Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 21 Boo And Bee


__ADS_3

Sampai di tempat yang jauh dari keramaian, mereka memilih duduk di sebuah bangku. Keduanya sama-sama menatap ke depan, masih belum mengawali percakapan. Livy berusaha menekan gemuruh jantungnya agar suara detak jantungnya tak sampai di telinga Smmuel. Apalagi situasi ini, mengingatkan ketika mereka masih saling bertemu.


"Kita kembali di pertemukan oleh takdir." suara Sammuel terdengar. "Tapi entah tadir yang seperti apa yang Tuhan akan tunjukan untuk kita."


Livy menelan saliva-nya, kegugupan mulai menerpa. Menebak-nebak kalimat lanjutan yang akan Sammuel lontarkan. "Aku nggak tahu apakah pertemuan ini adalah takdir untuk memulai ataukah takdir untuk mengakhiri. Dan aku juga pernah bilang, jika kita di pertemukan kembali. Maka itu adalah sebuah kode Tuhan untuk kita bersama. Tapi aku nggak mau terlalu terburu-buru untuk memecahkan kode ini dan membuat kekacauan. Karena bisa saja, kamu sudah memiliki seseorang yang di sebut pacar."


"Enggak." Livy menggelengkan kepala cepat karena Sammuel mengatakan kemungkinan yang diduganya.


"Enggak?" tanya Sammuel memastikan.


"Iya. Aku nggak punya pacar atau sejenisnya." Livy mantap mengatakan hal itu karena memang itulah kenyataannya.


Mengangguk, Sammuel kembali melanjutkan ucapannya. "Jika memang kamu masih sendiri, ayo kita menjalin sebuah hubungan yang mereka sebut, relationship."


Ini bukan kali pertamanya Sammuel mengatakan hal tersebut namun entah mengapa perkataan itu mampu membuat jantung Livy seakan meledak sepeti kembang api tak kasat mata yang tersimpan dalam diri Livy. Ke terus terangan yang Sammuel katakan membuat Livy sesak karena kebahagiaan.


Jika situasi ini, Livy ibaratkan sebuah buku, maka buku tersebut tak memiliki sinopsis ataupun deskripsi langsung pada inti masalah. Lelaki itu terlalu gampang mengatakan apa yang dipikirkan, tanpa lebih dulu meminta Livy menerka-nerka atau sedikit membuat teka-teki agar Livy bisa sedikit berpikir apa maksud dari ucapannya itu.


Dan jika Livy kembali menanyakan bagaimana kabar hatinya malam ini, maka jawabannya adalah kebahagia luar biasa, sangat luar biasa hingga dia melupakan kekesalannya beberapa jam yang lalu karena acara membosankan ini atau dia harus berterimaakasih kepada kedua orangtuanya berkat mereka dia bisa bertemu kembali dengan sosok lelaki yang selalu dirindukannya itu.


Namun faktanya Livy tak mempu membuka bibirnya, hanya sekedar mengeluarkan sebuah udara dari dalam mulutnya. Rahangnya seolah kaku dan tak bisa digerakkan karena ucapan frontal yang Sammuel tembakkan kepadanya.


Hei, mereka baru saja bertemu kembali setelah satu tahun tak bertemu. Dan Sammuel dengan gampang mengatakan isi hatinya tanpa sebuah basa-basi terlebih dahulu. Sungguh luar biasa sekali lelaki ini. Begitulah pikir Livy yang mencoba mengais kesadarannya, gadis itu mulai membuka bibirnya untuk berbicara meskipun terbata.

__ADS_1


"Se-sepertinya k-kita perlu meluruskan sesuatu, Boo." Ini pertamakalinya gadis itu bicara gugup di depan Sammuel jika mengingat dia adalah gadis datar yang tak pernah gugup jika berhadapan dengan lawan jenisnya.


Sammuel mengerutkan keningnya mendengarkan panggilan baru yang  berikan kepadanya. Ah, tapi biarkan saja gadis itu memanggilnya sesuka hati. Toh, dia tak akan rugi apapun karena nama pamnggilan itu.


Jadi, dengan menekankan punggungnya, Smmuel menyerongkan tubuhnya untuk menatap Livy lekat-lekat. Sammuel bisa melihat diantara temaram lampu, wajah gadis itu terlihat bersinar. Menurut Sammuel, Livy terlihat berubah dan semakin dewasa. Cantik sudah pasti jangan di tanya lagi karena memang faktranya seperti itu. Sudahlah, harusnya Sammuel tak perlu berkomentar panjang lebar mengenai perubahan Livy yang terbilang sedikit feminim itu.


"Udah lima bulan kita nggak ketemu dan kita nggak ada komunikasi sama sekali." awalan Livy. "Boo nggak mau tanya dulu gimana kabar aku?" sepetinya Livy tak ingin berbasa-basi.


Lelaki itu tersenyum kecil, seraya mengacak pucuk rambut Livy dengan pelan. "Panggilan yang unik, Vi."


"Bukan Vi, tapi Bee."Jelasnya dengan tampang yang kembali datar.


Astaga, mungkin hati Livy kali ini telah di selimuti kegalauan yang luar biasa, sejak Sammuel menghilang untuk kedua kalinya. Eh, bukan menghilang, lebih tepatnya berpamitan tapi tak lagi memberi kabar. Namun biarlah, toh Sammuel lebih menyukai perubahan sikap gadis yang sudah sepenuhnya mencuri hatinya itu.


''Bukan itu jawabannya, kenapa kamu nggak kasih kabar ke aku. Habis bikin hati orang teracak-acak. Terus main pergi lagi, bener-bener nggak ada akhlak, untung aja nggak ada yang lebih baik daripada kamu."


Tersenyum tipis, "Buat apa?" tanggapan Sammuel dengan wajah santai. "Kamu terlihat sehat meskipun kamu dalam keadaan galau sekaligus. Dan sepertinya kabar kamu juga bagus. Karena, nggak ada orang sakit yang akan menghadiri pesta dan memakai sepatu hak setinggi itu." Sammuel menunjuk kaki Livy yang terbalut sepatu bertumit runcing. "Bahkan kamu terlihat begitu feminim karena kamu bisa pakai hak tinggi, jarang-jarang kan cewek tomboy bisa pakai sepatu berhak." Entah itu sebuah pujian atau ledekan yang pasti hal itu membuat Livy membungkam mulutnya dengan hati mendumel.


'Astaga, Sammuel. Menanyakan kabar adalah sebuah basa-basi yang biasa orang tanyakan jika lama tak bertemu dengan seseorang. Kenapa kamu semakin menyebalkan setelah kembali.' Memikirkan hal itu Livy sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena miris.


"Kamu tuh pengen ngeledek aku atau gimana? Lagian itu adalah sebuah kebiasaan yang orang-orang lakukan Boo. Mungkin hanya sebuah basa-basi, atau...." gadis itu tak melanjutkan ucapannya karena melihat Sammuel yang tengah memandanginya sedari tadi. Tentu saja hal itu membuat Livy salting karena di pandangi oleh Sammel sebegitu dalamnya.


"Aku nggak suka basa-basi, Livy. pertanyaan semacam itu hanyalah sebuah percakapan yang tak penting. Toh aku udah lihat kamu dengan jelas, kamu baik-baik aja dan semakin terlihat cantik."

__ADS_1


"Fisik aku memang baik-baik aja, tapi kabar itu penting buat aku Sammuel, terutaman untuk hati aku." Livy tak ingin mengalah dengan Sammuel kali ini. Jadi dia harus bisa menandingi si pesilat lidah ini.


sammuel diam tak menjawab. Dia terus menatap gadis di depannya itu dalam diam. "Selama ini aku memendam rindu yang begitu hebat untuk kamu. Tapi, nggak tahu mau cari kamu kemana. Menahan sambil berharap jika takdir benar-benar akan mempertemukan kita lagi. Aku juga kadang takut bagaimana jika kita di pertemukan dalam kondisi berbeda. Kamu punya kekasih dan aku akan patah hati."


"Aku malah berpikir, jika kamu lebih baik tanpa adanya aku yang terus mengganggu mu, Vi." ucap Sammuel mencoba memancing sebearapa dalah perasaan gadis itu untuk dirinya.


"Lebih baik tanpa kamu? Kamu salah. Bahkan aku nggak baik-baik aja sewaktu kamu nggak ada di deket aku, hari-hari aku jadi sepi."


Tersenyum miring. "Karena itu, aku menawarkan sebuah relationship ke kamu." Sammuel memejamkan matanya untuk meneruskan ucapannya yang terlihat begitu berat. Dengan melakukan itu, dia berharap bisa memilih kata yang tepat agar Livy bisa memahami kalimatnya.


"Aku juga pernah merindukanmu.''


Wajah Livy seketika memerah mendengar ucapan santai Sammuel. Untung saja, lampu temaran menutupi perubahan wajahnya.


"Seriusan Boo?" tanya LIvy antusias.


"Enggak sih. Bohong aja biar kamu seneng."


Seketika pukulan ringan melayang ke tubuh Sammuel secara dengan membabi buta.


"Sumpah ya Boo, aku sumpahi kamu cinta mati sama aku. Nggak akan bisa berpaling meskipun hanya sedetik pun. Otak dan pikiran kamu itu akan terus memikirin aku sampai kamu lemes dan nggak bisa apa-apa." Pukulan itu terus dia layangkan sampai tenaganya terkuras. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan. Namun Sammuel sama sekali tak menghindar dan membiarkan saja tangan mungil Livy terus 'menghajarnya'


Decakan dari bibir Sammuel terdengar, membuat Livy berkomat-kamit entah mengatakan apa. Lelaki itu mengelus tangannya yang terasa agak sakit sedikit karena pukulan yang diberikan Livy tadi.

__ADS_1


Tidak mempedulikan dumelan Livy, Sammuel menarik lengan gadis itu, memeluknya dari samping. "I LOVE YOU LIVY''


__ADS_2