
hari ini adalah hari istimewa nyonya Tama, pesta yang megah sudah disiapkan nyonya Tama. Para tamu undangan dari keluarga bangsawan hadir satu persatu dengan tampilan yang khas bangsawan. Lesca yang berada didalam kamar menyayangkan nasibnya “kamu tidak diperbolehkan muncul diacara ulang tahun nyonya nanti dan nona juga dilarang berkeliaran disekitar area pesta” begitu ucap seorang pelayan sebelum pestanya dimulai. Dari kalimat tersebut sudah jelas bahwa nyonya Tama tidak ingin Lesca muncul dan mempermalukan nama keluarga YuTama.
“happy birthday nyonya Tama, wish all the best for you..” ucap seorang wanita separuh baya bergaya elegan kepada nyonya Tama.
“oho… thank you Mrs.Solenc… apa anda menikmati pestanya?” tanya nyonya tama dengan sopan
“saya sangat menikmati pesta nyonya, ah iya, Mona beri salam pada nyonya Tama”
“semoga hal-hal baik selalu menyertai nyonya Tama, saya Mona Solenc putri kedua keluarga solenc.” ucap seorang wanita muda yang sangat manis nan elegan.
...----------------...
“woah putri anda sangat manis!! Apa mona mengenal anak saya Albert?” nyonya Tama merasa Mona sangat cocok dengan kriteria yang ia cari, apalagi bisnis keluarga Solenc lebih besar dari bisnis keluarga Tama. Dan perusahaan solenc merupakan salah satu investor terbesar diperusahaan Tama. Akan sangat menguntungkan apabila Albert dan Mona menikah, pastinya hal itu bisa membuat perusahaan Tama menjadi lebih berkembang. Fikir nyonya Tama yang sudah berniat menjodohkan Albert dan Mona.
“ah!! Saya sangat mengagumi tuan muda Tama, hanya saja saya merasa kurang sopan bila saya mendekati beliau yang sudah beristri..” ungkap Mona yang menundukkan kepala. Ia menjawab pertanyaan nyonya Tama tentang Albert dengan antusias.
“haa… benar ya, padahal saya sangat menyukai Mona, sangat disayangkan..”
__ADS_1
“hmm.. mona bukankah kamu ada urusan dengan ayah?” ucap mrs.Solenc pada putrinya.
“yang ibu katakan benar, kalau begitu saya permisi…” ucap Mona yang beranjak meninggalkan ibunya dan Nyonya Tama.
“aih.. betapa bagusnya jika Albert tidak memilih gadis jelata dan menikah dengan Mona, sayang sekali….”
Nyonya Tama sepertinya menyukai Mona atau… nyonya Tama berfikir jikalau Albert menikah dengan mona maka perusahaan Yutama bisa mendapat sokongan dari keluarga Solenc, hmm sayang sekali kalau dia berfikir semudah itu untuk mendapat dukungan dari keluarga Solenc. Tapi kalau begini, hanya tinggal pancingan sedikit lagi untuk memasukkan Mona kedalam keluarga Tama. Baiklah.. biar ku pancing sedikit lagi.
“kenapa nyonya Tama membingungkan hal ini? menikah ya tinggal menikah, toh mona sedari awal juga sangat menyukai Albert. Bukankah pernikahan Albert tidak dipublikasikan? Jadi tinggal publikasikan saja pernikahan Albert dengan Mona nantinya.. dan juga kalau saya tidak salah, bukankah istri Albert belum mempunyai anak?” jelas mrs. Solenc.
“yah saya punya cara untuk itu.. jadi, bagaimana kalau…”
…….
“hei, nyonya besar memerintahkanmu untuk menemuinya diruangan nyonya.” Ucap seorang pelayan dibalik pintu kamar Lesca. Panggilan ‘hei’ bagi Lesca merupakan hal biasa karena sedari awal, nyonya Tama maupun pelayan keluarga Tama memang tidak menerima kehadirannya. Tanpa berpikir lagi, Lesca berjalan menuju ruangan nyonya. Sebenarnya ia merasa takut, tapi ia juga tak bisa mengelak. Apalagi saat ini suaminya yang biasanya melindunginya sedang tidak dirumah
Mama menyuruhku untuk menemuinya? Hmm ada apa ya? Apa aku akan dimarahi lagi? Tapi seharian ini aku berada didalam kamar sesuai perintahnya. Tidak, aku harus berfikir positif, mungkin saja mama ada sedikit perlu denganku. Yah mungkin begitu, jadi aku harus tetap tenang dan tak perlu takut. Tanpa disadari Lesca sudah sampai tepat didepan pintu ruangan nyonya Tama. Hatinya merasa tidak tenang dan gelisah, kringat dingin sudah bercucuran diwajahnya. Ketakutan yang dirasanya tercipta karena dari dulu tak pernah ada hal baik jika nyonya Tama sudah memanggilnya, selalu saja ia mendapat perlakuan penuh kebencian dari nyonya Tama. Lesca yang perlahan membuka pintu ruangan nyonya Tama segera disambut dengan tatapan datar dari nyonya Tama.
__ADS_1
“… Lesca menghadap mama” dengan rasa takut dihatinya, ia mengucapkan tiga kata tersebut, tangangannya menggenggam dengan erat menahan rasa takut yang ada dalam dirinya.
“ini semua karna kamu!!!” ucap nyonya Tama dengan tatpan sinis kepada Lesca, Lesca yang sekilas melihat tatapan itu, tidak berani untuk melihat lagi dan hanya mampu untuk menundukkan kepala.
“ma… maaf? Sa… saya tidak paham maksut mama?” tanya lesca memastikan maksud dari perkataan nyonya Tama.
Apa sebenarnya yang dimaksud mama? Karena aku? Sebenarnya apa yang telah terjadi karena aku? Padahal saat acara pestapun aku tidak menampakkan diri sesuai perintah beliau… tapi kenapa masih ada hal yang terjadi karena aku?.
“karena kamu!! Aku dipermalukan diacara ulang tahunku sendiri!!” teriak Nyonya tama dengan nyaring. Lesca semakin dikelilingi rasa bingung, ketakutan dan gemetar. Ia benar-benar tidak tau apa kesalahannya yang membuat nyonya Tama merasa dipermalukan di pesta ulang tahunn nyonya Tama sendiri. Padahal diipesta tersebut, ia selalu berada didalam kamar dan tidak menampakkan diri sama sekali. Bahkan untuk sekedar ke dapur, ia tak berani dan memilih untuk menahan lapar. Lantas kesalahan apalagi yang dimaksud oleh nyonya Tama?.
“ta.. tapi saya bahkan tidak menampakkan diri dipesta…” dengan gemetar ia menjawab sesuai dengan pertanyaan yang ada dipikirannya.
“BERANINYA KAMU MENGELAK!!!” teriak nyonya Tama yang melepas emosi dengan melemparkan gelas teh yang terbuat dari keramik ke arah Lesca. “kyaa!!” teriak Lesca yang terkejut. Tubuhnya jatuh tersungkur. Bersamaan dengan suara gelas yang jatuh dan pecah setelah mengenai dahi Lesca. Karena itu Dahi putihnya mengeluarkan darah. ‘sakit..’ rintihnya dalam hati. Sesaat ia teringat dengan masalalunya, dimana saat ayahnya juga melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan nyonya Tama barusan. ‘ahaha.. dulu aku juga pernah mengalami hal seperti ini… tapi kenapa aku masih saja ingin menangis?, haha aku memang gadis lemah… ‘
“bawa dia kerumah yang telah aku siapkan!!” tegas nyonya Tama. Seorang lelaki searuh baya yang ada disitu pun dengan cepat menarik tangan Lesca dengan maksud menyuruh Lesca untuk berdiri. Lesca yang belum mendapat jawaban atas kesalahan apa yang ia perbuat, memohon agar nyonya Tama mengatakan kesalahannya.
“tidak. Nyonya Tama, sebenarnya apa kesalahan saya? Saya selalu menuruti perintah nyonya Tama lalu dimana saya melakukan kesalahan lagi? Saya.. saya hanya menginginkan ridho dari nyonya.. apa itu juga termasuk kesalahan?” Lesca memberanikan diri untuk mengucapkan kalimat tersebut. Sampai sebelum tubuh Lesca benar-benar keluar melewati pintu, “Tunggu!” nyonya tama menghentinkan pelayan yang menarik tangan Lesca. Disaat seperti ini, Lesca masih memiliki secercah harapan dari satu kata tersebut. “ma… ” ucap Lesca dengan penuh harap. Mama tidak akan mengurungku kan? Mama pasti akan memaafkanku, iya pasti begitu… secercah harapan yang hadir diikiran Lesca membuyar begitu saja setelah nyonya Tama meneruskan kalimat keduanya.
__ADS_1