Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 22 I LOVE YOU BEE


__ADS_3

Genap satu bulan mereka menjalani hubungan yang berstatuskan pacaran, keduanya nampak menikmati perubahan status yang mereka jalani saat ini..


"Pacarannya yang halal aja ya Boo, aku nggak suka aja tiba-tiba peluk langsung cium..." Livy memperingatkan seakan Sammuel adalah laki-laki yang akan bertindak semaunya sendiri.


"Mana ada Bee, pacaran halal. Yang bener pacaran tuh malah nambah dosa." sahut Sammuel mencoba membenarkan ucapan Livy yang menurutnya kurang pas itu.


"Terus kamu ngapain ngajakin aku pacaran kalau ujung-ujungnya kamu bakalan ngomong kaya gini." Livy merengut tak terima dengan perkataan sang kekasih.


Menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Lagian kamu, mau aku ajak langsung nikah aja nggak mau." balas Sammuel tanpa dosa. Laki-laki itu merasa cocok mengatakan hal tersebut untuk membalas perkataan Livy yang terus memojokkannya.


Membuang muka tak acuh, ya begitulah sifat Livy yang memang tak bisa berubah meskipun dia sudah memiliki pengganti Adam yang jauh lebih baik dan pengertian.


"Yang di bahas nikah mulu perasaan, ganti topik kek. Lagian ya Boo, kita tuh masih muda. Aku nggak mau keriput sebelum waktunya."


Sammuel terkekeh mendengar penuturan dari gadis yang sekarang berstatus sebagai pacarnya itu. "Ya udah, kamu mau bahas apa?" suara itu terdengar lembut saat sampai di telinga Livy.


Bukan jawaban yang di berikan oleh gadis itu, melainkan sebuah usapan kecil pada bagian perut ratanya. "Laper!"


Mengangguk pelan, yang artinya Sammuel tau jika Livy ingin mengisi perutnya terlebih dahulu di banding membahas hal lain yang bisa lain waktu untuk di bahas kembali.


"Makan di tempat biasa, ya?"


Anggukan kecil di berikan tanda setuju. Keduanya meninggalkan saung, Sammuel mencoba menggandeng tangan mungil itu tanpa ragu lagi. Usahanya benar-benar tak sia-sia, akhirnya dia berhasil meluluhkan gadis bermuka datar itu lebih cepat dari perkiraan awalnya. Membuat Livy dilema atas kepergiannya adalah keputusan yang  tepat.


Sedangkan Yana nampak kecewa karena aksi mengintipnya harus berhenti begitu cepat. "Ya elah, kenapa bersambung sih. Mana lagi live streaming juga. Jarang banget gue bisa lihat Livy dengan tampang bodohnya itu." Menelan kekecewaan dan berlalu dari tempatnya dengan tampang tertekuk.


Kali ini mereka berjalan layaknya seorang pasangan kekasih pada umumnya. Namun, Livy tetaplah Livy. Gadis bermuka datar itu tetap saja menampakkan muka datarnya meskipun dia sudah memiliki kekasih. Memang, kalau sifat sepertinya susah untuk di rubah. Namun, Sammuel dapat merasakan ada sedikit perubahan dari dalam diri Livy yang menang cuma Sammuel sendirilah yang tahu, tak jarang dia menjadi lebih bucin karena kelakuan absurd Sammuel yang cukup bar-bar.


Sampai di warung yang biasanya mereka datangi. Sammuel langsung duduk di tempat biasa, memesan makanan yang biasa mereka makan.

__ADS_1


"Laper banget ya?" tanya Sammuel dengan atensi menatap Livy.


"Banget. Sampai cacing di perut aku aja nggak bisa diem, saking laparnya. Cuma pacar aku aja yang nggak pengertian." balasnya dengan kesininsan.


Mengacak rambut Livy yang kini terurai. "Dasar, udah gede masih aja kaya anak kecil." ujarnya disertai tawa mengejek.


Livy menggigit bibir bawahnya, merasa Sammuel memperlakukannya seperti anak kecil yang tengah merengek meminta balon. "Jangan sembarang main acak-acak rambut aku dong. Berantakan 'kan jadinya." protesnya seraya merapikan rambutnya kembali.


Sammuel terteguh melihat sifat kekasihnya yang dari hari ke hari semakin melunak, meskipun tak jarang dia harus melihat muka datarnya saat gadis itu tak merasa senang. Tak berselang lama, seorang ibu pemilik warung datang membawakan dua piring nasi goreng sayur plus telur. Wanita setengah baya itu sedikit menggoda saat melihat kedekatan di antara kami.


"Cie, Mas Sammuel udah pacaran ya sama Mbak Livy. Alhamdulillah ibu turut bahagia, kalau bisa jangan lama-lama pacarannya, langsung nikah aja lebih enak." ujar ibu pemilik warung tersebut.


Sammuel mengangguk antusias, sedangkan Livy hanya menampilkan senyum canggung.


"Ya udah, di makan ya Mas, Mbak. Ibu doain kalian langgeng sampai kejenjang yang lebih serius. Ibu mau pamit kebelakang."


Baik Livy ataupun Sammuel, mereka langsung saling pandang. "Ibu sering kaya gitu ya Boo?" tanya Livy seraya memasukan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya.


Keduannya menghabiskan makanan mereka hingga tandas, merasa sudah cukup kenyang. Sammuel mengajak Livy untuk pergi kelapangan basket, dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya di tempat itu.


"Bee, ngapain sih kita harus ke sana. Kamu nggak tau apa? Kalau kaki ku itu capek banget." dumel Livy di seperempat jalan.


Menghentikan langkah kaki jangkungnya, lelaki itu langsung berbalik untuk menatap gadis yang sejak tadi mengekor di belakangnya. Namun sayang,  Livy tak mengetahui jika kaki Sammuel telah berhenti, dia hanya mendumel tanpa fokus dengan jalannya, membuat hidung runcingnya harus membentur dada bidang lelaki itu cukup keras.


Dugh!


"Kasih aba-aba kek, Boo, kalau mau berhenti. Sakit tau, hidung runcing aku lama-lama bisa ilang gara-gara kamu." Begitulah kata Livy dengan tangan yang masih setia mengelus pangkal hidungnya.


"Maaf Bee, aku nggak ada maksud." Sammuel marasa bersalah atas tindakannya itu.

__ADS_1


"Nggak ada kata lain apa selain maaf. Capek tahu dengernya." mata sinis gadis itu mengarah tajam ke arah sammuel.


Menelan saliva-nya. Apa mungkin si gadis bermuka datar yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu akan bersikap seperti ini terus terhadapnya.


Bugh!


Pukulan mendarat di dada bidang Sammuel. "Malah bengong! Ini sakit." omelnya dengan ekspresi yang masih sama.


"Sini aku bantu elus, jangan ngomel terus kaya kumbang." Sammuel juga tak ingin kalah dengan gadis itu rupanya.


Membuang muka tak acuh, Livy langsung berlalu tanpa menghiraukan Sammuel yang masih berdiri di sana.


"Nggak takut cowoknya di ambil orang, entar galau lagi." suara Sammuel berhasil mengalihkan atensi Livy sesaat.


Livy hanya berdecih, namun tetap menghentikan langkah kakinya. "Kenapa aku harus cinta sama cowok ngeselin yang modelnya kaya kamu sih." teriaknya yang mampu di dengar oleh orang banyak jika suasana tak seperti sekarang ini.


"Karena aku pantas buat kamu cintai Bee, jadi wajar kalau kamu cinta sama aku." Sammuel mendekati Livy yang jaraknya hanya beberapa meter dari dirinya.


"Dari lahir emang udah se-PD ini, ya." raut wajah Livy nampak terlihat kesal, walaupun hatinya berkata tidak.


"Semenjak kenal kamu aja ke-PDan ku muncul secara instan." balasnya santai.


Membuang napas berat, Livy memutar bola matanya malas. Lelaki yang selama ini selalu membuat hati dan pikirannya semrawut dan gelisah itu kini berdiri tepat di sampingnya. Astaga Livy, kontrol jantung lo biar nggak copot karena ngeliat tampang dia yang emang udah ganteng dari lahir. pikirnya sesaat. Rona merah menghiasi pipi gadis itu dengan tiba-tiba.


Sedangkan Sammuel mengernyitkan keningnya, atensinya tak beralih dari wajah kekasihnya itu. Perlahan, Sammuel mendekatkan keningnya ke arah kening Livy. Menempelkannya kedua telapak tangannya di kedua pipi cabi gadis itu. Dan hal sukses membuat jantung Livy semakin tak beraturan.


"Nggak demam, kenapa wajah kamu bisa semerah ini, sih, Bee." Begitulah kalimat lanjutan yang di berikan oleh Sammuel untuk dirinya, sungguh Sammuel ini sangat menyebalkan.


"Ya karena aku emang nggak sakit, apalagi demam." balasnya dengan wajah semakin tertekuk. Tak tahu kah Sammuel jika dirinya tengah di rundung kebahagian luar biasa karena sikapnya ini.

__ADS_1


Senyum tipis mengulum di kedua sudut bibir lelaki itu. "I LOVE YOU, BEE."


Kata-kata yang selalu membuat Livy merasa nyaman, ketika orang yang di cintanya membalas ketulusan hatinya dengan sepenuh jiwa dan raganya.


__ADS_2