Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 24 Khawatir


__ADS_3

Sepulang kuliah, Livy yang ingin segera pulang ke kos bersama Yana tiba-tiba di kejutkan oleh kehadiran Sammuel yang langsung menarik pergelangan tangan gadis tersebut


"Aw!" pekik Livy dengan posisi tubuh berbalik. Mungkin Sammuel terlalu kuat menarik tangan kekasihnya itu.


"Maaf, Bee. Aku nggak sengaja. Habisnya kamu jalannya cepat banget, kalau nggak langsung aku tarik, kemungkinan kamu udah pulang." Tampang Sammuel terlihat bersalah.


Tak ada jawaban yang di berikan oleh Livy, gadis itu hanya mendengus dengan  memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Sammuel membisikkan sesuatu di telingan Livy. "Maaf ya Bee." bisiknya dengan nada sedikit di buat-buat, bahkan bibirnya pun hampir menyentuh telinga Livy.


Refleks karena hembusan napas yang terasa hangat di telinganya membuat Livy sedikit mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh dari dirinya.


"Boo!" sentak-nya. Wajah Livy seketika merona, dia merasa malu terlebih ini masih di tempat umum.


"Boo?" suara Yana terdengar menyeruak kedalam telinga dua remaja itu.


"Kenapa? Ada yang aneh sama panggilan sayang gue?" Protes Livy bersuara terlebih dahulu.


"Em, e-enggak. Manis aja." Yana memperlihatkan cengiran kudanya. Nampaknya Yana mulai terbuai dengan kelakuan sepasang remaja yang tertangkap oleh manik matanya itu.


Meraih pergelangan tangan dan mengajaknya melangkahkan kaki. "Hari ini kita jalan ya, Bee. Kita main Timezone." ujarnya. Lelaki itu mengayun-ayunkan tangannya seperti anak kecil.


"Astaga, Boo. Kamu ini kelakuannya absurd banget." Pelototan di berikan Livy karena hal itu.


"Ini semua terjadi karena kamu." balasnya. Yang langsung melempar kunci motor kepada Yana. "Aku culik Livy dulu ya, kamu pulang sendirian nggak masalah 'kan." begitulah kata Sammuel dengan menyematkan senyum tipis.


Tanpa ragu Yana mengangguk. "Bagus, lain waktu aku akan traktir kamu." ucap Sammuel yang memilih berlalu lalang dengan mengandeng tangan Livy. Tak ada penolakan dari gadis itu, bahkan dia sangat menikmati perlakuan Sammuel yang seperti ini.


Yana masih mematung di tempatnya, takjub sekaligus senang melihat sahabat satu kosnya itu mendapatkan orang yang baik seperti Sammuel. "Bikin baper anak orang aja mereka tuh. Sabar, sabar. Ujian orang jomblo kayaknya emang nggak ada habisnya." gumam Yana seraya meninggalkan tempat parkir.


Saat akan memakai helm full face-nya, Sammuel sempat menyunggar rambutnya kebelakang, pesona lelaki itu kembali keluar, bahkan siapa pun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta dengan kekasih Livy itu.


"Buruan naik Bee. Keburu sore." katanya sedikit menarik sudut bibirnya, lelaki itu membantu Livy untuk naik keatas motornya. Livy menyambutnya dengan senang hati, dia tak menghiraukan tatapan mata yang ada di sana. Bahkan Adam hanya mampu menahan rasa getir bercampur kesal saat melihat mantan kekasihnya sudah jatuh ke-pelukan orang lain. Tangan Livy memegang pinggang Sammuel untuk sesaat.


Di posisi ini membuat Sammuel semakin mengembangkan senyumnya. Tanpa ingin menunggu lagi, dia segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Di atas motor, Sammuel langsung menuntun kedua tangan Livy agar memeluk perutnya. Gadis itu hanya menurut tanpa berkomentar, biarlah lelaki itu bertindak sesuka hatinya, asal tak keterlaluan ia masih bisa menerimanya.


"Makan dulu apa langsung main?" tanya Sammuel mencoba memberikan tawaran.


"Terserah aja, Boo." balasnya santai.


Livy hanya menyematkan senyuman tipisnya, setelah memakai helm full face-nya. segera melajukan motornya. Sedangkan si pembonceng masih anteng dan tak mengeluarkan suara sama sekali.


"Bee, kamu mau makanan apa?" tanya Sammuel sedikit menoleh dengan suara yang terbawa angin.

__ADS_1


"Hah? Apa?" tanyanya sedikit berteriak.


"Kamu suka makan apa? Atau kalau pilih makan di restoran mana?" tanyanya kembali dengan suara sedikit mengeras.


"....." No respon.


"Bee... denger aku nggak?" tanya Sammuel sekali lagi.


Livy masih terdiam dan tak menjawab ucapan lelaki itu. Mengetahui tak ada respon dari Livy, Sammuel pun memutuskan untuk diam dan menunggu Livy mengucapkan sesuatu. Livy semakin erat memeluk Sammuel dari belakang.


Menyunggingkan senyumnya, lelaki itu mengira jika gadis yang diboncengkan-nya itu ingin melakukan adegan romantis seperti di dalam drama-drama romantis korea yang sering di tonton oleh adiknya. Seolah terlena dengan pendapatnya sendiri, Sammuel kembali memacu motor sportnya dengan kecepatan di atas rata-rata sambil menikmati pelukan hangat Livy dari belakang.


Beberapa menit kemudian...


"Bee, kamu mau makan apa?" tanya Sammuel sambil memelankan laju motornya.


Livy masih tak menjawab, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya yang bersandar di punggung Sammuel.


Sammuel yang merasakan anggukan Livy dari belakang langsung menghentikan laju motornya di tepi trotoar dekat restoran seafood.


"Bee, kamu turun dulu, gih. Badan kamu makin berat nih." pinta Sammuel dengan kepala menoleh.


Gadis itu masih terdiam dangan tangan yang justru semakin mempererat pelukan-nya di perut Sammuel.


Sammuel  segera melepaskan helm full face-nya. Senyum lelaki itu kembali mengembang, "Sayang, kamu tuh seneng banget kalau di suruh peluk aku, hehehe..." ujar Sammuel dengan PD-nya.


Sammuel menggenggam tangan Livy yang tepat berada di perutnya. Namun, saat Sammuel menyentuh tangan kekasihnya itu, lelaki itu begitu terkejut ketika mengetahui tangan Livy sangat dingin dan berkeringat sangat banyak.


Sammuel memutuskan untuk melepas pelukan Livy dan menghadap kebelakang. Tapi, saat melihat kebelakang, mata Sammuel justru melihat penampakan Livy yang sudah tak karuan.


"Hah? Bee? Muka kamu pucat banget? Kamu kenapa? Kamu sakit? Pantesan dari tadi kamu diem aja, nggak cerewet kaya biasanya!" banyak pertanyaan yang keluar dari mulut bibir lelaki tersebut. Raut wajah Sammuel terlihat sangat panik sambil memegangi pipi Livy.


Livy hanya menatap kosong ke arah Sammuel. Dengan wajah yang pucat dan tubuh yang sedikit bergetar, ia tak mempedulikan ucapan kekasihnya itu.


Melihat Livy yang tak juga berekspresi sama sekali, Sammuekl semakin panik jika terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


Livy tahu jika Sammuel saat ini sedang sangat panik karena keadaannya. Tapi, Livy membutuhkan waktu untuk mengepulkan kembali suaranya yang di rasa sempat tercekat di tenggorokan.


"Bee, aku antar lo periksa ya? Aku khawatir banget sama keadaan kamu?" ujar Sammuel yang terlihat masih terlihat panik.


"Gak usah!" jawab Livy dengan secepat kilat dengan nada yang sedikit nyolot. Sambil menepis tangan Sammuel yang memegangi pipinya.


Sammuel terkejut, dan buru-buru turun dari atas motornya. "Loh? Kenapa? Kamu pucat banget ini? Apa jangan-jangan kamu telat makan?" tanya Sammuel masih dengan ekspresi yang sama.


"Diam!" sahut Livy yang terlihat semakin emosi.

__ADS_1


"Hah? Ya udah aku diem!" Sammuel pasrah, karena memang dia tak tau apa yang terjadi dengan kekasihnya itu, maka ia menuruti perkataan Livy untuk diam.


"Asal kamu tuh ya! Kamu tuh jadi cowok nggak peka!" celetuk Livy yang tiba-tiba mengomel.


"Loh? Aku nggak pekanya dimana? Aku lihat kamu pucat banget, keringat dingin. Aku mau bawa kamu periksa malah kamu tiba-tiba marah sama aku. Terus, aku nggak pekanya dimana coba?" balas Sammuel dengan santai.


"Kamu tau nggak, Boo? Aku hampir mati gara-gara kamu! Kamu tau nggak kalau nyawa sama raga aku terpisah jauh gara-gara kamu!" Jelas Livy semakin emosi.


Seolah tak paham dengan ucapan Livy, Sammel hanya mengeryitkan keningnya dengan alis terangkat sebelah. Mulutnya sedikit terkatum karena tak mengerti.


"Kamu bawa motornya ngebut banget! Udah tau bawa penumpang cewek di belakang, malah keenakan bawa motornya! Asal kamu tau ya? Nyawa aku tuh masih ketinggalan di tempat pertama kali kamu ngegas motor! Butuh waktu lama buat nyawa aku ngejar raga aku sampai kesini! Aku kesel banget tau sama kamu, Sammuel!" omel Livy panjang lebar, gadis itu memukul lengan Sammuel beberapa kali, tapi itu hanya sebuah pukulan ringan.


Alih-alih menyesal, Sammuel justru menertawakan Livy seperti tak peduli dengan apa yang di rasakan oleh kekasihnya itu. Livy semakin kesal karena Sammuel justru malah menertawakannya.


"Hahahaha.... ya ampun Bee, padahal aku udah panik banget waktu lihat ekspresi kamu kaya tadi. Hahaha, nggak taunya kamu cuma ketakutan." ledek Sammuel dengan memegangi perutnya.


"Kenapa? Setelah tau, kamu nggak jadi panik gitu! Halah, tau gitu aku bilang aja kalau aku lagi diare! Biar mampus kamu, sekalian aja biar kamu panik setengah mati!" Dengus Livy yang langsung melipat kedua tangannya di depan dada.


Kini Sammuel merasa lega karena Livy masih baik-baik saja.Tapi ia tak bisa berhenti menertawakan kekasihnya itu. Saat mengetahui Livy sudah sedikit tenang, Sammuel segera meminta maaf.


"Ya udah iya, aku minta maaf. Aku nggak bakalan ngelakuin kesalahan yang sama lagi, kecuali kalau aku khilaf." tuturnya.


"Tau nggak? Tadi di jalan aku sempet kepedean gara-gara kelakuan kamu, Bee."


"Kenapa?" tanya Livy penasaran.


"Kamu di jalan terus-terusan peluk aku sih! Aku kirain kamu beneran terpesona dengan tindakan aku, makanya kamu betah banget pelukin aku sampai nggak lepas-lepas." ucap Sammuel sedikit menggoda.


"Ih, najis banget!" Livy mengelak seraya membuang mukanya.


"Lagian kamu juga sih, Bee, di tanya pengen makan apa malah nggak ngrespon. Ya udah aku putusin aja bawa motornya makin kencengan."


"Ya kali, naik motor segitu kenceng-nya di suruh langsung denger, sebelum sampai ke telinga aku yang ketutup helm ini, suara ku udah kebawa angin duluan." jelas Livy yang kembali kesal.


"Ya udah, sebagai permintaan maaf aku. Kamu mau apa?" tanya Sammuel menawarkan.


"Beli baju, beli sepatu, beli tas, nonton film, makan es krim, makan di restoran paling mahal. TAPI ITU SEMUA KAMU YANG BAYARIN!"


"Kamu tega banget sih sama aku, Bee. Masa iya aku harus jual motor dulu." jawab Smmuel memelas.


"Idih, pelit banget. Nggak mau modalin pacarnya sendiri." Livy melotot. Membuat Sammuel mengkerut.


"Ya udah. Lain kali aku bakalan turutin kemauan kamu, tapi please aku udah lapar banget. Makan dulu ya," sanggup Sammuel.


Dengan senyum jahat yang mengembang, Livy menganggukkan kepalanya. Sammuel kini menghela napasnya, lelaki itu sedikit lega.

__ADS_1


Sammuel kembali naik keatas motornya dan Livy kembali memeluk pinggang lelaki itu dari belakang. "Aku bukan tipe cewek kaya gitu kok, kamu tenang aja. Aku cuma bercanda aja tadi karena kesel sama kelakuan kamu." bisik Livy di iringi senyum.


Menoleh sekilas, "Lain waktu aku bakalan bahagian kamu, tapi semua itu butuh proses." balasnya yang langsung melajukan motornya secara perlahan.


__ADS_2