Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)

Love In Silence (Mencintaimu Dalam Diam)
Bab 47


__ADS_3

Happy reading......


Gavin memerintahkan salah satu karyawan untuk membuang kotak yang berisi bangkai tikus itu, kemudian Gavin juga memerintahkan karyawan Shi, untuk membawakan segelas air, agar Shi lebih tenang.


"Ini, diminum dulu Sayang," ucap Gavin sambil menyerahkan segelas air dan langsung diteguk oleh Shi.


Gavin kemudian duduk di samping Shi, dia menggenggam kedua tangan wanita itu lalu membawa Shi, ke dalam dekapannya agar Shi merasa lebih tenang. Karena Gavin tahu saat ini dia tengah syok.


"Kamu jangan khawatir ya, aku akan selidiki ini. Dan aku akan mendapatkan pelakunya. Jadi, kamu tidak usah cemas!" Gavin mencoba menenangkan Shi, sambil mengelus rambut calon istrinya dengan lembut.


Kemudian Gavin memerintahkan semua karyawan untuk kumpul di ruangan Shi. Dia akan mengintrogasi satu persatu karyawan yang ada di sana, dan setelah semua kumpul, Gavin berdiri lalu memperhatikan raut wajah karyawan Shi satu persatu.


Bahkan semua karyawan Shi, tidak berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap Gavin. Mereka terus tertunduk hingga Gavin pun berkata, "siapa di sini yang terakhir kali, masuk ke ruangan Bos kalian?" tanya Gavin dengan nada dingin.


Semua terdiam, tidak ada yang berani menjawab ucapan Gavin. Dan itu membuat Gavin merasa geram. Kemudian dia pun membentak mereka, "jawab! Siapa yang terakhir masuk ke ruangan ini?" tanya Gavin dengan nada yang emosi.


Jantung mereka benar-benar sudah tidak bisa digambarkan lagi, karena saat ini mereka benar-benar ketakutan. Bahkan, keringat sudah membasahi pelipis mereka saat mendengar bentakan Gavin.


"Kenapa malah diam? Saya bertanya kepada kalian? Kalian tuli? Kalian tidak punya telinga, hah! Jawab! Siapa yang terakhir masuk ke ruangan ini?" Gavin terus mencecar mereka dengan pertanyaan, lalu satu orang wanita mengangkat tangan, membuat Gavin berjalan mendekat ke arahnya.


"Siapa nama kamu?" tanya Gavin pada gadis itu.

__ADS_1


"E-li, Pak," jawab Gadis itu dengan gugup sambil tertunduk takut.


"Angkat wajah kamu!" titah Gavin kepada gadis itu, dan dengan perlahan Gadis itu pun mengangkat wajahnya lalu dia menatap Gavin. Tapi, seketika dia menundukan wajahnya kembali, karena tidak kuat melihat tatapan tajam pria tampan yang ada di hadapannya.


"Apa yang sudah kamu taruh terakhir? Kamu ke sini ngapain?" tanya Gavin pada gadis itu.


"Saya ke sini hanya membereskan ruangan Ibu, Shi, Pak. Karena karyawan lain sedang sibuk."


"Lalu ... apa kamu yang menaruh Kotak di atas mejanya Shi? Jawab!" bentak Gavin dengan keras. Bahkan suaranya menggelegar di seisi ruangan Shi.


Melihat calon suaminya sudah tidak bisa mengontrol emosi, Shi pun berdiri, kemudian memegang lengan Gavin dan mengusap punggungnya dengan lembut. Dia tidak mau semua karyawannya merasa ketakutan akibat Gavin.


"Sabar sayang, kita tanyakan kepada mereka secara baik-baik. Jangan seperti ini, mereka bisa ketakutan," ujar Shi menenangkan emosi Gavin. Dan benar saja, pria itu langsung menghela nafasnya, sejenak memejamkan mata lalu dia pun menggenggam tangan Sienna.


"Jawab!" Gavin meminta penjelasan kepada gadis yang ada di hadapannya itu dengan nada yang sudah merendah, kemudian Gadis itu pun menjawab Jika dia masuk ke dalam ruangan Shi, membawa kotak itu yang diberikan kurir kepadanya saat dia menyapu halaman restoran.


Gavin memijat pelipisnya yang terasa begitu pusing. "Apa kamu kenal dengan kurir itu? Kenapa kamu menerimanya, dan tidak konfirmasi dulu kepada Shi? Lain kali, jika ada paket apapun untuk Bos kalian. Makankalian itu harus mengeceknya dulu, apakah itu aman atau tidak, paham!" ucap Gavin dengan tegas kepada seluruh karyawan yang ada di ruangan itu.


Mereka pun mengangguk, setelah itu mereka keluar dari ruangan Shi dengan lega. Karena mereka merasa seperti terlepas dari sebuah ikatan yang berada di lehernya, sedangkan Gavin duduk di sofa sambil menyugar rambutnya ke belakang. Dia memikirkan siapa dalang di balik semua ini.


"Ya sudah, kalau gitu aku pamit dulu. Kamu Ingat, jangan kemana-mana. Kalau ada apa-apa, kamu hubungin aku ya," ucap Gavin kepada Shi, dan langsung dibalas anggukan oleh wanita itu.

__ADS_1


********


Sesampainya Gavin di kantor, dia langsung memerintahkan detektifnya untuk menyelidiki tentang ancaman kepada Shi. Dia yakin jika ini masih ada hubungannya dengan Antara Jaya Group.


Setelah memerintahkan anak buahnya, Gavin pun membaca Berkas untuk meeting satu jam lagi. Walaupun saat ini pikirannya tidak tenang, tapi Gavin harus profesional dalam pekerjaannya. Karena dia tidak bisa mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


Tidak terasa jam makan siang pun telah tiba, Gavin segera mengambil kunci mobilnya untuk mengajak Shi makan siang di luar. Dia yakin jika calon istrinya itu masih trauma atas kejadian tadi pagi.


Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, sebab dia ingin segera sampai dan menemui Shi. Entah kenapa, dia ingin selalu berada di sisi gadis itu. Sekarang Gavin tidak bisa merasa jauh dari Shi, karena jauh sedikit saja Gavin merasa jika ada sesuatu yang kurang di dalam dirinya.


"Kita mau ke mana?" tanya Shi, saat sudah masuk ke dalam mobil Gavin. Namun, pria itu segera menggeleng dengan senyum misterius di bibirnya.


"Ada deh, pokoknya aku jamin kamu bakalan suka," ujar Gavin sambil melajukan mobilnya meninggalkan restoran Shi, dan pergi ke suatu tempat di mana dia sudah menyiapkan tempat yang spesial untuk wanita cantik yang berada di sampingnya.


Shi merasa penasaran ke mana pria tampan itu, yang bergelar menjadi calon suaminya akan membawa dia. Padahal perjalanan sudah 15 menit, tetapi masih juga belum sampai dan itu membuat Shi sangat penasaran, kemudian dia duduk menghadap ke arah Gavin lalu memegang lengan kokoh pria itu.


"Kita mau ke mana sih, Sayang? Kok dari tadi nggak sampai-sampai?" tanya Shi dengan penasaran.


"Sebentar lagi sampai kok," jawab Gavin sambil tersenyum manis. Kemudian mengacak rambut Shi, membuat wanita itu merengut kesal karena sudah capek-capek merapikan rambut tapi Gavin malah mengacak rambutnya.


Kebiasaan itu memang tidak pernah Gavin lewatkan, karena dia sangat senang mengacak-ngacak rambut Shi sedari kecil. Entah kenapa, Gavin merasa gemas jika melihat wajah Shi yang cemberut.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tujuan, Shi terpaku saat melihat kemana Gavin membawanya. Bagaimana tidak? Tempat itu begitu banyak kenangan bagi Shi dan juga Gavin, dan seketika Shi menatap ke arah Gavin dengan mata yang sudah berembun.


Bersambung......


__ADS_2