Love Is Gone

Love Is Gone
eps.8


__ADS_3

“Albert, aku tidak baik-baik saja, hatiku terasa begitu sakit, aku tidak bisa berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa, aku tidak bisa…” tangis Lesca pecah dalam dekapan Albert. Begitupun Albert, hatinya tak kuasa menahan tangis setelah melihat istrinya menangis. Albert terus mendekap Lesca yang mencurahkan semua isi hatinya kepada Albert. Dari hati terdalam Lesca mengungkapkan bahwa ia merasa menyesal telah bertahan selama 2 tahun sesuai keinginan Albert, yang bahkan sama sekali tidak membuahkan hasil dan malah mendapat kejutan yang seperti bom diujung waktu ini. Lesca merasa sudah tidak ada lagi harapan dihidupnya, ia merasa sudah tak punya siapa-siapa didunia ini. kali ini semua yang mengganjal dihatinya, benar-benar ia curahkan kepada Albert sampai ia merasa tenang.


…….


Setelah keduanya tenang, Albert menggendong Lesca dan membaringkannya diranjang, “sayang, kamu berbaringlah dulu, aku akan membawakanmu makan malam” ucap Albert sembari mengusap lembut pipi sang istri. Lescapun mengangguk mengiyakan perkataan albert, dan setelahnya albert pergi mengambil makan malam.


Baru saja Albert membuka pintu kamar, muncul sosok mona dengan expresi yang khawatir berada tepat didepan kamar mereka ‘apa dia menguping pembicaraanku dengan Lesca?’ pikir Albert yang menatap Mona sinis.


...----------------...


“ka.. kak Al, apakah kak Lesca baik-baik saja? Mona khawatir dengan kak Lesca.. tapi mona..” belum selesai Mona bertanya, Albert malah tak menghiraukannya dan pergi begitu saja meninggalkan mona didepan kamar. Namun, mona juga tidak menyerah, Karena masih penasaran dengan keadaan Lesca, ia terus mengikuti Albert sampai kedapur. Dan sesampainya didapur, mona bahkan menawarkan diri untuk menyiapkan makanan Lesca,


“ah, apa kakak mau menyiapkan makanan untuk kak Lesca? biar mona saja yang menyiapkannya” ucap mona yang segera mengambil piring dengan tergesa-gesa sampai akhirnya ia malah menjatuhkan piring yang diambilnya hingga membuat piring tersebut pecah. “pyar!!!”


”kyaa!!” Tangan mona gemetar, ia terkejut karena piring tersebut. Dirumahnya, kediaman keluarga solenc, ia tak perlu repot-repot mengambil piring. Tinggal mengucapkan satu kalimat saja makanan sudah disajikan didepannya. Albert yang melihatnya merasa kesal dengan semua tingkah mona, ia merasa mona terlalu mencari muka didepannya. Ia juga khawatir bahwa mona dan mamanya telah bekerja sama.


“kamu tidak perlu ikut campur dalam urusanku dan Lesca!” ucap Albert dengan sinis, segera ia meninggalkan mona yang masih gemetar dan pergi kembali kekamarnya.


“astaga nona mona.. apa nona baik-baik saja?” ucapan salah seorang pelayan yang membantu mona masih terdengar ditelinga Albert. Tapi tidak ada satupun yang sadar, bahwa ditengah keributan itu, ada bibir yang tersenyum puas.

__ADS_1


Albert kembali mendatangi Lesca, ia duduk disamping Lesca dan menyuruh Lesca untuk minum terlebih dahulu, karena Albert tau setelah seseorang menangis maka seseorang itu pasti akan merasa haus. Albert dengan hati-hati menyuapi Lesca yang terlihat lelah. Albert juga bertanya tentang kejadian nyonya Tama yang mengurung Lesca, ia juga bertanya tentang keadaan Lesca selama pengurungan Lesca.


“sudah, aku ingin istirahat” ucap Lesca yang memalingkan badan


“istirahatlah sayang,”


……..


“sayang, bangunlah… sarapannya sudah siap, ayo turun.” Suara Albert dengan lembut membangunkan Lesca dari tidurnya.


Suara yang sangat familiar ini membangunkanku dengan lembut. Dialah orang yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Senyumnya membuatku merasa bahwa apa yang terjadi kemarin itu hanyalah mimpi buruk. Ya, memang terasa seperti hanya mimpi buruk, tapi begitu aku keluar dari kamar dan melihat wanita itu berada dimeja makan, aku tersadar kembali bahwa mimpi buruk inilah kenyataan yang harus aku jalani. Jadi aku harus menerima kenyataan yang pahit ini.


“aku tidak menyalahkanmu lagi, apa kamu sudah mau kekantor?” tanyaku dengan hati yang masih berat.


“iya, sayanguntuk kedepannya kamu tidak perlu khawatir akan mama lagi, karena mama sudah pindah mengikuti papa sebagai bentuk kesepakatannya denganku. Aku tidak ingin kamu terus menderita karena mama, dan aku juga bisa memastikan bahwa saat ini dan seterusnya aku tidak akan punya perasaan kepada mona!” ucap Albert sembari menggenggam erat kedua tanganku.


“……”


Aku terdiam membuang muka. Sedari kemarin aku berfikir kenapa Albert tiba-tiba mau menikah dengan wanita pilihan mamanya? apa ini kesepakatan yang dilakukan Albert agar mama tidak menyusahkanku lagi? ini… memang masuk akal tapi hatiku masih tidak bisa menerima kenyataan ini, meski begitu aku juga tidak bisa melakukan apapun, Toh juga sudah terjadi aku juga tidak bisa hanya menyalahkannya.

__ADS_1


“pantas saja sejak kembali kerumah ini, aku tidak melihat mama, tapi bukannya papa tinggal diluar negri?”


“benar, jadi untuk selanjutnya mama tidak akan menyusahkanmu lagi” ‘maaf Lesca aku tidak memberitahumu alasan yang sebenarnya’ gumam Albert dalam hati menatap lekat wajah istrinya. Ia mencium kening istrinya dan lalu berpamitan untuk pergi kekantor.


Setelah Albert berangkat kekantor, aku jadi dirumah sendirian seperti biasanya. Ah, bukan, bukan seperti biasanya. Mama memang sudah tidak disini, tapi malah diganti oleh istri kedua Albert, jadi tidak bisa untuk dikatakan sendirian. Hah… aku ingin mengelu.. Saat ini aku masih bisa tenang karena Albert tidak mencintai dia, tapi bagaimana nantinya jika Albert mencintainya? Aku harus bagaimana? Sampai saat itu, apa aku masih bisa tinggal disini?.


Aku berjalan menuju kedapur untuk mengembalikan peralatan sarapan tadi, tapi sebelum aku memasuki dapur aku malah mendengar pembicaraan para pelayan dan wanita itu….


“nona mona… anda tidak perlu memasak sendiri, anda tinggal bilang saja pada kami..”


“wah terima kasih, kalian baik sekali.. tapi mona ingin membuat camilan khusus untuk kak Lesca”


Begitu mendengar perkataan wanita itu, ada banyak pertanyaan yang muncul dipikiranku. Apa? untukku? apa dia memang orang yang sebaik itu? Apa dia juga terpaksa menikah dengan Albert? Hah… Kalau memang begitu, tidak seharusnya aku memusuhi dia. Mona adalah wanita cantik dan elegan bahkan aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya, entah itu dari segi latar belakang maupun penampilan, jadi untuk apa dia seperti ingin mendekatiku seperti itu? Kalau tidak salah kemarin juga aku mendengar ia menanyakan keadaanku pada Albert. Tapi kenapa dia sampai mengkhawatirkanku begitu? Ahh… aku benar-benar tidak tahu… sebaiknya aku mengembalikan peralatan makannya nanti.


“nona mona, benar-benar berhati baik, tapi anda tidak perlu melakukannya untuk orang itu,”


”benar nanti malah dia merasa seperti ratu,”


“hmm, mungkin dengan menggoda tuan muda dia ingin menjadi cinderella disiang bolong, hahaaha”

__ADS_1


__ADS_2