Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 15 Mulai Dekat


__ADS_3

Sammuel sudah duduk di saung dan menunggu Livy untuk keluar dari kandangnya. Lelaki itu berharap akan ada perubahan sikap dari gadis itu setelah membaca biodata tentang dirinya.


"Udah lama?" Suara Livy yang terdengar mulai menghampiri tempat duduknya. Sammuel mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk.


"Enggak, baru aja aku dateng. Gimana, kamu udah siap buat temanin aku main basket." Begitu katanya.


Livy hanya menjawabnya dengan anggukan. Setelah Sammuel berdiri, mereka berjalan beriringan untuk menuju lapangan yang sering mereka datangi.


Sampai di taman dekat kampus. "Kamu nggak mau ikut main?'' Katanya bertanya. Lelaki itu menaruh tasnya beserta bola ke samping kiri tempatnya mendudukkan diri.


"Sebenernya pengen sih, cuma gue nggak bisa. Kalau ngelawan elo pasti gue kalah." Begitu katanya, Livy nampak tak yakin dengan ucapannya itu.


Menarik pelan pergelangan tangan gadis itu, dan menuntunnya menuju lapangan. "Biar aku yang ajarin kamu, cara bermain yang benar."


Menaikkan satu alisnya, dengan atensi tak beralih dari Sammuel.


"Cara pegang bolanya seperti ini." Ucapnya mempraktekkan dengan sedikit mendribel bola itu lalu memasukkannya kedalam ring.


"Mudah kan."


Livy menggigit bibir bawahnya, nampaknya dia tak yakin kalau bisa melakukan apa yang telah Sammuel praktikan tadi. Namun dia tetap mengangguk kecil. Memberikan bola tersebut kepada Livy, kali ini lelaki itu hanya memperhatikan permainan Livy, yang terlihat kaku. Mendekat, seraya membantu memegang bola tersebut dengan benar. Ini kali pertamanya Sammuel memegang tangan putih mulus itu.


"Cara pegang-nya begini, kamu harus fokus sama ring-nya dan yakin kalau bola yang kamu pegang ini bisa masuk kedalam." Bisik lelaki tersebut.


Sammuel merasakan debaran jantungnya mulai tak karuan, saat jaraknya dengan Livy terbilang hanya sebatas lima inci. Lain halnya dengan Livy yang masih menampakkan wajah datarnya dan terlihat biasa saja. Dasar batu si Livy ini memang. Gila lari maraton aja kalah kalau kaya gini caranya. batin Sammuel yang memang tak bisa memungkiri jika dirinya merasakan kegugupan yang luar biasa.


Livy memutar lehernya, gadis itu menatap aneh tingkah Sammuel bahakan tangannya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.


"Lo sakit?" Kata Livy bertanya.

__ADS_1


Sammuel masih terdiam dengan atensi menatap hangat ke arah Livy, hembusan angin begitu terasa hangat saat menerpa wajahnya.


"Sammuel?''


Lelaki itu masih terdiam dengan atensi lurus menatap Livy. Sedangkan yang di tatap justru menghela napas pelan, meraup wajah Sammuel agar lelaki itu sadar dari lamunannya.


"Sammuel Devaro Gezio!" Livy meninggikan nada suaranya dengan memanggil nama lengkap lelaki tersebut.


Sammuel mengedipkan matanya beberapa kali, mengumpulkan separuh raganya yang masih melayang ke negri awan. "A...anu, maaf," ucapnya sedikit terbata.


"Hem." Memutar tubuhnya dan sedikit menjaga jarak dengan Sammuel.


"Sorry, aku nggak fokus."


"Elo sakit?'' Livy kembali bertanya. Gadis itu masih penasaran, kenapa Sammuel sedikit aneh kali ini.


Melebarkan matanya dengan senyum mengembang di sana. "Kamu tadi panggil nama lengkap aku?'' Sammuel justru tak respek dengan ucapan Livy dan membahas hal yang tak terlalu penting menurutnya.


Mencoba memulihkan kesadarannya, Sammuel langsung manarik lengan Livy yang masih berjarak dengannya.


"Tunggu, aku minta maaf." Begitu katanya, Sammuel mencoba untuk meredakan kekesalan Livy terhadap dirinya.


Hening tercipta sesaat karena Livy tak kunjung membuka suaranya. Menatap malas ke arah Sammuel dengan bibir masih tertutup rapat.


"Maaf, Vi." Katanya sekali lagi.


"Terserah, gue mau pulang." Hati Livy nampaknya belum melunak dengan permintaan maaf yang Sammuel lontarkan.


"Tapi kita baru seperempat main, ayolah Vi, jangan ngambek.'' Sammuel masih mencoba untuk menjinakkan si kepala batu itu.

__ADS_1


"Tapi gue nggak mau main sama kebo yang sukanya melamun! Karena waktu gue terbuang dengan percuma." Perkataan itu mungkin terdengar menyakitkan jika terdengar di telinga orang lain, namun tidak bagi Sammuel yang justru memandang Livy begitu imut dengan tingkahnya saat ini.


"Bisa lepasin tangan lo dari lengan gue nggak?'' Begitulah kata selanjutnya yang keluar dari bibir mungil itu.


Menarik sudut bibirnya, dengan tangan mengacak pelan rambut berwarna coklat milik gadis yang sekarang ada di depannya itu. "Kamu kelihatan imut kalau lagi ngambek kaya gini." Itu bukan pujian tapi sebuah kata dengan naluri hati yang bicara.


"Dih aneh, tampang gue udah se-datar ini. Tapi lo masih anggap gue imut. Kayaknya lo beneran nggak sehat deh, Sam." Livy mencoba mencicit Sammuel dan ingin tahu reaksi yang di berikan lelaki itu dengan tingkahnya saat ini.


"Ya, aku memang aneh semenjak kenal sama kamu. Baru dua hari kita bertemu dan aku udah bilang suka. Pesona kamu yang bikin aku jadi aneh. Kayaknya aku harus kasih julukan ke kamu, Livy si pemikat hati Sammuel." Sammuel mencoba mengingatkan Livy tentang beberapa minggu yang lalu, dimana lelaki itu mengutarakan perasaannya terhadap Livy, namun tak bisa di pungkiri jika Sammuel telah terpikat oleh gadis cantik yang sekarang menghadap ke arahnya itu.


Membuang muka, dan bersikap tak acuh. Sebenarnya otak Livy mulai berkelana saat mengingat ucapan Sammuel beberapa waktu yang lalu.


"Livy." Sammuel memanggil dengan nada rendah, berharap kali ini Livy akan meresponnya.


Kini giliran Livy yang terlihat melamun. Hingga satu tepukan mendarat tepat di bahu gadis itu. Membuat sang pemilik harus rela mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Rese lo!" kata-kata itu lolos dari bibir Livy. Wajahnya terlihat gugup namun tetap datar.


Bukannya takut, Sammuel justru terkekeh melihat hal tersebut. Sungguh gadis yang unik dan mengemaskan, Pikirnya.


"Untung gue nggak punya riwayat penyakit jantung, kalau punya lo jadi tersangka saat ini juga."


"Maaf, habisnya kamu lucu." godanya lagi.


''Gue bukan badut, jadi darimana lucunya?" Livy melipat kedua tangannya dan melipatnya di depan dada.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan atensi masih menatap ke arah Livy, "Bukan itu yang aku maksud."


"Terus maksud lo?" Menyelidik dengan kening berkerut, Livy tak ingin kalah dengan lelaki yang satu ini.

__ADS_1


"Kamu janji mau nonton bioskop sama aku lain waktu, dan besok aku ajak kamu nonton." Finalnya. Livy menelan saliva-nya Benar-benar Sammuel ini selalu saja mengalihkan topik pembicaraan awal. "Kalau untuk sekarang aku lapar, ayo kita makan." Imbuhnya seraya menarik pergelangan tangan Livy dan menuju warung tempat langganan lelaki tersebut. Livy hanya mengekor tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Apa mungkin otaknya mulai berpikir jika Sammuel menyogoknya dengan makanan. Entahlah, yang pasti Livy hanya menurut saja.


__ADS_2