
Jika aku tak memiliki apapun, bahkan untuk memberikanmu sekuntum bunga mawar. Masih kah kau mau menerima ku dengan segenap ketulusan mu? Orang lain mungkin akan berkata: ''Hah! Pacaran kok nggak modal! Modal cinta doang, mau di kasih makan apa kalau udah nikah? Makan gombalan sama rayuan gitu!
Sakit!
Ketika kamu benar-benar mencintai seseorang. Namun, kamu justu di cemoh orang lain hanya karena kamu tak memiliki apa-apa dan hanya memiliki tekad, cinta, dan perjuangan untuk bisa membahagiakannya.
Haruskah menyalahkan takdir jika memang terlahir dari keluarga yang jauh dari kata 'berada'?
Bahkan pasanganmu pun rela membanting tulang setiap hari agar bisa sigap jika kamu menginginkan sesuatu. Tak seberapa memang, tapi wanita yang benar-benar mencintaimu dengan sungguh-sungguh dia akan mengerti tentang semua itu.
Jika hanya terteguh dengan kata-kata orang lain, sampai kapan pun kamu tak akan bisa menemukan jati dirimu.
Sampai kapan pun kamu hanya akan hidup dari kemauan orang lain. Bukan dari kemauan mu sendiri.
Aku, Sammuel. Siang dan malam ku. Kemarin, sekarang dan esok ku hanya untuk mu.
***
__ADS_1
Livy duduk dengan tenang di dalam mobil yang tengah di kendarai oleh Sammuel. Gadis itu belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Sammuel benar-benar luar biasa sekali bisa membuat jantungnya seakan meledak dengan hitungan detik.
Oke baiklah, sepertinya Livy harus segera mengintrogasi lelaki yang tengah sibuk dengan stir kemudinya itu. Maka dengan mempersiapkan mental, serta membuang wajah datarnya sejauh mungkin. Livy mulai bertanya.
"Lo nggak mau ceritain, gimana lo bisa tiba-tiba dateng ke rumah gue? Padahal gue nggak pernah kasih tau alamat rumah gue ke sembarang orang." tanyanya memulai, dalam pikirannya dia selalu bertanya-tanya darimana, darimana dan darimana. Karena jika dia tak segera mempertanyakan hal tersebut, mungkin Sammuel tak akan berinisiatif untuk bercerita.
"Siapa yang bilang kalau aku datangnya tiba-tiba? Bahkan aku udah pernah bilang ke kamu, kalau aku akan terus berusaha cari tahu tentang kamu. Ya, meskipun kamu nggak mau kasih tau aku sekalipun. Dan lagian, kenapa kamu kelihatan terkejut seperti itu?" balasnya yang tak mengalihkan atensinya dari jalanan, Sammuel kini balik bertanya dengan sangat santai. Tidak tahukah jika Livy sudah memendam rasa penasaran yang begitu banyak.
"Nggak ada cowok yang berani dateng ke kandang singa sebelumnya."
Mengernyitkan keningnya, Sammuel sedikit menoleh sesaat. "Kandang singa?"
Sammuel mengembangkan senyumnya, lelaki itu sangat paham dengan apa yang di maksud oleh Livy saat ini.
"Jadi, lo tau rumah gue dari siapa?" tanya Livy yang masih berusaha untuk menyelidiki.
Sammuel menghentikan mobilnya karena memang lampu lintas berwarna merah, kini lelaki itu menatap Livy dengan leluasa.
__ADS_1
"Emang hal seperti itu harus aku kasih tahu ya? Itu bukan sesuatu yang penting untuk kita bahas kali ini, Livy."
Ya tuhan, tinggal jawab aja apa susahnya sih, rutukan Livy dalam hati. Sepetinya lelaki itu akan bermain sedikit teka-teki dengannya kali ini.
Menolak menyerah karena Livy tak ingin terlihat konyol di depan lelaki itu, dia akhirnya tetap mendesak Sammuel. Dia benar-benar penasaran dengan lelaki yang satu ini. Jika dia tidak menuntaskan ke kepoanya saat ini juga, otaknya akan terus bertanya-tanya sampai otaknya menemukan jawaban yang sebenarnya. "PENTING! Itu penting banget untuk di bahas. Kalau enggak, gue nggak bakalan bisa tidur sampai tahun depan!" Livy kembali menampilkan wajah datarnya bahkan berkali-kali lipat dari yang tadi.
Mendengar kalimat berlebihan dari Livy, Sammuel menyerah. Memberitahukan apa yang ingin Livy tahu tanpa sedikitpun menyembunyikannya.
"Aku kemarin ngikutin kamu sewaktu kamu di jemput, jadi nggak heran kalau aku tahu alamat rumah kamu lebih cepat. Cerita selesai.''
Mendengus kesal saat mengetahui kalimat terakhir adalah kalimat yang sering di ucapkan-nya, dan Sammuel telah mengkopi paste-nya. Mencoba untuk tenang, gadis itu hanya menaikan satu alisnya. "Kenapa nggak mampir?"
"Karena aku tau, belum waktunya aku muncul di depan orang tua kamu. Aku harus persiapin diri dulu agar mental aku lebih kuat saat bertemu mereka. Dan akhirnya aku bisa."
Livy mengangguk merasa ucapan Sammuel terbilang masuk akal. Dia melirik sekilas ke arah lelaki itu sambil bergumam 'hem' untuk membalas ucapan Sammuel. Mendengar itu, Sammuel girang bukan kepalang. Senyumnya benar-benar merekah bahagia.
Melihat kelakuan Sammuel yang absurd membuat Livy memalingkan wajahnya untuk kesekian kalinya. Astaga, dia bener-bener ngelakuin apa yang dia mau. Bahkan dia rela bututin gue karena pengen tahu rumah gue. Sammuel, sebenarnya lo itu cowok kaya gimana sih? Bahkan gue aja belom tahu asal usul lo darimana. batin Livy dengan pikiran penuh tanya.
__ADS_1
Dari dulu gadis itu selalu berwajah datar, dia terbilang irit bicara saat berkumpul dengan lawan jenis atau sesama kaum hawa. Hal itu juga yang membuat Sammuel tertarik dengan Livy, gadis langka pikirnya.
Mobil kembali berhenti di depan sebuah kafe. Waktu sudah semakin siang dan juga sudah waktunya mereka mengisi perut. Maka disinilah mereka sekarang. Di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus mereka.