Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 25 Devinisi Mantan Tak Tahu Diri


__ADS_3

Adam dan teman-temannya sedang asyik mengobrol di bangku taman kampus. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Livy dan kedua sahabatnya. Reno yang sudah berteman dengan Adam sejak SMA langsung saja mengoceh tak beraturan.


"Wedih.... Mantan lo makin hari makin bening aja, Dam. Nggak ada niatan buat kejar lagi lo?" kata Reno bertanya hingga suaranya terdengar nyaring di telinga Livy.


Adam yang melihat kehadiran Livy yang akan melintas di depannya, langsung menghentikan langkah gadis tersebut. "Buru-buru banget sih, Vy. Sini ngobrol dulu, lama kan kita nggak ngobrol." pinta lelaki itu dengan menghalangi langkah Livy, bahkan cara bicaranya pun terkesan memaksa sekali.


Memasang ekspresi datar, Livy malas sekali jika harus meladeni mantan kekasihnya yang super menyebalkan dan play boy cap badak itu, tak mau membuang waktunya terlalu lama, dia pun berbicara dengan sangat ketus. "Gue mau lewat! Tolong jaga sikap lo! Gue nggak hobi ngobrol sama mantan kaya lo!"


"Galak amat lo sekarang, Vy. Eh, udah dari dulu ya lo galaknya. Gue lupa, lo kan waktu putus sama Adam juga langsung nonjok mukanya." timbrung Haris yang tiba-tiba ikut bersuara. Lelaki itu sejak tadi mengamati sikap tak nyaman Livy ketika mereka mulai menggoda gadis tersebut.


"Punya salah apa sih Livy sama lo, bukannya Livy udah nggak ada hubungan lagi ya sama lo, harusnya lo itu sadar diri dong, punya kaca nggak di rumah." Yana si ratu lebah pun ikut ambil alih untuk berdebat. Gadis itu nampaknya mulai terpancing emosi dengan gelagat ketiga lelaki itu.


"Ya elah Yan, jangan galak-galak kenapa sih, entar cantiknya ilang loh." rayu Reno dengan lirikan mata menggoda.


Yana tersenyum sinis, melirik kesamping kirinya. "Kita mau lewat. Minggir nggak kalian!" nada bicara Yana mulai meninggi.

__ADS_1


"Gue mau ngobrol sama mantan kesayangan gue! Bukan sama elo. Ngerti!" jelas Adam tanpa dosa.


Livy merasa tak nyaman dengan sikap Adam yang makin hari makin menggelikan itu. "Gue nggak mau ngobrol sama lo, karena apa? Karena nggak lo P E N T I N G buat hidup gue lagi!" ucapnya  ketus.


"Ya elah Vy, sebenci itu lo sama gue?"


"Lah, emang lo patut di benci!" sahut Yana sambil melipat kedua tangannya di depan dada, jiwa membelanya sudah empat lima.


Menghembuskan napas kesalnya. "Gue nggak ngomong sama lo ya, Yan. Jadi please lo diem aja!!" sentak lelaki itu dengan tatapan tajam.


"Nggak tau malu banget ya lo! Udah di tolak mentah-mentah, masih aja nyari muka depan Livy. Emangnya Livy bakalan luluh gitu aja sama elo!" Kini suara Dinda yang mewakili. Bahkan terlihat jika Dinda mulai emosi juga dengan kelakuan kakak tingkatnya itu yang terlihat angkuh dan tak tahu malu.


"Mulut gue ini emang di ciptain sama yang di atas buat ngoceh. Apa lagi buat nyinyirin elo!" emosi Yana semakin memuncak.


Dinda nampak mengelus punggung sahabatnya itu pelan. Sedangkan Livy sudah menahan emosinya mati-matian sejak tadi, mendorong dada bidang mantan pacarnya itu dengan kasar. "Yang seharusnya diem itu elo, bukan sahabat-sahabat gue. Mereka ngomong karena mereka mewakili isi hati gue. Gue nggak mau ngomong sama lo! Seharunya elo itu sadar diri!" Tampang dingin tak bersahabat kembali terlihat di sana.

__ADS_1


Reno sempat menelan saliva-nya beberapa kali, lelaki itu bahkan memegangi pundak Adam dan langsung mendekatkan bibirnya di telinga sahabatnya itu. "Cuma di ajak ngobrol aja, heboh banget! Sampai ngomong pedes kaya si kumbang laper itu." cibir Reno dengan mata melirik ke arah Yana.


Kali ini kesabaran Livy benar-benar habis, dia tak ingin Adam terus mengganggunya lagi. Menendang kursi yang ada di sampingnya hingga patah. "Kalian bisa minggir nggak! Gue nggak mau berurusan sama cowok tukang selingkuh kaya lo! Apa lo pengen gue tonjok lagi kaya waktu itu, biar otak lo kembali bener. Kalau kalian nggak mau minggir juga, gue bakalan tonjok muka kalian satu persatu." Wajah Livy terlihat bringas jika di sudah seperti ini.


"Ya elah Vy, gitu aja di ambil hati, kita mah tau lo jago bela diri. Tapi nggak sampai buat kursi patah juga kan. Kasihan itu kursinya." sahut Haris yang mulai mengumpat di belakang Adam.


"Ya udah sini kaki lo, biar gue patahin sekalian biar tuh kursi ada temennya daripada lo cuma kasihan tapi nggak ada tindakan."


Mendengar ancaman Livy, Haris menelan saliva-nya, dia berbisik kepada Adam. "Minggir aja, Dam. Daripada kaki kita patah. Gue nggak mau hal itu terjadi, kaya anak Ekonomi itu." bisik Haris mencoba mengingatkan.


Adam hanya mengangguk pelan, kemudian memberi jalan kepada Livy dan kedua temannya itu. Lelaki itu tau Livy memang jago bela diri, namun dia tak tahu jika mantan kekasihnya itu menaruh kebencian yang sangat luar biasa terhadap dirinya.


"Nah.. gini kan lebih enak, daripada mancing emosi Livy. Mala petaka ya ada buat hidup kalian!" seru Dinda sambil menepuk bahu Adam, gadis itu kemudian pergi dengan cepat di susul oleh Livy dan Yana di belakangnya.


Saat jarak di antara mereka cukup jauh, Haris buru-buru berkomentar. "Anjay! Jangan sekali-kali lo masukin kita ke kandang singa dong, Dam. Gue masih mau hidup. Gue belum nikah dan masih perjaka." kata Haris dengan tangan mengelus-elus dadanya bidangnya itu. Lelaki itu masih menatap kepergian ketiga gadis itu tanpa berkedip sedikit pun.

__ADS_1


"Huft... bener kata Haris, lo jangan coba-coba mancing perkara dah sama Livy. Kalau hal itu terjadi lagi, gue nggak mau ikutan." lanjut Reno.


Adam dengan setianya mendengar ocehan dari kedua sahabatnya, bahkan bulu kuduknya tiba-tiba berdiri saat mengingat kejadian waktu itu. Astaga Livy, lo bikin jantung gue hampir copot. Tapi kenapa gue ngerasa kehilangan lo sekarang. pikirnya sejenak.


__ADS_2