
Happy Reading 😘
Shi masuk ke kamar bersama sang Papi, dia memasang wajah cuek dan dingin di hadapan Gavin.
Semua orang yang mendengar pintu kamar terbuka seketika menoleh, begitu pun dengan Gavin.
Kedua matanya tak lepas dari menatap Shiena, bahkan tak berkedip sama sekali. Gavin seolah terpesona dengan kecantikan Shi.
'Dia benar benar berbeda! Sangat berbeda. Dia terlihat cantik tanpa poni.' Batin Gavin
Shiena mencium tangan Tania dan Lian bergantian.
"Om, Tante apa kabar?" Tanya Shi dengan ramah
"Alhamdulillah kami baik. Kamu apa kabar sayang? Kamu kemana aja sih? Kuliah kok gak ada kabarnya selama setahun?" Ucap Tania sambil memeluk tubuh Shi.
"Ah, iya Tan. Aku memang ingin lebih fokus saja Tan!" Jawab Shi tanpa menoleh sedikitpun pada Gavin.
'Dia ini kenapa sih? Kenapa juga gak nengok bahkan nyapa aku?' Batin Gavin dengan kesal.
"Kamu terlihat lebih cantik, iya kan Vin?" Tanya Lian pada anak laki-laki nya itu sambil menyenggol bahu Gavin.
"Bi-biasa aja!" Jawab Gavin cuek.
Shi tersenyum miring mendengar jawaban Gavin.
'Ternyata aku masih biasa di mata kamu Vin! Ya, aku sadar kok, siapa aku buat kamu!' Batin Shi dengan miris.
'Nggak Shi, kamu gak boleh terbuai. Ingat Shi teguhkan hati kamu!'
"Orang cantik gini kok di bilang biasa." Timpal Tania.
Shi hanya diam saja tanpa mau membalas ucapan Gavin. Dan itu membuat Gavin merasa kesal. Dia merasa jika Shi benar benar berubah.
Biasanya jika Gavin mengatakan itu, Shi akan langsung menonjok lengan nya, atau langsung cemberut dengan omelan di bibirnya. Tapi ini, Shi bahkan hanya diam saja dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Maaf Mi, Pi, Om, Tante. Shi mau ke kamar dulu ya! Soalnya Shi cape belum istirahat." Ucap Shi mencoba menghindari Gavin.
Tapi memang sebenarnya Shiena belum tidur sama sekali dari tadi siang.
"Iya sayang! Nanti kita ngobrol ngobrol lagi ya." Ucap Tania.
Shi mengangguk lalu pamit keluar, Gavin yang melihat itu pun menyusul Shiena ke kamar nya.
Saat Shi akan menutup pintu kamar, tiba tiba Gavin mendorong pintu itu dan masuk ke kamar Shi.
"Kamu ngapain kesini?" Kaget Shiena saat melihat Gavin masuk ke kamarnya dan malah mengunci pintu nya
"Keluar!" Ucap Shi sambil membuka kunci pintu, tapi sayang Gavin malah mengambil kuncinya dan di taruh di dalam saku celana depan nya.
"Ck, gak pernah berubah." Cebik Shi sambil berjalan ke arah balkon.
"Kenapa kamu tak menyapaku?" Tanya Gavin saat sampai di balkon kamar.
"Emang itu penting?" Sindir Shi dengan nada yang terdengar begitu datar di telinga Gavin.
Shiena yang selama ini Gavin kenal adalah wanita ceria dan cerewet.
"Katakan, mau apa mengikutiku! Aku mau istirahat cape."
Gavin menarik tangan Shi agar menghadap ke arah nya. Kedua mata mereka saling bertabrakan satu sama lain, tapi Shi segera memalingkan wajahnya
"Gak usah main kasar! Katakan mau apa?" Ketus Shi sambil menghentak kasar tangan Gavin.
Pria tampan itu cukup terkejut dengan perubahan Shi. Dari cara bicaranya saja Gavin benar benar seperti tak mengenal Shi.
"Kenapa kamu berubah? Kenapa sekarang kamu sangat berbeda?" Tanya Gavin dengan mata menyipit.
Shi yang mendengar itu malah terkekeh.
"Berubah? Berbeda? Hahaha.... Gavin, Gavin. Semua orang tentu saja akan berubah! Semua tidak akan sama terus menerus Vin, dunia saja bahkan bisa berubah. Lalu, kenapa manusia tidak?" Tutur Shi dengan tawa renyah nya
__ADS_1
"Apa kau begini karena masih marah padaku, gara gara malam itu?" Selidik Gavin
Degh
Jantung Shi tiba tiba berdebar kuat saat Gavin mengatakan soal malam itu. Dengan sekuat tenaga Shi mencoba bersikap biasa saja.
"Tidak ada yang terjadi antara kita Vin! Anggap saja itu sebuah kecelakaan. Dan ku mohon keluar dari kamarku." Usir Shi sambil menunjuk pintu kamar.
Gavin tak melihat raut kesedihan di mata Shi saat mengatakan tentang malam itu. Raut wajah Shi terlihat biasa saja, seakan malam itu tak pernah terjadi.
"Apa kau lupa jika kita sudah melakukannya? Aku rasa kau pun tak akan lupa Shi! Dan kau tahu, aku selama setahun ini mencarimu. Aku merasa bersalah sebab telah merenggut mahko--"
"Tak ada yang perlu di salahkan! Dan tak perlu ada yang merasa bersalah. Lagipula aku juga tak hamil kan? So, untuk apa merasa bersalah. Anggap saja itu keuntungan bagimu! Jadi please keluar sekarang." Ucap Shi dengan tegas.
"Tapi Shi, aku ingin min-"
"Keluar! Kamu punya kuping kan? Keluar sekarang, atau kamu mau aku bilang sama Om dan Tante! Oh, atau kamu mau berakhir di UGD karena bogeman Papi hah?" Teriak Shi sambil menunjuk wajah Gavin dengan kesal dan mata tajam nya.
Gavin sampai tersentak kaget saat mendengar bentakan Shi. Selama dia kenal dengan Shi, tak pernah ia mendengar Shi berteriak membentak seperti itu.
"Kita akan bicara lain waktu lagi Shi." Ucap Gavin lalu keluar dari balkon menuju pintu kamar.
Brak
Gavin setengah membanting pintu kamar Shi saat keluar. Hatinya berdenyut sakit saat Shi membentak nya untuk pertama kali nya.
Gavin tak melihat lagi tatapan hangat dari kedua mata Shi. Tatapan yang begitu manis nan menyejukan.
"Kamu berubah karena aku Shi. Dan aku akan berusaha untuk dekat sama kamu! Aku gak akan lepasin kamu Shi." Ucap Lirih Gavin dengan kepalan tangan nya.
Sedangkan Shiena di luar balkon, badan nya luruh ke lantai. Dia sebenarnya tak kuat berasa di sisi Gavin, apalagi bersikap seperti itu.
"Maafkan aku Vin, aku harus begitu! Jika tidak, maka aku tak akan bisa melupakan mu. Sungguh, perasaan ini sangat menyiksaku Vin."
Bersambung... ..
__ADS_1