
Sammuel dan Livy sudah berada di tempat mereka bertemu pertama kali. Jika waktu itu mereka berada di bawah pohon yang Sammuel pernah membohongi Livy jika ada yang pernah gantung diri di pohon tersebut. Kali ini suasananya sedikit berbeda.
Sepoi angin membuat rambut berwarna coklat milik Livy berterbangan. Melihat itu membuat Sammuel semakin terpesona. Diambilnya ponsel miliknya dari dalam, saku celana, dan diarahkannya kamera ke arah gadis itu.
Melihat hasilnya, lelaki itu tersenyum. "Sempurna." gumamnya sambil menarik sudut bibirnya.
Belum juga senyum Sammuel memudar, Livy meliriknya. "Lo foto gue?" katanya bertanya.
Sammuel mengangguk merasa tak perlu mengelak. "Iya" jawabnya sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.
"Mengambil foto orang lain tanpa permisi itu namanya ilegal. Lo tahu itu kan?"
Lagi dan lagi, Sammuel mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku nggak akan pernah menghapusnya. Karena itu adalah foto calon istri ku suatu saat nanti." katanya yang terlihat santa, Sammuel terlalu yakin dengan ucapannya itu. "Duduklah." Lelaki itu lebih dulu mendudukkan dirinya di sana, dan menyandarkan punggungnya di pohon tersebut. Kakinya di selonjor-kan, kedua tangannya berada di belakang kepala untuk dijadikan alas.
Memejamkan matanya, lelaki itu menikmati semilir angin. Livy mengikuti Sammuel duduk di samping kaki lelaki itu dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
"Apa yang pengen elo bicarain sama gue?" Matanya melirik kaki Sammuel yang sedang di goyang-goyangkan.
Sammuel menatap punggung Livy sebentar, kemudian menegakkan tubuhnya. Dibukanya tas miliknya, dan mengambil sesuatu di sana.
"Ini." Sebindel kertas di ulurkan di depan Livy. "Biodata ku, di baca baik-baik ya biar kamu bisa tau tentang aku." imbuhnya menjelaskan.
Kini Livy benar-benar menatap Sammuel tapi tak langsung menerima kertas tersebut.
"Elo serius atau nekat sebenarnya?" tanyanya sungguh-sungguh. Dia hanya tak ingin terbawa suasana kemudian membiarkan hatinya menerima Sammuel begitu saja.
"Gue bakalan baca kalau udah sampai kos.'' Livy memasukkan kertas tersebut kedalam tasnya.
"Kenapa nggak sekarang aja?" Sammuel hanya ingin tahu bagaimana tanggapan Livy tentang dirinya saat dia ada di depannya seperti saat ini.
"Enggak. Gue perlu konsentrasi tinggi kalau baca beginian." elaknya, membuat Sammuel mengedikkan bahunya.
__ADS_1
"Yang penting beneran kamu baca. Jangan sampai masuk tong sampah." Sammuel sudah membuatkan itu khusus untuk Livy. Jangan sampai dibuang begitu saja.
Mereka kembali terdiam. Menikmati angin sepoi yang menyapa kulit mereka. Livy tidak akan memikirkan semua ini terlalu dalam. Biarkan semuanya berjalan apa adanya. Kalaupun Sammuel lelaki baik yang Tuhan kirimkan untuknya, dia akan menerima semua ini. Tapi kalau memang tidak, berarti Sammuel bukan orang yang terbaik untuknya.
"Mau jalan-jalan?" tawar Sammuel. Dia akan mengganti rencana gadis itu yang sempat gagal jalan bersama kedua temannya.
"Kemana?"
"Mall?" Sammuel juga tidak terlalu yakin mengatakan itu. Namun ketika Livy berdiri dan mengangguk, Sammuel tersenyum puas.
"Ayo." jawab Livy sambil menatap Sammuel nyaman dalam duduknya.
Keduanya berjalan beriringan untuk mengambil motor Sammuel yang terparkir tak jauh dari sana. Setelah sampai, Sammuel langsung menaiki motornya tersebut dan Livy sudah berada di boncengannya.
Livy tentu tak memeluk pinggang Sammuel seperti gadis kebanyakan. Dia berpegangan pada pundak lelaki itu. Bagi Sammuel, ini adalah permulaan yang sangat baik, toh mereka belum sedekat itu untuk melakukan adegan romantis seperti di cerita novel pada umumnya.
__ADS_1
Motor sport berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan Jakarta. Mall yang akan mereka datangi memang tak jauh dari kampus mereka.