Love Is Gone

Love Is Gone
eps.16


__ADS_3

Lesca duduk dibangku yang berada dipinggir jalan, ia memilih untuk bersantai sebentar disana. Lesca mengambil handphonnya yang berada didalam tas, ia melihat layar wechatnya yang sama sekali tidak ada pesan yang masuk. Ia memandang pesan dari Albert yang hanya tertulis riwayat pesan kemarin. Lesca berfikir, apakah Albert dan mona sedang sibuk dikantor? Apa mereka menjadi semakin dekat? Aku… takut, hatiku penuh kecurigaan, aku harus bagaimana… aku sangat takut jika suatu saat albert mencintai mona dan membuangku,


...----------------...


aku takut terbuang… semakin memikirkan hal itu, hati Lesca menjadi semakin penuh akan kekhawatiran yang besar. Bayangan kehancuran hubungannya dengan Albert selalu menghantui pikiran Lesca. ia bebar-benar takut jika ia dan Albert akan berakhir seperti orang tuanya. Ia tak tahu harus bagaimana jika semua itu terjadi.


“tiin tin!!”


Suara klakson mobil berwarna merah terang itu mengejutkan Lesca. Mobil tersebut berhenti tepat didepannya. Lesca tak mengerti kenapa mobil tersebut menghampirinya, tak mungkin juga itu Albert, karena Albert tak pernah menaiki mobil berwarna terang seperti itu.Tak lama kemudian kaca mobil tersebut terbuka. “van?” terlihat van yang berada didalam mobil tersenyum lebar pada Lesca. ‘dia… ternyata manis juga ya’ gumam Lesca dalam hati.


“hei nona? Maukah kamu masuk?” tanya van dengan senyumnya yang terlihat manis,

__ADS_1


“tidak!” jawab Lesca dengan tegas


“yah… kalau begitu biarkan aku yang duduk disana” ucap Van yang turun dari mobil dan dengan cepat duduk disebelah Lesca. tanpa Lesca sadari, ujung bibirnya melebar perlahan, ia tak tahu mengapa ia tiba-tiba tersenyum begitu saja dan Lesca juga tidak tau mengapa suasana hatinya berubah-ubah begitu saja? Dari yang tadinya penuh kekhawatiran seketika berubah menjadi senang begitu melihat van dengan senyum manisnya.


“nah!” ucap van yang menyodorkan permen kepada Lesca. Lesca mengambil permen tersebut dan segera memakannya “permen yang kemaren ya… memang manis” gumam Lesca dengan permen yang berada didalam mulutnya. Ia heran kenapa Van selalu memberinya permen, tapi Lesca memang menyukai permen tersebut.


“hei apa maksutmu? Itu permen yang barusaja kubeli, yang kemaren kan sudah kamu makan!” ucap Van tidak terima. Yah mereka tahu bahwa itu hanya candaan “hah.. bukan itu maksutku, dasar bodoh!” umpat Lesca yang kesal.


“yah intinya terima kasih permennya tapi kenapa kau selalu memberiku permen? Dan mengapa kau bisa selalu muncul dimanapun aku berada? Jika dipikir lagi kau seperti hantu yang terus mengikutiku” ucap Lesca bercanda, tapi ia benar-benar merasa aneh, karena dimanapun Lesca pergi van selalu muncul dihadapannya.


Saat sudah tak kuasa menahan malu, Lesca segera menjauhkan wajahnya dari van “hei!! Apa yang kau lakukan!” teriak Lesca. ia menepis tangan Van yang memegang dahinya. Wajah Lesca memerah, Saat ini ia merasa aneh, hatinya berdegup kencang seperti.. saat ia pertama kali menjalin hubungan dengan albert. apa ini? kenapa jantungku berdegup kencang? Apa barusaja aku malu? Atau aku punya penyakit jantung? Ah tidak-tidak, tidak mungkin aku punya penyakit jantung… lalu tadi itu apa? padahal saat Albert mendekati wajahku seperti tadi, aku tidak merasakan sesuatu seperti ini. apa karena van merupakan orang asing? Sedangkan albert adalah suamiku, jadi mungkin karena itu perasaanku berbeda.

__ADS_1


“bekas luka didahimu?” pertanyaan van mengagetkan Lesca yang masih sibuk memikirkan perasaan anehnya tadi.


“ah! Hanya luka waktu kecil” ucap Lesca berbohong. Ia tak menyangka van bisa memperhatikan sampai seperti itu. ‘ah jadi dia melihat ini? apa dia memang orang yang peka seperti itu? Albert saja sampai saat ini, ia tidak menyadari luka ini… bagaimana van bisa memperhatikan sampai seperti itu?’ gumam Lesca dalam hati. Lesca tidak tahu bahwa Van bisa melihat kebohongan dalam ucapannya. Van tau itu luka yang baru, tapi Van memilih untuk diam dan mengikuti Lesca agar Lesca tidak terbebani saat didekatnya. Hanya saja ‘apa saat hari itu sudah ada luka didahinya?’ pertanyaan itu terus mengganggu dipikiran van.


“apa dihari saat kau dijembatan, luka itu sudah ada?” tanya van mengungkapkan pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya itu.


Lesca terdiam, pandangannya seakan tak percaya, orang yang hanya pernah bertemu dengannya tiga kali bagaimana bisa sangat teliti terhadap dirinya.


“sudah, bukankah aku sudah bilang ini luka saat aku masih kecil?” ucap Lesca. ia masih ingin membohongi van akan luka tersebut. Lesca sedari dulu tak mempunyai teman untuk bertukar cerita jadi ia sudah biasa menutup diri dari orang lain.


“cih, aku tau kau berbohong, jadi lebih baik kau ceritakan saja. Jujur saja setiap aku melihat matamu aku selalu tau kalau kau sedang mengalami masalah, matamu itu penuh dengan luka jadi ceritakanlah semua penderitaanmu. Jika bukan kepadaku maka pada seseorang yang kau percaya saja. Jangan kau kubur sendiri dan berakhir bunuh diri” ungkap van dengan panjang dan lebar. Lesca yang mendengar perkataan van tersebut mulai bertengkar dengan hatinya. ‘aku… ingin sekali menumpahkan semua penderitaan yang telah kualami pada seseorang, tidak, tidak boleh… orang-orang itu hanya penasaran dan bukan peduli. Ah….van mungkin saja hanya asal mengucap tapi… entah ia hanya penasaran atau memang peduli, aku tidak akan mempermasalahkan itu, aku hanya ingin menumpahkan penderitaan yang telah kualami selama ini…’

__ADS_1


“aku… ingin bercerita………” Lesca menceritakan semua yang telah ia alami entah itu penderitaan didalam keluarga maupun penderitaan menjadi istri albert, ia menceritakan semuanya. Sedangkan van mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan oleh Lesca ia hanya berfikir ‘ternyata wanita gila ini menahan semua luka itu… pantas saja hatinya selalu penuh akan duri’.


“terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, aku… ini kali pertama aku bercerita dengan seseorang, dan ini juga kali pertama ada seseorang yang mau menjadi tempatku bercerita, aku…. Merasa lega.. terima kasih” ucap Lesca yang mengakhiri ceritanya. Hatinya benar-benar merasa lega, ‘jadi begini rasanya bercerita dengan orang lain? Rasanya… melegakan’


__ADS_2