Love Is Gone

Love Is Gone
eps.12


__ADS_3

Aku menceritakan inti masalahku tapi aku tidak menyebutkan nama Albert maupun istri keduanya karena menurutku itu privasi yang menyangkut nama baik suamiku. Tidak hanya sampai disitu, ia juga mengataiku bodoh karena memilih jembatan untuk tempat bunuh diri, padahal aku sendiri juga tau kalau aku bisa berenang, dia bahkan benar-benar tertawa karena hal itu. Aku yang menatapnya tertawa lepas, jadi merasa lega dan ikut merasa senang meski aku dikatai bodoh. Ah.. aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali aku merasa senang seperti ini. Albert itu orangnya harmonis bukan humoris jadi aku jarang bercanda dengannya.


“sepertinya aku harus pulang sekarang” ucapku berpamitan dengan van.


“baiklah, sepertinya orang yang mengikutimu juga sudah tidak ada” ucap van padaku.


“apa maksutmu?” aku sedikit terkejut dengan apa yang van katakan, apa maksutnya ada orang yang mengikutiku? Sejak kapan? Dan bagaimana dia bisa tau? Apa mungkin yang mengikutiku adalah orang suruhan Albert yang ditugaskan untuk menjagaku? Tapi jika memang iya kenapa Albert tidak bilang? Tidak, Albert tidak pernah seperti ini sebelumnya. Lalu apa orang yang mengikutiku adalah orang jahat? Aku harus berfikir tenang


“sejak awal aku melihatmu memasuki gedung, ada orang yang terus mengintaimu, kukira aku yang salah menduga tapi saat kita keluar dari gedung, dia terus mengintaimu dan malah mengikutimu jadi aku yakin kalau penguntit itu menargetkanmu”


...----------------...

__ADS_1


“kamu jangan membuatku takut, mungkin orang itu hanya orang lewat biasa”


“apa kamu yakin? Banyak sekali kasus penguntit mesum akhir-akhir ini. daripada ada musibah nanti, sebaiknya aku mengantarmu pulang” ucap van. Niatnya memang baik, tapi jika nanti dia mengantarku pulang, mungkin nanti akan menimbulkan masalah dirumah.


“haaa, apa kamu bisa menjamin kalau kamu juga tidak punya niat buruk terhadapku?” ucapku sedikit mengejek van.


“apa? padahal aku adalah penolongmu hah!” ucap van kesal.


Aku menolak tawaran van yang berniat mengantarku pulang, aku memilih untuk mencari taksi daripada nantinya menimbulkan kesalah pahaman dan masalah yang tak diinginkan. Lagipula kita baru saja kenal jadi tidak begitu baik jika aku langsung mengiyakan tawarannya. Karena penolakanku, akhirnya Van memaksa menemaniku sampai aku mendapatkan taksi. Sampai saat itulah aku dan van berpisah. Pertemuan yang tak terduga dijembatan, sekarang membuatku mempunyai seorang teman. Kesan awal pertemuan pertama dengan van memang tidak begitu membekas untukku, tapi pertemuan kedua ini sungguh membekaskan kebahagiaan yang tak pernah kurasakan selama ini. Apalagi selama dua tahun ini aku terkurung dikediaman keluarga Tama yang penuh akan tekanan, dan bisa dibilang hanya Albert yang bisa membuatku merasa lega selama tinggal disana. Ah… tanpa kusadari ternyata hari sudah menjelang sore, waktu terus berlalu ya.. yah semoga aku akan bertemu dengannya lagi. ah… aku lelah….aku akan memejamkan mataku sebentar saja… ucap Lesca dalam batin, ia memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.


Disisi lain, Albert mendapat spam chat dari nomor yang tidak dikenal. Karna merasa kesal dengan spam chat tersebut, akhirnya ia membukanya. Albert dibuat penasaran lagi dengan spam chat yang berupa file-file image. Albert dengan rasa penasaran membuka salah satu file image tersebut, yang menampilkan gambar seorang perempuan bersama dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya. Ia mulai kesal melihat gambar itu, lalu ia membuka semua file image yang dikirim oleh nomer tersebut. Setelah melihat semua file image tersebut, Betapa kesalnya Albert karena semua file tersebut berisi foto Lesca bersama dengan seorang lelaki. Ia ingin langsung mencari tau siapa pria tersebut, Namun sayangnya, dari semua foto tidak ada satupun foto yang menunjukkan wajah lelaki itu dengan jelas. Albert yang melihat itupun semakin geram dan segera menelpon Lesca. Albert menunggu beberapa saat namun tidak ada jawaban dari istrinya, Albert yang sudah terlanjur kesal, mencoba menelpon istrinya lagi, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Lesca. Albert menelpon Lesca lima kali berturut-turut namun tetap saja tidak ada jawaban juga dari sang istri. hal ini membuat Albert menjadi semakin marah, dan karena itu, ia pun memutuskan untuk pergi ketempat fashion show yang didatangi oleh Lesca tadi pagi.

__ADS_1


Albert turun dari mobil dan berjalan menuju gedung, namun gedung sudah tutup yang berarti acaranya pun sudah selesai. Ia bertanya pada satpam disana, mencari tahu kapan tepatnya acara tersebut selesai. Ia pun mendapat jawaban bahwa acara tersebut selesai sekitar satu setengah jam yang lalu. Setelah mengetahui itu, ia segera menuju kerumahnya (kediaman keluarga Tama). Albert berfikir bahwa Lesca seharusnya sudah berada dirumah….


“nona, anda sudah sampai” ucap sopir taksi tersebut kepada Lesca, ia membuka mata dan menyadari bahwa dirinya sudah sampai dikediaman keluarga Tama (juga rumah yang ditinggali oleh Lesca). Lesca pun segera membayar ongkos taksi tersebut, lalu ia memasuki rumah dan segera menuju ke kamarnya. Sesampainya dikamar, Lesca duduk sejenak dan mengambil ponsel didalam tasnya. Ia terkejut ketika melihat layar diponselnya yang menampilkan lima riwayat panggilan tak terjawab dari Albert. ia merasa heran, kenapa Albert sampai menelponnya lima kali? Apa ada sesuatu yang terjadi? Pikirnya bertanya-tanya. dia merasa sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi, karena biasanya Albert akan meninggalkan pesan jika Lesca tak menjawab telponnya. Tanpa berpikir lagi, Lesca segera menelpon Albert. Namun, barusaja ia menekan tombol, Albert datang membuka pintu kamar dengan keras.


‘brak!’ suara pintu tersebut mengagetkan Lesca. Lesca melihat Albert yang muncul dari balik pintu dengan tatapan mata yang tajam membuat firasatnya menjadi semakin cemas.


“Al.. Albert? ada apa?” tanya Lesca yang terkejut. Ia bingung kenapa Albert terlihat seperti sedang marah, tak biasanya Albert seperti ini, jadi sebenarnya ada masalah apa sampai Albert menjadi seperti ini?


“dari mana saja kamu?” tanya balik Albert tanpa menjawab pertanyaan Lesca tadi. Albert mendekat kearah Lesca yang duduk dikursi riasnya dan menatap tajam mata Lesca.


“apa? kamu kan juga tau aku barusaja pulang dari acara fashion show tadi, memangnya dari mana lagi?” tanya Lesca yang kebingungan.

__ADS_1


“benarkah? Lalu…” Albert membungkukkan tubuhnya kedepan, tangan kirinya bersandar ditepi meja yang berada dibelakang Lesca. saat ini wajahnya dan wajah Lesca bertatapan sangat dekat, tatapan tajamnya pun terlihat jelas oleh Lesca. “apa ini?” lanjutnya memperlihatkan layar ponselnya. Lesca terbelalak melihat foto dirinya bersama van.


__ADS_2