
Kali ini mereka bertiga sedang asyik duduk untuk menyaksikan pertandingan futsal. "Gue suka banget kalau ada pertandingan futsal kaya gini." Yana dan Dinda sepertinya benar-benar semangat untuk menonton pertandingan persahabatan antara kampusnya dan kampus lain.
Mereka sedang berjalan untuk datang menonton yang memang di adakan di kampus mereka. "Kali aja dapet pacar di sana kan?" Dinda terkikis geli dengan pemikiran absurd dari Yana.
"Kelamaan jomblo begitu, tuh!" tanggap Livy membuat Yana mencibir.
"Kita sama-sama jomblo ya sekarang, jadi level kita sama." Begitu katanya, dan hanya di balas kedikan bahu oleh Livy.
Suara sorakan membuat gemuruh seisi gedung. Suporter dari kedua kampus yang mendukung almamater mereka memenuhi ruangan, meskipun hanya pertandingan persahabatan. Tapi mereka begitu antusias untuk mendukung mahasiswa dari kampus mereka masing-masing.
"Wah, ganteng-ganteng juga ya cowoknya." komentar Dinda ketika melihat pemain yang sedang merebutkan satu bola untuk di masukkan ke dalam gawang lawan.
Yana mengangguk semangat. "Iya, mereka keren semua." jawabnya dengan antusias. Teriakannya bahkan semakin nyaring meskipun pemain dari kampusnya kebobolan.
__ADS_1
Lirikan sinis di berikan oleh suporter lain namun tak di pedulikannya. Bagi Yana, yang penting hatinya senang, sudah cukup. Bahkan senyumnya lebar sekali sepanjang menonton pertandingan di depannya.
Suara peluit menandakan jika pertandingan akan berhenti karena istirahat. Semua pemain menuju ke tempat mereka masing-masing untuk menenggak minumannya. Keringat yang keluar dari kulit mereka menandakan sekeras apa usaha mereka dalam mencoba untuk menang.
"Gue beli minuman dulu ya," pamit Livy kepada kedua temannya. "Titip nggak?" tawarnya.
"Nggak deh, minuman gue masih." Dinda menjawab, sembari mengangkat botol yang isinya masih setengah.
"Gue juga enggak. Entar minta punya lo aja." balas Yana santai dan Livy hanya menggeleng karena memang begitulah sahabatnya yang satu itu.
Kaki Livy melangkah untuk mendekat, sebelum mobil tersebut berjalan. Sayangnya benar, ketika dia hampir sampai, mobil itu berjalan dan yang ada di kursi penumpang memang benar Sammuel. Lelaki itu juga menatapnya, hanya menatap. Tanpa tersenyum apalagi menyapa.
Beruntung kaca mobil tersebut memang bukan kaca gelap. Jadi dia bisa melihat dengan jelas wajah Sammuel di sana.
__ADS_1
Livy berdecak. "Gue bodoh, kalau bersedih hanya karena ini." gumamnya. Kemudian kembali ke dalam gedung untuk melanjutkan menonton pertandingan.
Sesampainya didalam, Livy hanya terdiam, dalam pikirannya apa yang di lakukan Sammuel di kampusnya. Namun pikiran lain muncul, mungkin saja memang Sammuel kuliah di sana juga kan? Hanya beda jurusan. Toh, jurusan di kampusnya juga banyak.
Melihat Livy yang tak begitu antusias saat melihat pertandingan membuat Yana langsung menggodanya. "Lo kenapa diem-diem bae sih, Vi?' tanyanya dengan sikut menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Livy kan emang kaya gitu kalau udah nggak mood." sambung Dinda yang sedikit melirik ke arah kedua sahabatnya itu.
Mendengar hal itu, Livy tak menjawab dan justru terlihat semakin datar saja mukanya.
"Tuh kan gue bilang juga apa, Livy kalau udah di mode kaya gitu nyebelinnya udah kebangetan." Cibir Dinda dengan bibir mengerucut.
Menghela napasnya. "Kalian ke sini buat nonton futsal kan? Ngapain kalian jadi ngeliatin gue, udah abain gue fokus ke pertandingan." perintah Livy yang hanya di balas dengusan oleh kedua gadis itu.
__ADS_1
Entahlah, melihat Sammuel tadi rasanya pikiran dan hati Livy tak baik-baik saja.