Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 20 Kembali Bertemu


__ADS_3

Beberapa bulan terakhir ini Livy sedikit gelisah, mengingat jika Sammuel akan pergi untuk sementara waktu dan mengurus hal penting lainnya. Dan entah kapan mereka akan kembali bertemu, lelaki itu tak bisa memastikannya. Yang pasti, Livy sangat kehilangan sosok lelaki yang selalu bisa membuat hatinya itu tenang. Bayangan wajah Sammuel selalu terbayang saat gadis itu akan memejamkan matanya.


'Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti dan masih sama-sama sendiri, aku menganggap jika itu adalah kode Tuhan untuk kita bersama Livy'


Livy tiba-tiba terbangun ketika ucapan Sammuel kala itu menelusup masuk ke dalam mimpinya. Lima bulan sudah keduanya tidak bertemu. Cinta yang Livy miliki untuk lelaki itu masih melekat erat di dalam hatinya.


Kehidupannya masih berjalan normal seperti biasa. Awalnya, gadis itu memang merasa galau dan begitu merindukan sosok Sammuel. Tapi apa daya, dia tak tahu harus menemui lelaki itu dimana karena memang Sammuel tak mengatakan akan pergi kemana saat itu, di tambah Sammuel memang pernah menghilang beberapa minggu waktu mereka belum menganal satu sama lain. Namun, kali ini situasinya terbilang berbeda dari sebelumnya, karena lelaki itu pamit tapi tak memberinya kabar sama sekali.


Sosial medianya pun seolah kosong dari informasi. Lelaki itu tak pernah sekalipun memamerkan wajah tampannya disana. Bisa saja, Livy mencari tahu dimana alamat rumah lelaki itu dari kampus tempat Sammuel berkuliah, tapi ucapan Sammuel yang terakhir kali membuat dirinya menghentikan hal tersebut.


Ya, dia juga berusaha untuk menguatkan kisah cintanya dengan takdir Tuha. Jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, maka  mereka akan bertemu dengan status yang masih sama. Yaitu sama-sama masih single.


Dan hal yang membuat Livy tak tenang adalah, bagaimana jika sebaliknya. Takdir mempertemukan mereka, namun dengan keadaan Sammuel yang sudah memiliki pasangan? Sanggupkah Livy menyaksikan itu dengan hati yang lapang, selapang lapangan sepak bola?Livy kira tidak. Namun itu adalah kesalahan yang di perbuat olehnya, terus mengulur waktu dan terus meyakinkan dirinya jika Sammuel memang yang terbaik untuknya, dan bodohnya dia, kenapa dia tak menerima pernyataan cinta Sammuel waktu itu padahal hatinya sudah bergerak dan yakin dengan keseriusan lelaki itu.


Dia juga yakin, jika detik ini juga dia akan berlari sambil menangis, menghapus wajah datarnya untuk seseorang yang mungkin saja berarti di dalam hidupnya itu.


"Sayang." sang Mama datang ke dalam kamarnya. Gadis itu masih memainkan ponselnya dan hanya bergumam menjawab panggilan beliau tanpa bersusah payah melirik.


"Bangun ih, anak perawan kok jam segini belum bagun. Udah sore. Mandi sana!" Perintah beliau yang kini menarik selimut tebal yang menutupi bagian kaki Livy.


"Lagi mens ini Ma. Nggak punya tanggungan, jadi ngapain rajin-rajin." katanya sambil melirik sang Mama agar duduk dan dia bisa meletakkan kepalanya di pangkuan beliau. Mendengar hal itu Sena langsung mengelus kepala putrinya itu dengan rasa sayang. Livy terlalu di manja oleh orang-orang di sekelilingnya, apalagi kakek neneknya. Meskipun begitu, Sena selalu mendidik gadis itu dengan sangat baik dan tentunya dengan segala aturan yang ada.


"Meskipun nggak ada tanggungan, nggak baik ah kalau males-malesan. Lagian, kita nanti dapet undangan makan malam dari para pengusaha, mereka akan berkumpul di restorant. Dan kamu harus ikut." jelas Sena.


Livy menghela napasnya lelah. Dia malas sebetulnya untuk menghadiri acara-acara semacam itu, karena dia selalu berpikir jika dia ikut suasananya akan terlihat 'membosankan'


Bahkan hal yang paling membuat dia semakin jenuh ketika dari mereka memamerkan apa yang di milikinya. Mereka punya ini, mereka punya itu, dan semua itu membuat Livy sebal setengah mati.

__ADS_1


"Boleh nggak Ma. Kalau aku nggak ikut aja. Bosen lah di sana itu." Dia memang tak selalu ikut menghadiri undangan yang di berikan. Tapi, gelengan sang Mama menentukan keputusan mutlak.


"Kamu kan udan nggak ngapa-ngapain di rumah, udah nggak belajar juga. Nggak papa lah kalau ikut, siapa tahu ada yang menarik. Hitung-hitung bersosialisasi dengan rekan kerja Papa mu." Livy memang sedang menikmati liburan kuliahnya. Dia hanya perlu mempersiapkan diri untuk menenangkan pikirannya dari lelaki yang bernama Sammuel itu, kepergiannya kali ini membuatnya sedikit galau.


"Livy." Panggilan sang Mama menyadarkannya dari lamunan. "Siap-siap gih. Kita akan berangkat jam setengah tujuh." Dan ketika ibunya sudah keluar dari kamar miliknya, hembusan napas sebal dia keluarkan berkali-kali. Membayangkan akan sebosan apa dia nanti di sana, membuat hati dan pikirannya sudah malas terlebih dahulu. Lebih baik dia melakukan apapun di rumah yang penting tidak terjebak dengan orang-orang yang terkadang tak jarang dari mereka hanya untuk mencari muka saja di depan sang Papa.


Dua jam berlalu dan Livy sudah terjebak di pesta membosankan ini. Dia terlihat cantik dengan dress selutut dan sepatu berhak tingginya. Pamit dengan sang Mama, dia berjalan untuk menyingkir sebentar dari sana. Untung saja kali ini, si pembuat acara memilih restoran outdoor. Jadi tak perlu susah-susah untuk mencari tempat menyendiri.


''Gue udah sangka kalau kaya gini jadinya. Membosankan, bener-bener nggak ada yang spesial." Kesal Livy dengan ekspresi datar kemudian duduk di sebuah kursi paling ujung, gadis itu mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.


"Mama nggak pernah percaya kalau di bilangin. Gue pasti bosen duluan kalau kaya gini." Hembusan napas lelah itu kembali dia keluarkan. Belum juga dia duduk lama di sana, ponselnya sudah berdering dengan nama 'Papa Ganteng' di sana.


"Papa pasti nyuruh gue balik deh."  begitu katanya sebelum mengangkat panggilan di ponselnya.


"Ya, Pa. Ada apa? Bosen Papa. Iya, iya. Aku ke sana sekarang." Meskipun dengan wajah tertekuk sebal, tapi dia tetap menuruti Papanya untuk kembali ke tempat membosankan itu.


Mengatur napasnya, Livy berusaha sesantai mungkin dan segera mencari keberadaan orang tuanya di antara banyaknya orang di sana.


Meskipun sedikit kesulitan, akhirnya dia dapat menemukan kedua orang tuanya, mereka sedang berdiri di depan sana sambil mengobrol dengan sebuah keluarga. Mempercepat langkahnya, Livy memanggil sang Papa.


''Papa kenapa panggil aku?" begitu tanyanya kepada sang Papa. Radit tersenyum dan menarik tangan putrinya itu pelan.


"Livy. Kenalin."


Livy langsung menghadap orang-orang yang akan Papanya kenalkan kepadanya. Menyiapkan senyumnya agar tak terlihat datar karena acara menyendiri-nya sudah di ganggu.


Namun, detik itu juga matanya membulat karena ada Sammuel di sana. Lelaki yang dirindukannya selama ini. Lelaki yang membisikkan kalimat menyejukkan hatinya yang sampai sekarang masih di ingatnya. Dan, lelaki itu juga menatapnya dengan ekspresi terkejut yang berusaha ditutupinya.

__ADS_1


"Ini keluarga Om Rusdi." Suara Papanya menyadarkannya dari keterkejutan.


Astaga, kenapa dia semakin ganteng aja. Ya Tuhan... Jeritnya dalam hati. Melihat Sammuel dengan pakaian formalnya lengkap dengan dasi, benar-benar 'lezat' di mata Livy.


Tapi tunggu dulu, Livy harus menyelesaikan acara perkenalan ini dengan pasangan paruh baya di depannya itu.


"Saya Livy Om." katanya memperkenalkan diri. Ketika melihat Rusdi, sekarang Livy tahu dari mana bibit ketampanan Sammuel berasal.


Pantes Sammuel ganteng, Bapaknya aja ganteng gitu. Begitulah pikir Livy.


Kemudian beralih kesamping Rusdi, dimana sang Istri lelaki itu berada dan mengatakan kalimat yang sama. Saat ini giliran Livh akan berjabat tangan dengan Sammuel, tiba-tiba saja tangannya merasakan dingin. Rindu itu tiba-tiba memuncah seperti semburan lahar gunung, terasa tak terbendung.


"Livy, kuliah di mana?'' pertanyaan khas ibu-ibu.


"Saya, kuliah di Universitas Abadi tante." sahutnya dengan senyum mengembang.


"Wah, berarti kampus kamu deket ya sama kampusnya Sammuel. Kalian pasti juga udah saling kenal kan, soalnya Mama sama Papa kamu udah cerita kalau Sammuel udah pernah main ke rumah kalian." Revy memeluk lengan Sammuek yang tepat berada di sebelahnya itu.


"Sayangnya beberapa bulan ini Sammuel harus cuti kuliah, karena ada urusan mendadak." imbuh Revy di akhir ucapannya.


Livy hanya mengangguk kecil, senyumnya terlihat tipis sekali. Entah sudah berapa banyak Revy bertanya, yang pastinya sudah tak terhitung.


"Kamu ngobrol gih sama Bang Sammuel. Biar makin deket."


Tanpa menunggu lama, Sammuel langsung meraih pergelangan tangan Livy.


"Ikut aku sekarang." perintahnya bossy. Tanpa di minta dua kali, Livy langsung berjalan di belakang lelaki itu tanpa beban.

__ADS_1


__ADS_2