Love Is Gone

Love Is Gone
eps.22


__ADS_3

‘ah… sepertinya hari ini van tidak muncul lagi… pertemuan terakhirku dengannya itu delapan hari yang lalu, tapi kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya lagi? aku ini.. aneh..’ gumam Lesca dalam hati memaki dirinya sendiri. ia melakukan niatnya untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang. Lesca berjalan menyusuri trotoar pinggiran jalan sembari melihat sekeliling. Matanya seperti sedang mencari seseorang ditengah keramaian lalu lalang. Ia terus ingin memastikan bahwa van benaran tidak muncul ditempat tersebut. Saat matanya masih melihat sekeliling, ada seseorang yang menabraknya dengan keras sehingga membuat Lesca hampir terjatuh dijalanan. Untung saja seseorang laninnya segera menarik tangan Lesca dan malah membuat Lesca terjatuh kedalam pelukan orang tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“hampir saja… kamu tidak apa-apa? Alle?” mendengar suara orang tersebut, Lesca segera melihat keatas dan mendapati wajah tampan van yang selalu ketika tersorot cahaya matahari sore.


“van? Ehm.. bisa lepaskan dulu ini?” ucap Lesca dengan pandangan yang menengadah menatap wajah van. Van tersentak tersipu dan segera melepaskan pelukannya pada Lesca.


“ah. Maaf. Maaf…”


“pfft! Kenapa harus minta maaf? Ahahah… justru aku yang harusnya berterima kasih…” ucap Lesca yang mulai melebarkan tawanya setelah melihat van berada tepat didepannya. ‘lihat itu, wajah tampannya yang penuh tanda tanya membuatku semakin ingin tertawa…’ gumam Lesca dalam hati melihat van tersipu dengan sendirinya


“ah…. Mengingat kejadian seperti ini, aku jadi teringat pada pertemuan kita diacara fashion show Mia tossay…” ucap Lesca yang teringat akan pertemuan keduanya dengan van diacara fashion show busana Mia tossay dulu.


“tapi apa kamu juga fans Mia Tossay?” tanya Lesca melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“ehm.. ya bisa dibilang begitu…” jawab Van sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


Setelah berbincang beberapa saat, Lesca dan van memutuskan mencari tempat yang lebih nyaman untuk melanjutkan obrolan mereka. seperti biasa, Lesca ingin mencurahkan semua cerita selama sepekan terakhir ini kepada van. Seharusnya Lesca sudah memberitahu van akan kabar bahagianya pada saat mereka bertemu dimall, karena saat itu hari pertama Lesca mengetahui bahwa dirinya hamil. Namun, Lesca tau saat itu van juga tergesa-gesa…. Jadi ia tidak ingin van terganggu olehnya, Lagipula berbagi cerita ditengah waktu yang tergesa-gesa sangat tidak mengenakan.


Sebelum Lesca bertemu van, Lesca terbiasa menyimpan semuanya sendiri, baik suka maupun duka, ia pendam semuanya didalam hati sendiri. Itu membuatnya terlihat seperti seorang wanita yang kuat. Seorang wanita yang terlihat tidak membutuhkan uluran dari siapapun. Seorang wanita yang tetap menjalani hidup, meski keberadaannya saja tidak dihargai. Tidak ada yang tau bahwa sebenarnya ia bukanlah wanita yang seperti itu. Pada dasarnya Ia hanya seorang wanita yang menginginkan seorang teman untuk membicarakan hal-hal sepele bersam. Ia hanya seorang wanita yang terus merasa kesepian disepanjang perjalanan hidupnya. seorang wanita yang haus akan kehangatan dan kasih sayang. Dalam lubuk hatinya, ia sangat membutuhkan seorang teman untuk tempat ia bersandar, tempat dimana ia bisa mencurahkan dengan bebas semua cerita suka dan duka yang ia alami. Saat Albert datang dalam kehidupannya, ia memang merasakan kehangatan. Namun, Albert juga bukan malaikat penghangat yang selalu bersikap hangat kepada Lesca. Ada kalanya Albert bersika tak peduli, entah itu karena pekerjaan yang melelahkan atau apapun itu…  sesekali Lesca juga  mencoba untuk berbagi cerita dengan Albert, suaminya. Namun, sangat terlihat respon kaku dari Albert, seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal sepele seperti itu. Mengetahui respon suaminya yang seperti itu, Lesca memilih untuk tidak mengganggu dan membebani Albert dengan cerita-cerita ‘sepele’nya. Ditengah perasaan yang tenggelam dalam kesendirian, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat aneh dikehidupan Lesca yang sepi. Orang tersebut tidak memberi kehangatan seperti yang diinginkan Lesca, akan tetapi orang tersebut memberikan kebahagiaan yang baru bagi Lesca. ia begitu peka dan bisa memahami diri Lesca. Kepeka-an itu, seakan mengetahui akan rasa hampa dalam hidup Lesca. keanehan yang memberikan kebahagiaan baru ditengah rasa hampa yang terus menyelimuti hati Lesca... Semua keanehan itu muncul dalam kehadiran van yang kini membuat ketergantungan pada diri Lesca. Lesca selalu ingin berbagi cerita pada van begitu ia mengalami hal yang ‘sepele’. Oleh karena itu, Lesca menunggu pertemuannya dengan van kali ini.


“jadi… sekarang kamu hamil?”


“benar!”


“lalu kenapa kamu tidak memberitahuku saat kita bertemu dimall kemarin?


“ya, benar sih kemarin aku memang buru-buru”


“… bukankah ini merupakan sebuah anugrah dari tuhan? Tuhan melihat kesedihanku dan kesepianku selama ini, makanya ia menghadirkan malaikat kecil untuk menemaniku..” ucap Lesca yang tersenyum sembari memegangi perutnya yang masih kecil. Sementara van terdiam menatap Lesca ‘maafkan aku Alle, kedepannya… biarkan aku melindungimu..’

__ADS_1


“hah… untung saja tadi kamu tidak jatuh… terlalu berbahaya ibu hamil berjalan ditengah lalu lalang orang… bagaimana jadinya jika tadi aku tidak muncul?.. bukankah kabar bahagiamu ini akan berubah jadi kabar buruk?” ketus van pada Lesca.


“ah! Iya… aku berterima kasih untuk tadi, untung saja tadi kamu muncul disaat yang tepat….. eh, tapi bagaimana bisa kamu muncul diwaktu yang tepat begitu?” tanya Lesca yang menyadari kemunculan van tadi benar-benar sangat tepat, apa ini sebuah kebetulan? Atau keberuntungan yang diatur oleh tuhan? Padahal sejak seminggu terakhir, van sama sekali tidak muncul disekitar Lesca…. tapi hari ini ia muncul tepat disaat Lesca terdorong oleh seseorang. Jika saja tadi van tidak muncul, Lesca bisa saja kehilangan malaikat kecilnya.


“mungkin ini juga sebuah kebetulan….” Ucap van yang menatap indahnya langit senja diatasnya


“apa kamu menyukai senja?” tanya Lesca sembari ikut menatap langit senja yang begitu menakjubkan. Meskipun didaerah tersebut merupakan perkotaan, tapi itu tidak menjadi penghalang cahaya senja untuk menyinari kota mereka. dibeberapa tempat dikota tersebut termasuk jembatan saat Lesca dan van pertama kali bertemu, senja bisa dilihat dengan sangat jelas.


“apa?... tidak, aku tidak menyukai senja, kamu ini menanyakan hal aneh apa? kenapa aku harus menyukai senja.”


“apa sih.. aku kan hanya bertanya, tapi kenapa kamu tidak menyukainya?”


“aku tidak menyukainya karena pancaran sinar hangatnya mengalahkan pancaran sinar pesonaku. Jadi aku menganggap senja sebagai rivalku”


“ah…. Ahahahah, pfftt… hahaha.. kamu ini menganggap diriku aneh tapi kamu sendiri juga lebih aneh, ahahaha…pfft..” hmm… menurutku daripada rival, senja itu seperti pelengkap yang dikhususkan untuknya. Setiap wajahnya terpapar cahaya senja, ketampanannya itu sudah tidak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi… gumam Lesca dalam hati. Sejenak mereka menikmati senja bersama.

__ADS_1


“ah.. sepertinya sopir yang diutus suamiku sudah perjalanan kemari, aku akan menunggu ditempat lain”


Van yang mendengar perkataan Lesca mengerti akan kekhawatiran Lesca, “tidak, kamu tunggu saja disini, aku akan pulang” ucap van yang menahan tangan Lesca. van berdiri dan bersiap akan pergi, sebelum ia benar-benar pergi, van berkata sesuatu kepada Lesca.


__ADS_2