercucuran. "Capek Bee." ucapnya yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu gadis tersebut.
Mata Livy melebar saat mengetahui jika kaosnya tengah di jadikan lap oleh kekasihnya itu. "Boo, kamu jorok banget. Itu kan ada handuk, kenapa di lapin ke baju aku sih." Protesnya dengan tangan yang mencoba menjauhkan kepala Sammuel dari bahunya.
"Pelit," gumamnya.
"Jorok.'' ejeknya dengan bibir mengrucut.
"Biar pun aku jorok, nyatanya kamu suka." katanya yang tak kalah mencibir.
Livy hanya geleng-geleng kepala, namun tetap saja tangannya aktif mengelap keringat yang menetes di dahi lelaki tersebut. "Hari ini kamu juga nggak Bee?"
Sammuel menjawab pertanyaan Livy dengan anggukan, "Karena kamu juga nggak pulang, makanya aku juga nggak pulang."
__ADS_1
Mencolek lengan Sammuel, Livy nampak kepedean dengan ucapan lelaki tersebut. "Bilang aja, takut kalau aku di apelin sama Fajar.''
Memutar bola matanya malas. Hanya tatapan tajam yang Sammuel berikan, lelaki itu tak bersuara. Sedangkan tangan Livy dengan cepat meraup wajah Sammuel pelan. "Astaga Boo, bisa nggak kalau kamu nggak ngeliatin aku kaya gini."
"Nggak bisa." masih dengan ekspresi yang sama.
Mengernyitkan keningnya. "Astaga Boo. Kamu tuh serem banget kalau pasang muka serius kaya gini." protes Livy dengan atensi yang tak beralih dari wajah Sammuel.
"Ish, perasaan jadi dataran kamu deh Boo daripada aku." cicitnya yang masih tak mendapat respon dari lelaki tersebut. Menolak mempedulikan ucapan kekasihnya, Sammuel menaikan sebelah alisnya. Nampaknya gadis itu harus mencium parfum alami terlebih dahulu agar bisa diam. Tanpa menunggu Livy menghentikan ucapannya Sammuel langsung menarik kepala gadis itu dan memitingnya. Namun dugaan Sammuel salah, bukan rajukan yang di dengarnya, justru pujian lah yang Livy lontarkan.
Sammuel membuka mulutnya cukup lebar, lelaki itu melongo mendengarkan perkataan Livy, bahkan tingkah gadis itu membuatnya geleng-gelang. ''Astaga Bee, titisan darimana kamu itu? Ini keringet aku bau."
"Titisan dari Tuhan buat kamu Boo.'' balas Livy nyengir kuda.
"Capek Bee debat sama kamu. Bikin lapar dan rasanya pengen makan terus." Sammuel beranjak dari tempat duduknya, di ikuti Livy yang masih setia di bawah ketiaknya.
"Cewek aneh," gumamnya.
__ADS_1
"Aku denger loh Boo. Lagian cewek aneh ini sempat kamu kejar loh, dulu." ledeknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Hem..."
"Kenapa?"
"Nggak ada."
"Bohong banget."
"Ya udah tau bohong masih nanya."
"Boo, kenapa kamu jadi ikutan ngeselin, sih."
"Ya kan biar adil, jadi sama-sama ngeselin biar afdol." seringaian diperlihatan Sammuel untuk menggoda gadis yang masih setia di bawah ketiaknya itu.
Sedangkan Livy mengerucutkan bibirnya, merasa Sammuel benar-benar lelaki menyebalka dengan kapasitas tanpa batas yang memiliki level dewa. Berbanding terbalik dengan Sammuel yang berpikir jika Livy berprilaku-an absurd seperti ini membuatnya ingin mencubit bibir gadis itu sekarang juga.
__ADS_1