
“ti.. tidak mungkin, Al…albert tidak mungkin menghianatiku.. itu…. Tidak mungkin..” ucapnya yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Lesca berjalan lurus memasuki gereja itu, ia mendekati mempelai pria dan mempelai wanita tersebut. Disaat Lesca sudah dekat dengan kedua mempelai tersebut, wajah Albert terlihat begitu jelas dan semakin jelas saat Albert menoleh kearah Lesca. Lesca sendiri tak kuasa menahan air mata tangisannya meledak, ia tak peduli lagi pada mata orang-orang yang menatap tajam dirinya.
Melihat Lesca yang bercucuran air mata, Albert berniat mendekat dan hendak menjelaskan pada lesca. Namun tepat setelah Albert melangkahkan kaki, lesca tersentak dengan tatapan mata yang amat tajam dari nyonya Tama. Tentu saja Lesca mengetahui maksut dari nyonya Tama, dan ia pun segera menahan Albert agar tidak mendekati dirinya. Tak lama setelah itu, 2 bodyguard mendekatin Lesca dan memberi tahu Lesca untuk tidak mengganggu acara pernikahan tersebut.
...----------------...
“aku… merestui kalian..” ucap Lesca dengan pandangan menunduk kebawah menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan air mata. Lalu setelahnya, Lesca bergegas keluar dari gereja tersebut. Albert yang ingin mengejar Lesca sudah dihadang oleh bodyguard suruhan Nyonya Tama.
Lesca menangis dan berlari tanpa arah, menyusuri jalanan yang ramai akan pengendara. Ia menyebrang tanpa melihat keadaan sekitar yang membuat mobil berdecit dan mengklakson karenanya, namun ia tak peduli dan terus berjalan. Setelah sekian lama berjalan, Lesca akhirnya berhenti disebuah taman. Lesca terduduk disebuah bangku kosong ditengah taman tersebut, dan tangisnya pun semakin menjadi-jadi. Saat ini hatinya benar-benar hancur, satu-satunya orang yang dia percaya, malah mengkhianati cintanya.
“haaa… sebenarnya apa salahku? Kenapa dunia memperlakukanku dengan begini? Kenapa? Sebenarnya kenapa?...” gumam Lesca dengan tangis yang tersedu-sedu. Setelah beberaa saat menenangkan diri, Lesca mengamati sekitarnya dan malah mendapati seorang anak kecil yang dimanja oleh ayahnya. Hal seperti itu semakin membuat Lesca semakin menangis hancur. Karena dari kecil ia selalu mendambakan kasih sayang dari ayahnya, namun sampai saat ini pun ia tak pernah mendapat kasih sayang dari seseorang. Bahkan satu-satunya orang yang mencintainya kini membagi hatinya untuk orang lain juga. “hahahaha!!! Jika akhirnya begini, lantas untuk apa aku bertahan selama 2 tahun ini?!!!” Lesca berteriak dengan tangisan yang hebat. Mungkin orang-orang yang melihatnya akan berfikir dia gila. Tapi ia sudah tidak menghiraukan apapun yang orang lain fikirkan.
“sudah begini… aku hidup untuk apa lagi…. hahaha” ucap Lesca dengan tawa yang dipenuhi kesedihan. ia pun beranjak dari kursi dan berjalan lagi, Lesca berjalan menuju jembatan yang ada didekat daerah tersebut. Setelah menemukan jembatan terdekat, Lesca berdiri ditebing jembatan, ia terdiam sejenak menatapi air sungai yang begitu tenang. ia iri melihat air sungai yang begitu tenang mengikuti arah arus yang seharusnya. apa sebaiknya aku ikut menyatu dengan air sungai ini? agar aku bisa hidup tenang tanpa mengharapkan sesuatu yang tak bisa kugapai. Sesaat ia berikir seperti itu, Tapi… Jarak dari jembatan ke sungai ini cukup amat tinggi sampai Lesca merasa merinding hanya dengan melihatnya. Setelah menyadari ketinggian jembatan tersebut, ia perlahan memundurkan langkahnya. Saat sudah berada disisi yang aman, ia dikejutkan dengan seseorang yang sudah berada disampingnya.
__ADS_1
“hmm? Kenapa tidak jadi melompat?” tanya seorang lelaki asing kepada Lesca. wajah yang begitu tampan terlihat sangat jelas dimata Lesca. kulit putih yang begitu bersinar karena pantulan cahaya matahari sore membuat pria tersebut terlihat semakin sempurna.
“maaf? Siapa anda??” tanya Lesca kepada lelaki yang menyilaukan matanya itu.
“aku hanya orang lewat yang melihat sesorang berniat melompat dari jembatan” jawab lelaki tersebut dengan singkat.
“apa? Apa anda berfikir saya ingin mengakhiri hidup saya?” tanya Lesca seakan tidak menyangka akan tebakan pria tersebut.
“oh, apakah tidak? Kukira kamu benar-benar berniat mengakhiri hidupmu.”
“hmm… jangan percaya dengan ketenangan air, aku tidak tau apa masalahmu, tapi jangan menyerah atas hidupmu, setidaknya untuk dirimu sendiri.” Ucap pria tersebut sembari memberikan sesuatu ditanganku dan lalu ia pergi begitu saja.
“hah? Permen?”
__ADS_1
…….
“huh!! Berani-beraninya dia masih punya muka untuk kembali kerumah ini”
“apa dia pikir dia masih diperlukan?hah, memang tidak tau diri.”
Bisikan-bisikan para pelayan dikediaman keluarga Tama mulai terdengar. Namun hal seperti itu sudah biasa bagi Lesca. perkataan-perkataan mereka sudah sering terdengar oleh telingaku, hanya saja bagaimana aku harus menhadapi Albert yang telah memilih untuk membagi cintanya?... Lesca berfikir sembari berjalan menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Ia terbenam dalam pikirannya sampai-sampai ia tidak tau bahwa didepannya juga ada seseorang yang berjalan.
‘Brak!!’ barang-barang yang dibawa oleh wanita itu terjatuh begitu saja. Wanita tersebut segera membungkuk dan membereskan barang-barangnya. Sembari mengucakan kata maaf kepada Lesca.
“ah.. maafkan saya karena tidak berhati-hati” ucap wanita tersebut meminta maaf.
“tidak, ini salah saya yang tidak melihat jalan” Lesca sendiri juga meminta maaf tanpa melihat siapa orang yang ia tabrak dab langsung ikut membantu membereskan barang wanita tersebut. Saat hendak memberikan barang kepada wanita itu, keduanya merasa terkejut. Ia baru menyadari bahwa wanita yang ditabraknya adalah wanita yang menikah dengan Albert, siang tadi. Dia… bukankah dia mempelai wanita tadi? Ah… aku jadi teringat kejadian tadi siang lagi ya, sungguh kenangan yang menyakitkan, dan kini aku harus tinggal seatap dengan istri keduanya Albert…. Apa aku benar-benar bisa melewati hari-hariku seperti biasa? Aku ragu….
__ADS_1
“kakak?” panggilan tersebut membuyarkan lamunan Lesca. Ia merasa aneh karena baru kali ini ia mendapat panggilan seperti itu dari seseorang, apalagi yang memanggilnya seperti itu tak lain ialah wanita yang menikah dengan suaminya, itu benar-benar terasa aneh bagi Lesca.
“ah oh? Maaf saya harus pergi” ucap Lesca dengan gugup, Lesca berniat segera meninggalkan wanita tersebut dan menuju kekamarnya. Namun ia ditahan oleh wanita yang ia tabrak tadi. “kakak, aku ingin berbicara pada kakak… tolong kakak jangan menolak..” ucap wanita tersebut yang masih menahan tangan Lesca. bagaimana Lesca harus memberi respon? Wanita yang menikah dengan suaminya meminta untuk berbicara padanya padahal kejadian menyakitkan tadi siang sungguh masih sangat membekas dihatinya. ‘tidak. Aku tidak siap untuk berbicara apalagi dia adalah wanita yang dinikahi oleh Albert,’ Lesca yang sudah bertekad, akhirnya menolak ajakan wanita tersebut dan pergi meninggalkan wanita yang ia tabrak tadi.