
“ehmm? Apa kak Lesca sedang sakit?” tanya mona pada Lesca yang baru saja duduk dikursi depan mona. Lesca melihat tatapan lembut mona yang sedang mengkhawatirkan dirinya, “ah.. tidak, aku baik-baik saja” jawab Lesca dengan senyum. Setelah mendapat jawaban, mona memandang Albert dengan penuh rasa penasaran. Namun, Albert sendiri sedang sibuk mengisi piring Lesca dengan nasi dan sayur tanpa mempedulikan mona yang memperhatikannya. ‘sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka?’ gumam mona dalam hati.
“melihat kak Albert tadi memapah kak Lesca, mona kira kak Lesca sedang sakit… syukurlah kalau kak Lesca baik-baik saja“
“ahaha.. itu karena Albert yang memperhatikanku dengan berlebihan.. ah! Albert sayurnya terlalu banyak, bagaimana aku bisa memakan ini semua?!”
“ibu hamil harus banyak-banyak memakan makanan yang bergizi, jangan menolak”
‘apa?!!! ha..mil?!!!’ Mona terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Albert, hingga tanpa sadar ia menjatuhkan garpu miliknya.ia tak menyangka Lesca yang dikiranya memiliki rahim lemah bisa hamil begitu saja. Sesaat ia bingung dengan situasinya sekarang. Ia kalut dalam pikirannya tang tidak tau apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“mona?” panggil Lesca membangunkan mona dari lamunannya.
“ah! Maaf, saya baru ingat ada dokumen yang harus segera saya kerjakan, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu” ucap Mona sembari mengambil tasnya. Ia segera keluar dan menuju ke garasi mobil. Mona mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa memperhatikan lalu lintas disekitarnya. ‘ck, sialan!!’ gumam mona dalam hati sesekali tangannya memukul setir mobilnya… “sekarang…. Apa yang harus kulakukan?.... apa aku perlu meminta bantuan mama?” mona terdiam sesaat memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Karena dengan kehamilan Lesca, semua rencana yang menuju tujuannya menjadi berantakan.
__ADS_1
“tidak-tidak, sepertinya aku tau cara mengatasinya tanpa harus mengubah rencanaku semula..” ucap mona sembari memikirkan rencana yang akan ia susun. Wajahnya mulai menunjukkan senyum seringai penuh ambisi. “ahahaha benar, aku bisa menyelesaikannya sendiri tanpa meminta bantuan mama maupun pria bodoh itu!” ucap mona dengan sekilas bayangan tentang pria yang ia temui tadi malam.
“bukankah makanan yang aku berikan setiap hari itu sudah sangat membantuku kalau begitu aku harus segera bertindak, sebelum janin itu benar-benar menggangguku”
…..
Lesca sibuk membantu Albert untuk bersiap kekantor. Lesca juga berfikir bahwa dirinya juga perlu bersiap untuk bekerja. Namun, Jika sesuai dengan sifat Albert, Lesca pasti tidak akan diperbolehkan untuk bekerja… tapi. Lesca sangat senang saat melakukan pekerjaan ini, ia juga sudah merasa sangat nyaman dengan pekerjaan yang dia lakukan. Jadi mau tidak mau Lesca harus sedikit berusaha untuk membujuk albert suaminya. Agar ia diperbolehkan untuk tetap melakukan pekerjaannya. “aku harus membujuk suamiku” Lesca memutuskan untuk membujuk Albert sekeras mungkin agar ia tetap bisa bekerja. Tentu saja ini tidak akan mudah pada awalnya.
“hm… sayang kamu ingin memakai dasi warna apa?” tanya Lesca pada suaminya sembari memandangi dua dasi yang dipegangnya.
“kalau begitu yang ini saja….” Ucap Lesca yang meletakkan dasi yang ia pegang drngan tangan kirinya. Lesca mulai memasangkan dasi berwarna biru donker yang ada ditangan kanannya ke kerah suaminya, Albert. ‘ini kesempatanku untuk membujuk Albert’
“sayang….” Ucap Lesca dengan lembut, sembari menata dasi Albert, Albertpun menjawab panggilan Lesca dan menanyakan alasan Lesca memanggilnya.
__ADS_1
“sayang, aku akan merasa bosan jika dirumah terus, jadi…” belum selesai Lesca mnegucapkan kalimatnya, Albert sudah menyela dengan jawaban yang tegas dan terdengar seperti tidak bisa diganggu gugat lagi. “Ti.Dak Bo.Leh!” itu tentu saja mengejutkan Lesca yang bahkan belum bilang ingin tetap bekerja.
“a..apa?! sayang..!”
“sayang dengarkan aku, kamu hanya perlu beristirahat saja dirumah kamu tidak perlu melakukan hal-hal tidak penting seperti itu… ini juga demi kesehatan anak kita” ucap Albert dengan penuh ketegasan. Namun, Lesca juga tidak menyerah untuk terus membujuk suaminya. Dengan beberapa perdebatan kecil dan sedikit akting, akhirnya Lesca mendapatkan ijin dari Albert untuk tetap melakukan pekerjaannya dengan syarat Lesca harus diantar jemput oleh sopir pribadi yang diutus oleh Albert. sebenarnya tanpa sepengetahuan Lesca, Albert memberikan uang angpao pada para pekerja dirumahnya tidak lain dengan tujuan untuk membungkam mulut mereka agar tidak memberitahukan kabar kehamilan istrinya pada nyonya Tama.
....
Satu minggu sudah berlalu semenjak Albert mengizinkanku untuk tetap bekerja. Selama satu minggu ini tidak ada sesuatu yang berubah, perutku juga belum membesar… yah memang wajar saja, karena kandunganku masih berusia tiga bulan berjalan. Hanya saja aku selalu merasa perlakuan mona menjadi semakin aneh. Setelah mengetahui aku sedang mengandung anaknya Albert, mona menjadi semakin baik padaku, dia justru semakin antusias memilihkan suplemen ibu hamil untukku, yah meskipun Albert sudah membelikanku banyak suplemen. Dulu karena aku merasa baru pertama kali mendapat perlakuan spesial semacam itu, aku menerima makananan yang ia siapkan untukku karena aku ingin menghargai kebaikan yang ia berikan padaku. Tapi jika dipikir lagi sekarang, mungkin sikap mona yang selalu baik padaku itu agak aneh, terkadang, sesekali aku merasa tatapan mona sangat tajam padaku sesaat. Tapi aku juga tidak dapat memastikannya karena aku tidak tau apakah itu benar-benar tatapan nyata yang hanya sekilas atau hanya ilusi sensitifku….
Selama satu minggu ini, Lesca menjalankan pekerjaannya dengan baik tanpa adanya kendala. Namun, ia merasa murung karena selama sepekan terakhir dia sama sekali tidak bertemu dengan van, teman yang menjadi wadah pencurahan isi hatinya. Lesca selalu mengharakan pertemuannya dengan van sebelum ia menyuruh sopir untuk menjemputnya. Namun sepekan terakhir ini, van sama sekali tidak muncul ditempat biasanya mereka bertemu.
‘ah… sepertinya hari ini van tidak muncul lagi… pertemuan terakhirku dengannya itu delapan hari yang lalu, tapi kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya lagi? aku ini.. aneh..’ gumam Lesca dalam hati memaki dirinya sendiri. ia melakukan niatnya untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang. Lesca berjalan menyusuri trotoar pinggiran jalan sembari melihat sekeliling. Matanya seperti sedang mencari seseorang ditengah keramaian lalu lalang. Ia terus ingin memastikan bahwa van benaran tidak muncul ditempat tersebut. Saat matanya masih melihat sekeliling, ada seseorang yang menabraknya dengan keras sehingga membuat Lesca hampir terjatuh dijalanan. Untung saja seseorang laninnya segera menarik tangan Lesca dan malah membuat Lesca terjatuh kedalam pelukan orang tersebut.
__ADS_1
“hampir saja… kamu tidak apa-apa? Alle?” mendengar suara orang tersebut, Lesca segera melihat keatas dan mendapati wajah tampan van yang selalu ketika tersorot cahaya matahari sore.