
Sampai di parkiran mall, Sammuel langsung melepas helm full face-nya, mengedarkan pandangannya untuk menatap Livy yang masih duduk di boncengannya itu.
"Mau makan dulu, atau mau main?" Meskipun Sammuel lebih suka bermain Timezone jika berada di mall, namun kali ini dia harus meminta pendapat dari Livy. Karena dia tak sendirian. Mereka sudah sampai di tempat yang di tuju, dan siap dengan hal-hal yang menyenangkan.
"Gue belum lapar. Gimana kalau kita main Timezone?'' Livy bertanya dengan senyum mengemabang, jarang sekali dia menampilkan ekspresi seperti itu di depan lelaki yang baru dikenalnya itu.
Sammuel mengangguk menyetujui bahakan dia sedikit tercengang saat melihat senyum manis gadis cantik yang ada di sampingnya saat ini, tapi Sammuel segera menepisnya karena dia tak ingin membuat Livy merasa ilfil karena sikapnya. Sammuel begitu senang karena kali ini tempat favoritnya menjadi tujuan utamannya untuk melepas penat bersama gadis yang di sukaiinya. Bagi sebagian perempuan, pasti akan memilih untuk berbelanja di bandingkan masuk ke dalam tempat tersebut. Tapi Livy memang berbeda dari yang lainnya.
"Pakai kartuku aja." Livy yang akan mengeluarkan powercardnya segera di cegah oleh Sammuel. "Aku punya banyak saldo di dalam sini.'' lanjutnya.
"Oke.'' Livy mengembalikan powercardnya ke dalam dompet dan melihat sekelilingnya. "Gue mau main basket," katanya.
Sammuel mengikuti perintah gadis itui dan menggesekkan kartunya. "Kita tanding." kata Sammuel yang sudah mengambil satu bola dan di putar-putar di atas telunjuknya. Kebiasaan yang memang sudah mendarah daging.
"Gue pasti kalah lah, lo kan udah jago banget mainnya." cicit Livy sebagai bentuk protesnya.
"Di coba dululah, lagian ini permainan yang minta kan kamu. Jangan patah semangat gitu, nanti aku ajarin kalau kamu nggak bisa." Begitu kata Sammuel.
Permainan di mulai, dan tentu saja Livy kalah telak dari Sammuel. Gadis itu mengerucutkan bibirnya merasa itu tak terlalu adil. ''Lo mah rese.'' katanya tak terima. Mengambil tiket yang keluar dari sana untuk nanti di tukar dengan hadiah.
__ADS_1
Sammuel terkekeh dan kembali ke permainan lain. Mereka benar-benar menikmati dengan kegiatan mereka. Bahkan, entah berapa jam mereka menghabiskan waktu di sana.
Keluar dari Timezone, Livy membawa boneka dengan ukuran besar di dalam pelukannya. Terlihat sekali jika beberapa jam mereka berada di tempat permainan tersebut hingga mendapatkan hasil ketika keluar.
Sebenarnya Livy tak terlalu suka dengan boneka, namun Sammuel memilihkan boneka itu untuk dirinya, walaupun dia sempat menolak tapi pada akhirnya gadis itu menerimanya dengan senang hati sebagai tanda menghargai pemberian dari orang lain.
"Buat temen tidur kamu." Begitu tadi katanya. Tapi ya sudah lah, toh yang mendapatkan tiket adalah lelaki itu dari hasil bermainnya.
"Mau makan apa?" Mereka sudah berada di food court mall tersebut.
"Oriental bento." tunjuk Livy di stand KFC. Sammuel mengiyakan, dan mengantri untuk membeli makanan tersebut. Sedangkan Livy duduk di kursi sambil memeluk boneka besar yang di bawanya dan menumpang-kan dagunya di sana.
Sammuel meletakkan dua bento, dan dua minuman pepsi di depan Livy. "Makanlah." katanya. Mendudukkan boneka di sampingnya, Livy mulai mengaduk nasi dan ayam agar tercampur menjadi satu.
Kebiasaan Livy, selalu mengangguk-angguk jika makanan yang di makannya terasa enak. Dan itu membuat Sammuel tersenyum. Baginya, gadis itu terlihat begitu lucu dengan caranya.
"Habis makan mau nonton?" Kata Sammuel menawari.
"Enggak." jawaban itu cepat sekali lolos dari bibir Livy. "Badan gue minta istirahat." Itu bukan alasan, tapi memang benar begitu adanya. "Lain kali saja." Lanjutnya.
__ADS_1
Meskipun tak menjawab, Sammuel merasa jika akan ada harapan untuknya kembali melakukan kegiatan menyenangkan seperti sekarang bersama gadis di depannya.
"Lo nggak papa traktir gue terus?"
Sammuel mendongakkan wajahnya untuk menatap Livy. "Kenapa?"
Livy mengedikkan bahunya tak acuh. "Kita sama-sama masih kuliah dan jauh dari orang tua." balas Livy.
Sammuel paham maksud Livy mengatakan itu. "Aku oke." katanya santai. "Kamu sepertinya memancing aku agar aku bisa mengatakan sesuatu tentang diriku."
Livy mengedip pelan. Tak ada maksud seperti itu sama sekali di hati Livy. Dia hanyalah tak ingin membebani Sammuel karena semua lelaki itu yang bayar.
Kemudian Livy menggeleng. "Bukan itu maksud gue." Di singkirkan tempat makan tersebut yang memang sudah tak ada isinya, kemudian meminum minumannya.
"Lo PD juga ya ternyata, suka nebak-nebak sesuka hati lo sendiri."
Sammuel mengikuti Livy menyingkirkan tempat makan miliknya yang sudah kosong.
"Siapa tahu kamu udah mulai tertarik sama aku, kan?"
__ADS_1
''Astaga." Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar." Begitu katanya yang hanya mendapatkan jawaban kekehan dari Sammuel.
Mereka keluar mall ketika langit sudah menggelap. Sammuel melajukan motor sportnya secara perlahan, dengan Livy yang kesusahan membawa boneka yang terlalu besar itu.