Livy Si Pemikat Hati

Livy Si Pemikat Hati
Bab 19 Pamit


__ADS_3

Livy dapat melihat jika tempat tersebut cukup ramai, dengan semua pengunjung yang rata-rata adalah anak muda. Dia juga baru datang ke sana untuk pertama kalinya. Ya, walaupun dia sudah setengah semester berkuliah di dekat kafe tersebut, tak sekali pun dia pernah berkunjung ke kafe itu, atau lebih tepatnya Livy tak pernah mengetahui adanya kafe itu sebelumnya, yang dia tahu hanyalah 'kafe pink' yang selalu menjadi tempat melepas penatnya dengan memakan es krim sesuka hatinya di sana.


"Ini tempat kayaknya emang di buat khusus buat anak-anak muda ya? Perasaan dari tadi gue nggak liat ada yang tua di sini?" Livy menuangkan isi kepalanya.


"Iya. Pemiliknya emang buat kafe ini untuk pengunjung yang pengen santai-santai aja." sahut Sammuel. "Emang kamu nggak pernah kesini sebelumnya?''


Menggeleng pelan. "Gue nggak tau kalau ada kafe disini." Livy kembali menjelajahi isi kafe tersebut dengan pemandangannya. Sungguh, kafe tersebut benar-benar ramai karena tempatnya begitu nyaman dan luas.


"Rich Verrz" Livy membaca tulisan besar di tembok belakang kasir. " Nama yang unik. Jangan-jangan pemiliknya juga unik." begitu komentar Livy di akhir kalimat.


Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Beberapa makanan sudah tersaji indah di sana dan membuat Livy semakin ingin segera memakannya.


"Astaga, ini enak banget." katanya setelah mengunyah makanan tersebut. Kepalanya bahkan manggut-manggut karena keenakan. Sedangkan Sammuel hanya menatap gadis yang biasanya bermuka datar itu  menikmati hidangan yang tersaji di depannya sambil mengunyah makanan miliknya.


"Lo sering datang kesini?"


Sammuel mengangguk. "Iya, aku sering dateng kesini." balasnya masih dalam keadaan mengunyah.


Gerakan mengunyah Sammuel terhenti karena ulah Livy. Bagaimana tidak, jika Livy dengan tiba-tiba melayangkan ibu jarinya untuk mengelap bibir Sammuel dengan lembut.


Lelaki itu bahkan mematung saat jari Livy sudah tak ada di sana. Dan ini kali pertamanya Livy melakukan hal tersebut, tindakannya itu membuat jantung Sammuel semakin tak karuan, semakin sering dia menahannya semakin ingin meledak debaran yang dia rasakan. Sungguh, Livy adalah gadis yang mampu membuatnya jatuh hati dengan sekali melihatnya. Bahkan dengan caranya yang lembut seperti ini, ingin rasanya Sammuel segera memiliki Livy, namun dia menghargai keputusan gadis itu untuk berpikir  saat akan menetapkan hatinya.


"Kalau makan nggak perlu nyembur kaya gini, lihat ini." Livy memperlihatkan ibu jarinya ke arah Sammuel. "Makanan lo mleber kemana-mana udah kaya anak kecil tau." imbuhnya.


Baru saja lelaki itu merasa melayang di atas awan, dan dengan sekejap sudah di jatuhkan ke tanah dengan keras. Bibir Sammuel mengerucut menirikan bibir gadis yang sedang merajuk, tanganya langsung meletakkan sendok dan garpu-nya di atas piring yang masih ada makanan di sana Kedua tangannya terlipat dan langsung di letakkan di depan dada, matanya memicing menatap ke arah LIvy, terlihat sekali jika lelaki itu kecewa dengan hasil akhir yang dikatakan oleh gadis itu barusan.


"Aku tadi hampir pingsan karena kamu ngelap bibir aku. Itu romantis loh menurut aku. Tapi dengar kamu bilang kaya gitu, bikin aku kesel. Lagian siapa yang makannya nyembur-nyembur." rajuk Sammuel yang masih menampilkan wajah melasnya.

__ADS_1


Livy masih meneruskan makannya tanpa terganggu dengan sikap Sammuel yang tengah memandangnya sengit, seolah mengajaknya berduel. Meminum jus jeruknya, kemudian dia menjawab. "Jadi lo sengaja, makan nyembur gitu biar gue inisiatif lap bibir lo?'' tuduhnya.


Astaga Livy. Bisa tidak jika dia tak bersikap semenyebalkan ini. pikir Sammuel sesaat.


"Kita duel aja yuk Vy, rontok rambut aku kalau lama-lama ngomong sama kamu. Datar sama yang lainnya aja kenapa jangan sama aku."


Ucapan menggelikan dari Sammuel itu sontak membuat Livy terkekeh. Dia bahkan harus menutup bibirnya supaya tawanya tak menganggu pengunjung lain. Dan Sammuel harus di buat menganga karena hal itu.


Ini pertama kalinya Livy tertawa di depannya. Ah bukan, ini tawa pertama Livy yang baru di lihat oleh Sammuel. Sungguh, lelaki itu tak pernah melihat Livy kehilangan kontrol dirinya hingga tertawa keras seperti saat ini. Masih dengan tampang bodohnya, Sammuel melihat bagaimana perubahan ekspresi wajah Livy dari tawa menjadi diam. Namun gadis itu mana peduli.


"Habisin makanan kamu. Kita keatas." perintah Sammuel.


Livy mengangguk, gadis itu menghabiskan makanannya hingga tandas. Sedangkan Sammuel sudah tak berselera makan lagi karena moodnya sudah rusak terlebih dahulu.


"Lo nggak ada niatan buat habisin makanan lo? Sayang loh kalau di buang.'' Livy mencoba mengingatkan. "Kalau lo nggak habisin makannya, gue nggak mau di ajak naik ke atas." ancamnya dengan alis terangkat sebelah.


"Wow!" katanya ketika melihat deretan rak buku dan tempat baca di buat lesehan. Ada juga meja kursi di sana, ada dua komputer yang difungsikan untuk mencari sebuah buku.


''Disini ada perpustakaan juga, keren ya." katanya mencoba mengagumi ruangan tersebut.


"Makanya aku sering kesini. Selain makanannya enak dan tempatnya asyik, di sini juga aku bisa menambah ilmu dengan membaca."


Livy hanya mengangguk kecil, seraya mengambil buku tebal dan duduk di lesehan tersebut. Sammuel mengikutinya dan duduk tepat di depan Livy.


Sedangkan Sammuel langsung merebahkan kepalanya di atas meja dan tepat di depan gadis itu.


"Katanya kamu bilang ini kencan pertama kali kita kan? Kenapa harus belajar?" Sepertinya Sammuel salah sangka dengan mengajak Livy naik ke lantai atas untuk bersantai, sedangkan gadis itu malah lebih tertarik dengan buku yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


Merasa tak perlu meminta izin, Livy menarik kepala Sammuel agar lelaki itu bisa duduk dengan tegak.


"Sebaik-baiknya kencan, ini adalah kencan yang bermanfaat bagi gue." jelasnya.


Apa boleh di kata jika pujaan hatinya sudah mengatakan itu, sepertinya Sammuel tak ada daya dan tak bisa berbuat apa-apa. Maka dengan patuh Sammuel menuruti kemauan Livy untuk ikut membaca.


Melihat itu, Livy tersenyum tulus. Dia hanya bisa memandang Sammuelk dalam diam. Ah, tiba-tiba hati Livy menghangat dengan debaran jantung berdegub lebih kencang dari biasanya. Nyatanya di dalam sana, bibit cinta itu sudah mulai tumbuh dan bersemi.


"Hari ini, kencan pertama kita yang belum  berstatuskan 'pacaran'. Tapi aku harap suatu hari nanti kita bisa kencan dengan status yang bukan hanya sekedar teman dekat."


Kepala gadis itu mendongak, dan langsung menatap Sammuel yang sejak tadi menatapnya dengan buku yang sudah dia letakkannya. Livy mengernyitkan keningnya, otaknya bekerja extra untuk memahami setiap ucapan yang keluar dari mulut bibir Sammuel.


"Iya, gue akan kasih jawaban beberapa hari yang akan datang."


Menggeleng kecil, "Bukan itu, beberapa hari ini kita nggak bisa ketemuan kaya biasanya, aku akan pergi untuk sementara waktu karena urusan mendesak."


"Lagi?" Livy nampak kecewa dengan keputusan lelaki tersebut.


Mengangguk pelan. "Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, dan masih sama-sama sendiri, aku menganggap jika itu adalah kode Tuhan untuk kita bersama Livy."


Menggigit bibir bawahnya, sepertinya dia tak puas dengan jawaban yang Sammuel berikan.


"Lama?"


"Entahlah, aku kurang yakin. Ya jelas aku bakalan kasih waktu ke kamu buat berfikir tentang aku, selama aku nggak ada di sisi kamu." sahutnya.


Ekspresi wajah Livy kini berubah, entah gelisah atau pun bimbang yang pasti gadis itu akan sangat kehilangan sosok Sammjel yang selalu ada didekatnya itu.

__ADS_1


"Aku pasti pulang secepatnya. Untuk minta separuh hatiku yang udah berhasil kamu curi dari pemiliknya."


__ADS_2