
keduanya merasa terkejut. Ia baru menyadari bahwa wanita yang ditabraknya adalah wanita yang menikah dengan Albert, siang tadi. Dia… bukankah dia mempelai wanita tadi? Ah… aku jadi teringat kejadian tadi siang lagi ya, sungguh kenangan yang menyakitkan, dan kini aku harus tinggal seatap dengan istri keduanya Albert…. Apa aku benar-benar bisa melewati hari-hariku seperti biasa? Aku ragu….
“kakak?” panggilan tersebut membuyarkan lamunan Lesca. Ia merasa aneh karena baru kali ini ia mendapat panggilan seperti itu dari seseorang, apalagi yang memanggilnya seperti itu tak lain ialah wanita yang menikah dengan suaminya, itu benar-benar terasa aneh bagi Lesca.
“ah oh? Maaf saya harus pergi” ucap Lesca dengan gugup, Lesca berniat segera meninggalkan wanita tersebut dan menuju kekamarnya. Namun ia ditahan oleh wanita yang ia tabrak tadi. “kakak, aku ingin berbicara pada kakak… tolong kakak jangan menolak..” ucap wanita tersebut yang masih menahan tangan Lesca. bagaimana Lesca harus memberi respon? Wanita yang menikah dengan suaminya meminta untuk berbicara padanya padahal kejadian menyakitkan tadi siang sungguh masih sangat membekas dihatinya.
...----------------...
‘tidak. Aku tidak siap untuk berbicara apalagi dia adalah wanita yang dinikahi oleh Albert,’ Lesca yang sudah bertekad, akhirnya menolak ajakan wanita tersebut dan pergi meninggalkan wanita yang ia tabrak tadi.
‘aku harus membersihkan diri dulu, setelah itu aku akan mencoba menenangkan diri’
Didalam kamar mandi, Lesca menghidupkan shower dan membiarkan air dari shower tersebut mengguyur tubuhnya yang masih memakai pakaian. Ditengah guyuran air shower, Lesca meratapi lagi nasib malangnya, matanya tak kuasa menahan air mata yang Sudah kesekian kalinya. Ingin sekali ia mencurahkan semua isi hatinya, namun ia tak tau kepada siapa ia bisa mencurahkan semua kesedihan dihatinya ini. ia sendiri sadar bahwa ia tak punya siapa-siapa selain Albert yang kini juga mengkhianatinya.
……
__ADS_1
Disisi lain, Albert masih mencari Lesca diberbagai penjuru kota dan ditempat-tempat yang biasa Lesca kunjungi. Namun pencariannya yang sedari sore tak kunjung membuahkan hasil. Albert sendiri merasa frustasi, Albert ingin segera bertemu dengan Lesca tapi ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini pada Lesca nantinya. Jika ia menjelaskan semua seperti faktanya, maka itu pasti akan membuat Lesca menyalahkan diri sendiri, Albert tak mau Lesca kelam akan itu. Albert tak tau lagi harus kemana sampai akhirnya ia memarkirkan mobilnya dipinggir sebuah taman. Ia yang diam sejenak didalam mobil dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk kaca mobilnya.
“tok! tok!” Albert yang melihat wajah dibalik kaca, sontak langsung turun dari mobil, ia sangat mengenali wajah tesebut.
“oh hei bagaimana kau bisa tau kalo ini aku?” ucap Albert yang bersalaman dengan lelaki tersebut (bersalaman disini maksutnya adalah semacam salam antar sahabat yang hanya dilakukan oleh mereka).
“haha kau bercanda? Bagaimana mungkin aku lupa dengan mobilmu? Bagaimana kabarmu?”
”tidak berubah, masih tetap begini, kau sendiri?”
“haa tidak bukan begitu, sebenarnya ada masalah, tapi aku tidak berniat menceritakannya padamu. mau kuceritakan pun mungkin kau tidak akan bisa membantu juga”
“hei jangan begitu, jangan sampai aku mendengar kabar bahwa sahabatku mati karena bunuh diri , jangan seperti wanita aneh yang aku temui tadi sore, haa dia benar-benar seseorang yang konyol!”
“sebenarnya sebelum pernikahan hari ini, aku sudah beristri” jawab Albert dengan murung. Ryde yang mendengar itu, seketika terkejut dan tidak yakin akan apa yan dia dengar. “ap.. apa katamu?” tanya Ryde memastikan.
__ADS_1
Namun ditengah-tengah percakapan Albert dengan sahabat lamanya, albert mendapat pesan dari kepala pelayan yang memberitaunya bahwa Lesca sudah pulang. Melihat pesan tersebut, tanpa berfikir lagi Albert segera bergegas untuk pulang. “Ryde, aku ada urusan mendadak jadi aku pulang dulu oke?” ucap Albert yang segera menancap gas meninggalkan Ryde sahabat lamanya.
Sesampainya dirumah. Albert tak menghiraukan mona yang berada diruang tamu dan segera menuju kamar Lesca yang juga masih menjadi kamarnya. Begitu Albert membuka pintu kamar, terlihat jelas Lesca yang masih mengenakan kimono handuk sedang sedang duduk didepan cermin, rambut panjang Lesca basah terurai menutupi punggungnya.
“Le…Lesca…” ucap Albert dengan gemetar, perasaannya bercampur tak karuan. Ia merasa senang karena Lesca ada didepan mata tapi ia juga merasa takut harus menjelaskan apa kepada Lesca. Lesca sendiri juga tidak tau harus bagaimana menanggapi albert saat ini.
“Lesca… aku…..” Albert tak berani menatap wajah istrinya yang berusaha menahan tangis, Albert berlutut sembari terus menerus meminta maaf kepada Lesca. “tidak apa-apa aku mengerti, Albert kamu tenang saja” ucap Lesca yang menggigit bibir menahan tangis. Albert yang mendengar ucapan Lesca, merasa semakin bersalah karena ia tau Lesca pasti sangat terluka akan perbuatannya. Albert memeluk Lesca yang masih duduk dari belakang. Ia mengucakan kata maaf kepada Lesca yang justru membuat Lesca menangis.
“Lesca…. aku minta maaf” ucap Albert, Lesca yang merasakan kehangatan dari pelukan Albert tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia menangis sembari mengatakan keadaanya saat ini.
“Albert, aku tidak baik-baik saja, hatiku terasa begitu sakit, aku tidak bisa berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, aku tidak bisa…” tangis Lesca pecah dalam dekapan Albert. Begitupun Albert, hatinya tak kuasa menahan tangis setelah melihat istrinya menangis. Albert terus mendekap Lesca yang mencurahkan semua isi hatinya kepada Albert. Dari hati terdalam Lesca mengungkapkan bahwa ia merasa menyesal telah bertahan selama 2 tahun sesuai keinginan Albert, yang bahkan sama sekali tidak membuahkan hasil dan malah mendapat kejutan yang seperti bom diujung waktu ini. Lesca merasa sudah tidak ada lagi harapan dihidupnya, ia merasa sudah tak punya siapa-siapa didunia ini. kali ini semua yang mengganjal dihatinya, benar-benar ia curahkan kepada Albert sampai ia merasa tenang.
…….
Setelah keduanya tenang, Albert menggendong Lesca dan membaringkannya diranjang, “sayang, kamu berbaringlah dulu, aku akan membawakanmu makan malam” ucap Albert sembari mengusap lembut pipi sang istri. Lescapun mengangguk mengiyakan perkataan albert, dan setelahnya albert pergi mengambil makan malam.
__ADS_1
Baru saja Albert membuka pintu kamar, muncul sosok mona dengan expresi yang khawatir berada tepat didepan kamar mereka ‘apa dia menguping pembicaraanku dengan Lesca?’ pikir Albert yang menatap Mona sinis. “ka.. kak Al, apakah kak Lesca baik-baik saja? Mona khawatir dengan kak Lesca.. tapi mona..” belum selesai Mona bertanya, Albert malah tak menghiraukannya dan pergi begitu saja meninggalkan mona didepan kamar. Namun,