
Happy reading.........
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, dan saat ini Shiena telah bersiap-siap untuk pulang dari restorannya. Dia mengambil ponsel yang ada di atas meja dan hendak memesan taksi online, tetapi pintu ruangannya sudah terbuka dan ternyata Gavin.
"Loh, kamu belum pulang?" Tanya Shiena saat melihat Gavin masuk ke dalam ruangannya.
"Aku sengaja ke sini untuk menjemput kamu."
Mendengar itu Shi tersenyum, lalu dia mengambil tasnya dan mereka pun keluar dari restoran. "Sudah makan malam belum?" Tanya Gavin saat berada di dalam mobil.
"Belum, nanti aja lah di rumah," Jawab Shiena sambil memasang sabuk pengamannya. Gavin mengangguk lalu menjalankan mobilnya keluar dari restoran.
Sebenarnya Shiena itu masih canggung dengan kedekatan dia sekarang bersama Gavin. Walaupun dulu mereka dekat, tetapi gara-gara masalah waktu itu, apalagi gara-gara kejadian satu malam antara dia dan Gavin, membuat kecanggungan di hati Shiena.
Hanya ada keheningan diantara mereka, ditemani dengan musik yang Gavin setel di dalam mobil. Keduanya masih sama-sama merasa canggung.
"Shi.....," Panggil Gavin. Shi menoleh ke arah Gavin. "Kenapa?" Tanya Shiena.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Shiena menganggukan kepalanya. "Tentu saja!" Jawab Shiena.
__ADS_1
"Kenapa sih, kamu membohongi keberangkatan kamu ke LA? Terus kenapa juga kamu tidak ingin aku bertanggung jawab? Padahal kan cinta bisa dibangun saat kita sudah menikah nanti?" Tanya Gavin sambil menoleh ke arah Shi.
Mendengar pertanyaan Gavin, Shiena hanya tersenyum, kemudian dia menatap lurus ke arah depan.
"Aku sengaja memalsukan keberangkatanku ke LA, karena aku tidak ingin kamu tahu tentang keberadaanku. Dan aku juga mau melupakan kamu dan juga kejadian malam itu. Dan kenapa aku tidak ingin menikah dengan kamu, karena aku tidak mau jika rumah tangga yang kubangun nanti tanpa cinta. Aku tahu, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalan waktu, dan juga seiring kebersamaan. Tetapi jika hati kita masih tidak bisa mencintainya, bagaimana? Apa tidak akan terluka hati pasangan kita? Pastinya akan ada hati yang terluka. Apalagi jika kamu, ataupun aku mencintai orang lain, pasti kita akan sama-sama terluka? Itu kenapa aku menolak keras Perjodohan kita! Aku tidak mau menikah tanpa cinta, karena bagiku itu sangatlah penting," Jawab Shiena panjang lebar.
Gavin terdiam mendengar penjelasan Shiena, dia sadar jika Shiena benar-benar sudah berubah. Bukan lagi wanita manja dan cengeng. Tapi sekarang Shiena adalah wanita mandiri, wanita dewasa dan penuh pertimbangan.
Sesampainya di rumah, Shi langsung turun dari mobil Gavin. Setelah itu Gavin mengantarkan Shiena sampai depan pintu. "Tidurlah, ini sudah malam. Kalau gitu aku pulang dulu ya!" Ujar Gavin kepada Shi.
"Terima kasih ya! Kamu hati-hati di jalan, kalau gitu aku masuk dulu!" Shiena pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, begitupun dengan Gavin, dia kembali masuk ke dalam mobil.
"Shi.....," Panggil Juwi saat Shiena akan masuk ke dalam kamar.
"Iya Mi, ada apa?" Tanya Shiena sambil menoleh ke arah sang Mami.
"Kamu kenapa bisa bareng sama Gavin? Apa kamu dan Gavin sudah baikan?" Juwi mengerutkan keningnya dengan tatapan menyipit ke arah Shiena.
"Oh itu..... Iya Mi, aku dan Gavin sudah sepakat. Kami akan mencoba untuk membuka hati dulu selama 2 bulan. Setelah itu jika kami memang saling mencintai, maka kami akan menikah. Tetapi jika kami tidak saling mencintai, maka kami tidak akan pernah bersama," Jawab Shiena.
__ADS_1
Juwi terdiam mendengar ucapan putrinya, dia melihat Shiena dengan tatapan yang begitu dalam. Dia sadar jika Shiena saat ini sudah dewasa dan sudah bisa menentukan Jalan hidupnya sendiri. Dengan lembut Juwi mengusap wajah Shi. "Mami percaya sama kamu! Mami serahkan semua keputusannya sama kamu! Sekarang kamu sudah dewasa, dan sudah bisa memutuskan sesuatu yang baik untuk hidup kamu," Ujar Juwi sambil memeluk tubuh Shiena.
Setelah itu Shiena pun masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, dan dia akan turun untuk makan malam.
-------------------
Pagi hari Shiena dan kedua orang tuanya sudah berada di meja makan untuk sarapan, dan sedari tadi Jojo terus memperhatikan ke arah Shiena dengan tatapan heran. Tetapi juga tersirat tatapan yang memancarkan kekecewaan kepada Shi.
"Shiena, apa benar kamu dan Gavin telah sepakat untuk membuka hati?" Tanya Jojo to the point.
"Iya Pi, Shiena rasa masalah Shiena dan Gavin harus ada titik terang. Dan kami sama-sama sudah dewasa, kami harus memutuskan jalan hidup kami. Walaupun mungkin terasa berat, kami tidak ingin melibatkan orang tua kami. Sebab ini adalah masalah kami." Shiena tahu jika dari nada bicara Papinya ada rasa kecewa, tapi Shiena sudah berjanji pada diri sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan Gavin, tanpa campur tangan orang tua.
"Sebenarnya Papi tidak setuju! Tetapi jika itu memang keputusan kamu, maka Papi akan mendukung. Tapi ingat, jika dia berani macam-macam sama kamu, lihat saja! Papi akan cincang dia."
Shiena dan Juwi terkekeh mendengar ucapan Jojo, kemudian mereka bertiga berpelukan. Lalu Juwi dan Shiena mengecup pipi Jojo. "Makasih ya Pi! Papi memang yang terbaik," Puji Shiena sambil kembali mencium pipi Jojo.
"Papi akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu, dan juga Mami. Karena bagi Papi, kalian adalah berlian di dalam hidup Papi."
Bersambung...........
__ADS_1