
Happy reading
Saat ini Gavin dan kedua orang tuanya, serta keluarga Shi sedang berada di ruang keluarga untuk membicarakan tentang lamaran Gavin secara resmi untuk Shiena.
Dari tadi tatapan Gavin terus mengarah kepada Shi, dia begitu terpana melihat kecantikan Shi malam ini. Rasanya Gavin benar-benar sudah tidak sabar ingin segera memperistri kekasihnya itu.
Sebenarnya dia juga bingung, padahal dulu dia hanya menganggap Shiena sebagai sahabat saja tidak pernah lebih, tapi sekarang bahkan cinta di dalam hati Gavin terasa begitu dalam kepada Shi.
"Jadi bagaimana Jo? Apa pernikahan mereka akan dilangsungkan secepatnya, atau kita tunggu Bulan depan saja?" tanya Lian kepada cocok
"Ya kalau saya sih terserah kepada Gavin dan Shi, saja. Karena kan di sini mereka yang menjalani hubungan, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan juga memberikan doa restu untuk mereka," jawab Jojo dengan bijak.
Tania dan juga Juwi mengangguk bersamaan, mereka juga setuju dengan ucapan Jojo, karena pada dasarnya orang tua hanyalah bisa mendoakan dan merestui saja selebihnya Biarlah anak-anak yang menentukan, karena merekalah yang memilih jalan hidup mereka sendiri.
"Bagaimana Gavin? Apa kamu siap untuk menikah dengan Shi secepatnya?" tanya Lian kepada Sang putra.
Gavin terdiam sejenak, kemudian dia melihat ke arah Shi, dengan senyuman manis di bibirnya lalu dia pun mengangguk. "Aku ingin pernikahanku dengan Shi secepatnya, dan aku mau pernikahan kami dirayakan dengan sangat meriah," pinta Gavin kepada Lian.
__ADS_1
Mendengar itu kedua orang tua Gavin dan juga Shi pun mengangguk setuju, lalu mereka pun menentukan tanggal pernikahan putra dan putri mereka.
Setelah acara lamaran selesai dan juga makan malam, Gavin dan juga Shi saat ini tengah duduk berdua di taman belakang yang ada di Mansion Arganendra.
"Kamu tahu? Dulu aku melihatmu itu seperti bintang," ucap Shi membuka pembicaraan, setelah beberapa saat perasaan Hening menyelimuti mereka.
"Seperti Bintang? Kenapa begitu?" heran Gavin sambil melihat ke arah Shiena yang berada di sampingnya.
"Kamu tahu! Dulu kamu itu seperti bintang, sangat jauh dan tinggi untuk ku gapai. Begitu sangat sulit, dan aku bagaikan segenggam debu yang mengharapkan menjadi sebuah bulan agar bisa bersanding dengan bintang. Namun apa daya, bahkan saat itu kamu tidak melirik ku sedikitpun," ujar Shi sambil menatap langit yang gelap dengan taburan bintang.
Gavin menundukan kepalanya, dia menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia tahu apa yang Shi rasakan saat itu, mencintai seseorang dalam diam pasti sangatlah sakit. Dan jahatnya Gavin tidak tahu tentang perasaanShi saat itu kepadanya.
Mendengar ucapan Gavin, Shi tersenyum dengan wajah yang malu-malu. Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan pria yang selama ini dia cintai.
Shi sangat bersyukur karena saat ini cinta dia sudah terbalas, dan rasa yang selama ini dia pendam setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya membuahkan hasil dan berakhir dengan bahagia.
Keduanya pun saling mencurahkan isi hati satu sama lain, hingga Tidak terasa sudah 1 jam lamanya mereka duduk di taman belakang.
__ADS_1
"Shiena ... Gavin, masuklah! Ini sudah malam," panggil Juwi.
Shiena dan Gavin pun menoleh ke belakang. "Iya Mi," jawab Shi, lalu mereka pun masuk ke dalam rumah dan menuju ruang keluarga di mana Lian dan juga Tania sudah menunggu Gavin untuk pulang.
"Baiklah Juwi, aku pulang dulu ya. Besok kita bicarakan lagi tentang pernikahan anak kita, pokoknya kita akan sangat sibuk untuk mempersiapkan semuanya," ujar Tania kepada Juwi sambil memeluk sahabatnya itu.
"Iya,.kamu hati-hati di jalan. Ingat ya Lian, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," jawab Juwi sambil menatap sekilas ke arah Lian.
Setelah itu keluarga Tania pun pulang ke rumah, dan tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan dan akan diselenggarakan bulan depan saat ulang tahun Shi.
"Gavin, Mommy berharap kamu kali ini menjaga Shiena dengan baik. Jangan pernah menyia-nyiakan wanita sebaik dia, jika itu terjadi mak Momy akan sangat marah besar kepada kamu. Dan kamu tahu kan marahnya Momy seperti apa?" ucap Tania sambil menatap Gavin yang berada di depannya.
"Benar itu Gavin, Dady juga setuju! Jangan pernah kamu menyia-nyiakan wanita sebaiknya, jika itu terjadi maka bukan hanya Mamimu yang marah, tetapi Dady akan langsung mengasingkan dirimu ke pulau yang tidak berpenghuni!" Ancam Lian kepada Sang putra.
Gavin meneguk ludahnya dengan kasar saat mendengar ancaman sang Dady, karena dia sangat tahu jika Dady-nya sudah berucap seperti itu, maka artinya ucapan itu bukanlah sekedar main-main saja.
"Baik Dad, aku tidak akan pernah menyakiti Shi, dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dia walau satu menit atau satu detik pun," jawab Gavin dengan mantap.
__ADS_1
Bersambung .. ...