
Aku sudah mendapatkan tiket vip berkat Albert, jadi aku bisa duduk dikursi terdepan. Haa membayangkannya saja aku sudah sangat merasa senang. Baru kali ini aku menyaksikan fashion show oleh MIA tossay secara lansung. Semoga aku bisa beruntung dan bertemu dengan MIA Tossay.
Lesca segera memasuki ruangan dan mencari tempat duduknya dibarisan terdepan. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia menemukan nomor kursi yang sesuai dengan nomor ditiketnya. Tak lama setelah Lesca duduk, Lampu diruangan mulai dimatikan, itu memberi tanda bahwa acara akan segera dimulai. Lampu runway telah menyala, mc mulai membuka acara dan memberikan beberapa sambutan. Baru setelahnya para model berjalan satu persatu menampilkan tampilan busana yang luar biasa dan unik. Semua orang tentunya merasa takjub akan pameran busana tersebut. Hati Lesca merasa kagum dengan semua tampilan yang dipamerkan oleh para modeling diatas runway. Mata Lesca selalu berbinar setiap melihat desain maupun busana yang dihasilkan oleh MIA Tossay.
Waahhh benar-benar MIA Tossay, busana-busananya sangatlah luar biasa dan unik, ahh aku ingin seperti MIA Tossay yang bisa menciptakan busana yang begitu luar biasa. Tapi apa orang seperti MIA Tossay bisa kehilangan inspirasi ditengah-tengah jalan? Atau hanya aku yang tiba-tiba kehilangan ide saat sudah mencapai pertengahan? Hah bagaimana aku yang seperti itu bisa seperti MIA Tossay yang luar biasa…
...----------------...
Acara berlangsung dengan sangat lancar tanpa adanya kendala sedikitpun. Lesca juga menikmati acara fashion show tersebut, hanya saja ia merasa sedikit kecewa karena ia sama sekali tidak mellihat MIA Tossay dari awal sampai akhir acara. Setelah acara tersebut selesai, orang-orang berbondong-bondong keluar dari gedung. Begitupun Lesca yang segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Gedung yang sangat besar juga terpenuhi oleh orang-orang yang tertarik terhadap fashion. Karena keramaian tersebut, Lesca terdesak oleh orang-orang yang tidak sabar untuk keluar sehingga membuat Lesca hampir jatuh. Untung saja orang yang berada dibelakang Lesca cukup cepat tanggap dan mampu menangkap Lesca sebelum Lesca terjatuh. Papasan kontak mata tak bisa dihindari oleh keduanya. Setelah beberapa saat, mereka baru menyadari bahwa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
“loh? Kamu sicewek aneh?” ucap lelaki tersebut yang masih memegangi bahu Lesca dengan eratnya,
“apa? ah tidak, bisakah anda melepaskan dulu tangan anda?,” tanya Lesca yang menyadari bahwa tangan lelaki tersebut masih memegang bahunya.
__ADS_1
Apa? mengapa dia ada disini? Sungguh memalukan jika mengingat kejadian saat aku dijembatan beberapa hari lalu. Jika saja saat itu pria ini tidak menghampiriku, mungkin saat ini aku tidak akan merasa malu dengannya seperti ini.
“oh! Baik” ucap pria tersebut yang dengan sigap melepaskan tangannya dari bahu Lesca, Lescapun berdiri dan sedikit menata bajunya yang terlihat agak berantakan. Lesca mengucapkan terima kasih mengingat sedikit bantuan dari pria tersebut.
“kata orang kalau kita bertemu seseorang lebih dari satu kali berarti itu adalah takdir, jadi sepertinya kita memang ditakdirkan untuk…”
“maaf, saya harus segera pulang” ucap Lesca memotong kalimat pria tersebut. Ia tak ingin terlibat lebih dalam dengan pria tersebut, jadi Lesca berniat untuk segera pergi. Namun baru saja Lesca berbalik badan, pria tersebut malah menghadang jalan Lesca. “hei jangan buru-buru dong, mau makan permen dulu?”
Apa? apa maksutnya makan permen? Apa aku terlihat seperti anak kecil yang menginginkan permen?? Lagipula kenapa dia mencegahku? Tapi sepertinya tidak ada salahnya aku bersantai sedikit… baiklah sekali ini saja, biarkan aku bersantai sedikit, toh dirumah aku juga tidak punya kesibukan dan albert pasti juga tidak masalah dengan ini. Jika aku mengiyakannya apa dia akan benar-benar memberiku permen? Aku jadi teringat waktu kecil, nenek selalu bilang ‘tidak boleh menerima permen dari orang asing, karena dia pasti punya maksut jahat’ haha aku jadi rindu nenek. Yah sepertinya dia tidak punya niat jahat…
Aku berjalan dibelakang pria tersebut dan terus mengikutinya. Dia berjalan kearah samping gedung yang ternyata tersedia bangku-bangku untuk orang-orang yang ingin bersantai disana. Kami tidak mencari tempat duduk dan memilih untuk berjalan-jalan saja. Ia mengambil sesuatu disaku dalam jasnya. Saat ia mengeluarkan itu, aku agak sedikit tertegun menahan tawa.
“pfftt.. kamu benar-benar memberiku permen, ah aku pikir itu hanya alasan” aku tidak menyangka dia benar-benar memberikan sebuah permen padaku, hehe lucu juga. Aku merasa agak aneh tapi permennya terlihat manis.
__ADS_1
“yah bisa dibilang itu hanya alasan, aku hanya ingin mengobrol denganmu, jadi pertama-tama kamu bisa memanggilku Van”
“ohh… aku AlLesca Raveena terserahmu mau memanggil apa”
“ah.. terserahku ya… bagaimana kalau wanita aneh?”
“apa? aku tidak akan menerimanya”
Kami berkenalan dan bercanda, akhirnya dia memutuskan untuk memanggilku Alle. Kami sama- sama mengambil satu kata tersingkat dari nama masing-masing. Bisa dibilang hanya dia yang memanggilku begitu. Aku juga tidak merasa canggung dengannya, mungkin karena dia sedikit lucu?. Tidak biasanya aku seperti ini, entah kenapa aku seperti sudah lama mengenalnya padahal beberapa hari yang lalu merupakan pertemuan pertama kami. Yah tidak mungkin juga aku mengenal seorang bangsawan selain Albert. kami pun melanjutkan obrolan kami, dia juga menanyaiku tentang kejadian dijembatan kemaren dan alsanku yang membuatku ingin lompat dari jembatan. Aku menceritakan inti masalahku tapi aku tidak menyebutkan nama Albert maupun istri keduanya karena menurutku itu privasi yang menyangkut nama baik suamiku. Tidak hanya sampai disitu, ia juga mengataiku bodoh karena memilih jembatan untuk tempat bunuh diri, padahal aku sendiri juga tau kalau aku bisa berenang, dia bahkan benar-benar tertawa karena hal itu. Aku yang menatapnya tertawa lepas, jadi merasa lega dan ikut merasa senang meski aku dikatai bodoh. Ah.. aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku merasa senang seperti ini. Albert itu orangnya harmonis bukan humoris jadi aku jarang bercanda dengannya.
“sepertinya aku harus pulang sekarang” ucapku berpamitan dengan van.
“baiklah, sepertinya orang yang mengikutimu juga sudah tidak ada” ucap van padaku.
__ADS_1
“apa maksutmu?” aku sedikit terkejut dengan apa yang van katakan, apa maksutnya ada orang yang mengikutiku? Sejak kapan? Dan bagaimana dia bisa tau? Apa mungkin yang mengikutiku adalah orang suruhan Albert yang ditugaskan untuk menjagaku? Tapi jika memang iya kenapa Albert tidak bilang? Tidak, Albert tidak pernah seperti ini sebelumnya. Lalu apa orang yang mengikutiku adalah orang jahat? Aku harus berfikir tenang
“sejak awal aku melihatmu memasuki gedung, ada orang yang terus mengintaimu, kukira aku yang salah menduga tapi saat kita keluar dari gedung, dia terus mengintaimu dan malah mengikutimu jadi aku yakin kalau penguntit itu menargetkanmu”