Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 23 Ratu Lebah


__ADS_3

Di dalam kelas. Yana sudah bersiap-siap untuk mengintrogasi Livy. Tentu saja, dia mengajak Dinda untuk mendapatkan teman ketika akan melakukan tindakannya itu.


"Anjay. Sumpah ya, gue iri banget sama Livy. Mana main cium-cium segala Sammuel-nya, gue kan juga pengen." ujar Yana saat sudah duduk di sebelah Livy.


Livy yang mendengar ucapan ngawur Yana segera membungkam mulut sahabatnya yang tak beraturan itu, herdik matanya terlihat tajam saat menatap ke arah Yana.


"Ngapain lo tutup mulutnya si Yana, sih, Vy? Entar kalau dia nggak bisa napas terus mati gimana? Lagian biarin aja dia cerita tentang apa yang dia lihat kemarin sore," kata Dinda yang mencoba membantu melepaskan tangan


Livy dari mulut Yana.


Merasa mendapat pembelaan dari Dinda, Yana terlihat manggut-manggut.


"Vy, lepasin ya. Gue takut aja kalau tangan lo sakit, dia kan ratu kumbang. Entar tangan lo bengkak karena disengat sama Yana." imbuh Dinda.


Perlahan Livy melepaskan tangannya dari sana, bahkan kekehan kecil keluar dari mulut bibirnya, terlihat sekali wajah ayunya ketika tertawa seperti itu. Memukul lengan Dinda pelan. Yana mendengus saat Dinda dengan sok taunya memutuskan ucapannya itu.


"Lo tuh ya sok tau banget. Padahal gue nggak pernah ngatain elo kaya kumbang, tapi lo malah ngatain gue kaya gitu."Kesal Yana dengan wajah tertekuk.


Kedua gadis itu bukannya simpati malah tertawa bebas. "Tapi emang nyatanya gitu kan, Vy." Dinda menyenggol lengan Livy dengan menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Iya, Yana kalau udah di kos, udah kaya Ratu lebah tanpa madu, ngoceh mulu sampai kuping gue sakit."


"Woi, topiknya kenapa jadi ke gue semua, sih. Harusnya ke Livy lah!" Protes Yana yang langsung menunjuk Livy dengan jari telunjuknya.


Helaan napas mulai kelar dari mulut gadis itu. "Gue kenapa?" tanyanya dengan wajah menantang.


"Ceritain ke kita, kalian jadian kapan?" desak Dinda yang nampaknya kembali penasaran dengan topik semula.


Mengusap leher bagian belakangnya. "Perasaan gue nggak pernah cerita kalau gue udah jadian sama Sammuel?" Livy mengernyitkan keningnya.


"Itu si Yana ngintip elo kemarin, dia kan keponya kebangetan. Kata dia, lagi asyik nonton drama korea, eh si ceweknya malah laper. Dia kecewa parah lah." tutur Dinda mendramatisir.


"Gue sumpahin mata lo bintilan biar nggak bisa ngitipin atau nguping lagi."


Yana memerengut, memelaskan wajahnya semelas mungkin. "Vy, jangan gitu dong. Tega amat sih lo sama sahabat sendiri."


"Biar lo nggak hobi, ngintip orang." ketusnya.


"Dinda. Rese lo, mulut lo ember banget."

__ADS_1


"Nggak jauh beda 'kan sama elo.Kita sama-sama ember loh ya."


Yana mengerang, tapi tak bisa berbuat apa-apa, nyatanya yang di bilang Dinda memang sebuah kebenaran.


Dinda menggeleng pelan, dengan atensi menatap kembali ke arah Livy. "Kenapa lo bisa jadian sama dia? Kasih tau ke kita!" perintah Dinda yang nampak tak sabar lagi.


Livy kembali mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk. Raut wajahnya terlihat semakin masam.


"Ganti topik lain aja lah gue nggak minat bahas hal itu. Karena itu privasi gue, kalau mau minta pajak jadian. Besok gue bakalan traktir kalian deh."


Kedua gadis itu sepertinya tak puas dengan jawaban Livy yang justru tak ingin terbuka itu.


"Iya deh, nggak papa kalau elo nggak mau cerita, yang penting kita dapet traktiran." Yana nyengir tanpa dosa.


Saat mulut lebah Yana akan terbuka lagi. Livy langsung melayangkan jari telunjuknya ke arah kening sahabatnya itu. "Pikiran lo cuma makan mulu. Nggak takut gendut apa itu badan!"


Mengerucutkan bibirnya dengan telapak tangan mengusap keningnya pelan. "Kenapa gue selalu jadi bahan bullyan kalian sih.'' rajuk Yana dengan kaki menghentak.


"Karena lo ratu lebah, jadi pantes di bully." Kompak Livy dan Dinda, mereka tak peduli dengan rajukan Yana yang terlihat memalukan itu. Hingga seorang dosan, memasuki kelas dan menghentikan tawa kedua gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2