
“cih, aku tau kau berbohong, jadi lebih baik kau ceritakan saja. Jujur saja setiap aku melihat matamu aku selalu tau kalau kau sedang mengalami masalah, matamu itu penuh dengan luka jadi ceritakanlah semua penderitaanmu. Jika bukan kepadaku maka pada seseorang yang kau percaya saja. Jangan kau kubur sendiri dan berakhir bunuh diri” ungkap van dengan panjang dan lebar. Lesca yang mendengar perkataan van tersebut mulai bertengkar dengan hatinya. ‘aku… ingin sekali menumpahkan semua penderitaan yang telah kualami pada seseorang, tidak, tidak boleh… orang-orang itu hanya penasaran dan bukan peduli. Ah….van mungkin saja hanya asal mengucap tapi… entah ia hanya penasaran atau memang peduli, aku tidak akan mempermasalahkan itu, aku hanya ingin menumpahkan penderitaan yang telah kualami selama ini…’
“aku… ingin bercerita………” Lesca menceritakan semua yang telah ia alami entah itu penderitaan didalam keluarga maupun penderitaan menjadi istri albert, ia menceritakan semuanya. Sedangkan van mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan oleh Lesca ia hanya berfikir ‘ternyata wanita gila ini menahan semua luka itu… pantas saja hatinya selalu penuh akan duri’.
“terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, aku… ini kali pertama aku bercerita dengan seseorang, dan ini juga kali pertama ada seseorang yang mau menjadi tempatku bercerita, aku…. Merasa lega.. terima kasih” ucap Lesca yang mengakhiri ceritanya. Hatinya benar-benar merasa lega, ‘jadi begini rasanya bercerita dengan orang lain? Rasanya… melegakan’
...----------------...
“ayolah jangan berterima kasih terus, aku juga terpaksa. mau bagaimana lagi.. aku tidak mau melihat seorang gadis konyol yang melakukan prank bunuh diri lagi” ucap Van yang mengedipkan satu matanya dan melipat kedua tangannya kebelakang kepala sebagai sandarannya. Lesca menatap tajam van yang berlagak bodoh didepannya. Sedangkan Van tertawa melihat Lesca yang seperti itu. Keduanya benar-benar merasa nyaman dan bahagia saat bersama. Van yang perhatian tapi selalu mengejek Lesca dan Lesca yang selalu diam-diam tersenyum karena Van.
“entah itu karena terpaksa atau bagaimana, tapi aku berterima kasih karena kau sudah mau mendengarkan ku”
“iya, iya aku hanya bercanda, aku benar-benar tulus ingin menjadi tempat bersandarmu. Apa kau tau? Kau itu lebih kuat dari siapapun. Tapi kekuatanmu itulah yang menyembunyikan tawa lepasmu. Manusia hidup secara bersosialisasi, kau tidak punya kewajiban untuk menanggung semua itu sendiri. Jadi untuk kedepannya aku ingin kamu selalu bercerita kepadaku, apapun itu… aku harap kamu gila karena tawa bukan karena derita. Baiklah ini sudah sore, mau kuantar?”
“tidak.”
__ADS_1
………….
“lin, kamu bantu aku antarkan makanan ini pada kak Lesca ya, sepertinya kakak belum makan, dan tolong sampaikan kalau kak Albert mungkin akan lembur jadi tidak bisa segera pulang” ucap mona pada seorang pelayan. Mona menyiapkan makanan dan menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan makanan tersebut kepada Lesca. pelayan tersebut heran, mengapa mona selalu perhatian terhadap Lesca yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya. Bagaimana bisa seorang nona bangsawan begitu memperhatikan wanita rendahan yang akan menjadi saingan cintanya? ‘itu karena nona mona memiliki hati bak malaikat’ begitu pikir semua pelayan yang menyukai mona.
“nona, kenapa anda bisa begitu baik kepada dia? Bahkan sampai membuatkan makanan untuk dia? Padahal dia tidak pernah memperdulikan anda sampai seperti ini.” umpat pelayan tersebut dengan kesal. Ia tidak sudi menyiapkan makanan untuk Lesca. ia merasa Lesca yang berasal dari rakyat jelata tidak pantas mendapatkan pelayanan sebagai mestinya seorang nona bangsawan.
“hm? Mungkin kak Lesca sibuk karena itu dia tidak begitu memperhatikanku, tapi aku tidak masalah akan itu. Biar bagaimanapun kak Lesca juga istri kak Albert kamu juga tidak boleh mengabaikannya” jelas mona dengan senyum malaikatnya yang membuat pelayan tersebut merona malu karenanya. Bagi pelayan tersebut, mona adalah nona bangsawan yang sangat baik hati sampai ia tak tega untuk membantah perintahnya.
“ckck! Sibuk apanya?! Kerjaannya setiap hari hanya berada didalam kamar, bagaimana bisa nona mona menganggapnya sibuk?”
“hei kau!! Jangan bermalas-malasan dikamar!! Nona mona sudah baik membuatkan makanan untukmu, sebaiknya kamu ambil makanannya jangan buang-buang tenagaku. Dan lagi, Kata nona mona pak Albert akan lembur dengan nona mona malam ini jadi kamu sadar diri saja. Ckck dasar tidak tahu diuntung” teriak pelayan tersebut didepan kamar Lesca. ia sengaja mengatakan sesuatu yang tidak diucapkan mona, dengan maksud agar Lesca merasa sakit hati mendengarnya. Setelah berteriak, tanpa menunggu respon dari Lesca, pelayan tersebut langsung menaruh makanan Lesca tepat didepan pintu kamarnya. Dan Setelahnya, ia pergi meninggalkan makanan Lesca tergeletak begitu saja didepan pintu kamar Lesca.
Lesca yang berada didalam kamar membiarkan pelayan tersebut berteriak didepan kamarnya, setelah tidak ada teriakan yang ribut, Lesca membuka pintu dan mengambil makanan yang tergeletak didepan pintu kamarnya tersebut. Ia menduga-duga bahwa pelayan tersebut memang disuruh mona untuk mengantarkan makanan padaku, karena mona memang selalu memperhatikanku dan selalu membuatkan camilan untukku, yah walau dipikir agak aneh juga seorang bangsawan menyiapkan makanan untuk orang serendah diriku. Tapi apa mona benar lembur bersama Albert? aku merasa khawatir, terbayang hal-hal yang tidak mengenakkan yang muncul dipikiranku, tapi aku tidak boleh begini. Aku harus mencoba untuk menghilangkan bayangan-bayangan buruk yang ada dipikiranku ini. Aku tidak boleh hanya memikirkan hal-hal negative kepada mona, padahal dia sudah sebaik itu kepadaku….
…..
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 pm, Albert yang menyadari itu memutuskan untuk segera pulang. ‘Astaga, aku lupa memberitahu Lesca bahwa aku akan lembur malam ini, pasti dia masih menungguku. Aku harus segera pulang’. Albert bergegas untuk pulang. Ia mengendarai mobil mahalnya itu untuk transportasi kesehariannya. Sesampainya dirumah, Albert segera menuju kekamarnya dan mendapati Lesca yang masih terjaga dimeja kerjanya.
“Albert? kamu sudah pulang?” ucap Lesca yang masih terduduk dikursi meja kerjanya.
“sayang Kamu masih terjaga? Apa kamu menungguku? Maaf ya. Aku lupa memberitahumu kalau aku sedang lembur” ucap Albert sembari melemparkan jasnya keatas tempat tidur.
“aku tidak menunggu kamu sayng, mona juga sudah memberitahu aku kalau kamu akan lembur bersama dengannya” ucap Lesca yang berjalan mendekat kearah suaminya untuk membantu melepaskan dasi sang suami.
“dia mengatakan itu?”
“tidak, seorang pelayan menyampaikan pesan mona padaku”
“dia tidak lembur denganku” ucap Albert yang menatap lembut Lesca. setelah Lesca selesai meleas dasi sang suami, ia berjalan mengambil jas Albert yang berada diatas temat tidur. Lesca bermaksud membereskan jas suaminya yang tergeletak diatas tempat tidur.
“eh? Albert apa yang kamu lakukan?” Albert mendekat kearah Lesca, sangat dekat hingga membuat Lesca jatuh terbaring diatas tempat tidur.
__ADS_1
……