
Saat ini aku masih bisa tenang karena Albert tidak mencintai dia, tapi bagaimana nantinya jika Albert mencintainya? Aku harus bagaimana? Sampai saat itu, apa aku masih bisa tinggal disini?.
Aku berjalan menuju kedapur untuk mengembalikan peralatan sarapan tadi, tapi sebelum aku memasuki dapur aku malah mendengar pembicaraan para pelayan dan wanita itu….
“nona mona… anda tidak perlu memasak sendiri, anda tinggal bilang saja pada kami..”
“wah terima kasih, kalian baik sekali.. tapi mona ingin membuat camilan khusus untuk kak Lesca”
Begitu mendengar perkataan wanita itu, ada banyak pertanyaan yang muncul dipikiranku. Apa? untukku? apa dia memang orang yang sebaik itu? Apa dia juga terpaksa menikah dengan Albert? Hah… Kalau memang begitu, tidak seharusnya aku memusuhi dia. Mona adalah wanita cantik dan elegan bahkan aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya, entah itu dari segi latar belakang maupun penampilan, jadi untuk apa dia seperti ingin mendekatiku seperti itu? Kalau tidak salah kemarin juga aku mendengar ia menanyakan keadaanku pada Albert. Tapi kenapa dia sampai mengkhawatirkanku begitu? Ahh… aku benar-benar tidak tahu… sebaiknya aku mengembalikan peralatan makannya nanti.
“nona mona, benar-benar berhati baik, tapi anda tidak perlu melakukannya untuk orang itu,”
”benar nanti malah dia merasa seperti ratu,”
“hmm, mungkin dengan menggoda tuan muda dia ingin menjadi cinderella disiang bolong, hahaaha”
__ADS_1
...----------------...
Ah… aku sudah terbiasa dengan hinaan mereka, tapi… aku merasa sedikit iri dengan wanita itu. Dia baru masuk dirumah ini tapi para pelayan sangat menghormatinya. Aku sendiri yang sudah 2 tahun dirumah ini bahkan tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari para pelayan. Benar-benar…… memang kehadiranku adalah sebuah kesalahan.
“……kalian jangan seperti itu”
Eh? Apa itu? Sekilas aku seperti melihat senyum diujung bibirnya, apa aku salah lihat? Tapi tadi aku benar-benar melihatnya.. Hah.. sudahlah, itu tidak penting untukku jadi lebih baik aku kembali kekamar saja.
Sesampainya dikamar, Lesca menaruh peralatan makannya tadi dimeja yang berada disebelah ranjang, lalu ia mengambil buku gambar dilaci meja kerjanya. Ia membuka lembaran buku tersebut dan memutuskan untuk menggambar desain busana yang baru saja muncul difikirannya. Sedari kecil, Lesca memang suka menggambar. Ia juga pandai dalam hal tersebut, dan sebenarnya ia bermimpi ingin menjadi seorang desainer busana yang handal dan terkenal. Namun karena perceraian orang tuanya dan keadaan ekonomi yang sangat tidak mendukung, ia jadi menyerah akan mimpi tersebut dan memilih mencari nafkah untuk hidupnya sendiri.
Setelah Lesca menyelesaikan satu desain baju, ia terdiam memandang sketsa yang ia buat. ‘aku kehabisan inspirasi’ gumamnya dihati, saat ini Lesca kehabisan inspirasi untuk menciptakan desain lainnya. Karena itu, Ia memutuskan untuk mencari informasi trend busana saat ini diinternet. Namun, Saat mencari tau trend, Lesca malah mendapati hal yang mengejutkannya “wah!!! Aku… aku harus mengikuti ini!! aku akan bilang pada Albert nanti!!” seru Lesca yang membaca artikel tentang fashion show yang akan diadakan pada minggu ini, yang disponsori oleh Desainer MIA Tossay, Desainer terkenal yang sangat dikagumi oleh Lesca dari dulu. ‘Senangnya… sepertinya aku akan segera bertemu dengan MIA Tossay. Ah.. tidak…. Jika aku tidak bisa bertemu dengan MIA Tossay setidaknya aku bisa melihat desain-desainnya secara langsung!’ Lesca terbuai dengan kebahagiaanya dan malah melihat-lihat busana-busana yang dirancang oleh MIA Tossay diinternet sehingga ia melupakan niat awalnya tadi. Saat tengah bahagia, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Lesca.
“tok! tok!, kakak? jika kakak tidak keberatan bolehkah kakak membukakan pintu untuk Mona?” suara yang lembut ini terdengar dari balik pintu kamar Lesca. Lesca berfikir sejenak, ia merasa kalau istri kedua Albert itu, benar-benar ingin mendekatinya. Lesca bingung, bukannya ingin mendekati Albert, tapi wanita itu malah ingin mendekati Lesca yang merupakan saingannya? Ini tidak masuk akal, kecuali jika memang wanita itu menikah dengan Albert karena perjodohan dan tanpa didasari akan cinta,
“apa kakak sedang tidur?” tanya mona yang menunggu Lesca membukakan pintu.
__ADS_1
“ah.. tidak, tunggu sebentar” ucap Lesca yang bangkit dari duduknya. Lesca membuka pintu dan melihat mona yang berdiri didepan pintu kamarnya dengan membawa kue pie. “apa kakak mau bicara sebentar denganku?” tanya Mona dengan penuh harap. Kemarin wanita ini ingin berbicara denganku tapi kutolak, dan sekarang juga? Sebenarnya apa yang ingin wanita ini bicarakan denganku? Apa ini tentang pernikahannya dengan Albert? Sebaiknya kali ini aku iyakan saja…“oh.. baiklah” jawab Lesca singkat
“kalau begitu apa kakak memerbolehkan aku masuk?”
“hm? Ah, iya masuklah..” ucap Lesca mempersilahkan mona masuk kekamarnya.
“ini camilan untuk kakak... mona khusus membuatkan ini untuk kakak, semoga kakak menyukainya” ungkap mona dengan senyum manis dibibirnya sembari menyodorkan kue pie yang memang terlihat enak.
“hmm, padahal anda tidak perlu repot-repot membuatkan camilan untuk orang rendahan sepertiku” ucap Lesca tersenyum canggung. Lesca menerima kue pie tersebut dan duduk ditepi ranjangnya.
“tidak, kakak tidak boleh seperti itu, ayo kita makan bersama… aku ingin lebih mengenal kakak, itupun kalau kakak memperbolehkan..” ucap mona yang duduk disebelah Lesca.
“jadi Mona ingin meminta maaf pada kakak, Mona sebenarnya tidak berniat untuk merusak rumah tangga kakak dengan kak Albert, tapi Mona juga tidak bisa menolak perjodohan yang diatur oleh orang tua Mona. Kakak boleh membenci Mona dan menyalahkan Mona. Mona benar-benar minta maaf pada kakak… hiks… kakak pasti sangat terluka karena Mona… hiks, mona minta maaf…. Hiks” jelas mona, ia menangis meminta maaf pada Lesca, tangisannya menjelaskan bahwa ucapannya benar-benar adanya. Lesca yang merasa tidak enak, akhirnya mengiyakan permintaan maaf mona dan meminta mona untuk tidak lagi menangis. Lesca sebenarnya merasa canggung dengan keadaan ini, tapi ia juga harus menghargai permintaan maaf Mona. ‘sebenarnya disini yang tersakiti adalah aku, tapi kenapa mona yang menangis? Haih..’.
“kakak mau memaafkan mona? Terima kasih kakak..mona merasa malu karena sudah menangis didepan kakak..” ucap mona dengan sembari mengusa air matanya. Setelah beberapa saat, mona mulai berbicara lagi dan memperkenalkan diri kepada Lesca. ia memberitahu Lesca bahwa umurnya masih 22 tahun yang jelas berada 2 tahun dibawah Lesca.
__ADS_1