
"Kamu boleh berkata seperti itu tapi bagi kakak, mengkhawatirkanmu bukan hal yang sia-sia. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang seorang kakak. Dan—Kamu tidak akan pernah bisa membatasi perasaan kakak. Baik itu sekarang ataupun nanti," ucap Ezio tanpa tersenyum. Namun nada bicaranya serius, tulus dan juga penuh penegasan.
"Baiklah. Terserah apa kata kakak saja. Sekarang aku ingin pergi beristirahat," Zane merasa malas berdebat lebih panjang dengan sang kakak. Sehingga ia ingin bergegas pergi ke kamarnya dan beristirahat.
Sebelum ia melangkahkan kaki, Ezio mencekal pergelangan tangannya. "Setidaknya beritahu kakak dulu apa yang kamu lakukan pada Eiden. Dia tidak bebuat macam-macam padamu, kan?".
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan. Mulai besok dia tidak akan mengganggu kakak lagi. Tenang saja," sahut Zane tanpa menjawab pertanyaan terakhir dari Ezio.
"Selamat malam," sambungnya melepas cekalan tangan Ezio.
Mau tidak mau Ezio melepaskan cekalan tangannya pada Zane. Gadis itu segera berjalan pergi menuju kamarnya. Kepergiannya hanya di tatap diam oleh Ezio.
"Kakak tidak mengkhawatirkan soal dia tapi dirimu, Zane. Kamu tahu itu dengan jelas,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari setelah malam itu, kabar tentang hancurnya kekuasaan tuan Eiden telah terdengar dimana-mana. Orang-orang berpikir bahwa tuan Eiden mengalami kebangkrutan akibat kegagalan proyek. Dimana hal itu menyebabkan kekuasaan yang selama ini di perlihatkannya ikut hancur sampai tidak tersisa. Sayangnya, pemikiran semua orang salah besar. Kekuasaan tuan Eiden bukan hancur karena bangkrut tapi di sebabkan oleh Zane. Gadis itu sungguh tidak pernah memberikan lawannya pelajaran hanya dengan setengah-setengah.
"Kerja bagus, Zane. Kamu memang tidak pernah mengecewakan papa dan mama," ucap tuan Ivon tersenyum puas pada sang putri yang sedang duduk tidak jauh darinya.
Saat ini tuan Ivon, nyonya Tasanee, Zane dan juga Azrail tengah berkumpul di ruang keluarga. Mereka tidak punya kegiatan apapun sebab weekend. Sedangkan Ezio belum juga bergabung dengan mereka karena sibuk mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya.
Zane menganggukkan kepala. "Ini sudah tugasku,"
"Tugas yang membahayakan," timpal Ezio yang tiba-tiba datang dan duduk tepat di sebelah adik perempuannya itu.
"Apa maksudmu, Ezio?" nyonya Tasanee bertanya, seolah tidak mengerti.
__ADS_1
"Mama pasti lebih mengerti ucapanku ini, bukan?" tanya Ezio balik.
Azrail yang duduk di antara orang tua dan kedua kakaknya itu tampak menghela nafas. Setiap kali berkumpul seperti itu, maka akan terjadi adu mulut antara Ezio dan kedua orangnya. Bosan? Jelas saja ia merasa bosan terhadap perdebatan ketiga orang itu yang tidak pernah berakhir dengan kata damai atau sependapat. Padahal dalam hatinya, ia juga menginginkan keluarga yang harmonis bukan justru sebaliknya.
"Pa, Ma—Aku mau main ke rumah temanku. Nanti sore baru pulang,"
Pertanyaan Azrail tentunya menghentikan perdebatan antara Ezio dan nyonya Tasanee yang baru saja di mulai. Daripada mendengarkan perdebatan yang membosankan, Azrail berpikir untuk pergi ke rumah temannya dan menghabiskan waktu seharian di sana.
"Hmmm pergilah!" sahut tuan Ivon mengizinkan.
Tanpa berbicara lagi, Azrail segera beranjak pergi meninggalkan ke empat orang itu di ruang keluarga. Belum sempat nyonya Tasanee membuka suara kembali, terdengar ponsel Zane berdering.
Drttt... Drttt... Drttt...
Zane langsung memeriksa ponselnya. Tidak ada perubahan dari raut wajahnya yang terlihat—Datar seperti biasa.
Ia pergi sebelum mendapat jawaban dari ketiga orang itu. Telepon itu begitu penting sampai tampak sedikit membuatnya tergesa-gesa. Kini tinggallah Ezio dan kedua orang tuanya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Aku juga akan pergi!" seru Ezio sembari beranjak berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya tuan Ivon.
Ezio menatap tuan Ivon dan nyonya Tasanee secara bergantian. "Kemana saja,"
"Apa begini sikapmu? Papa bertanya baik-baik. Seharusnya kamu menjawab dengan benar," nyonya Tasanee menegur sikap Ezio yang tidak sopan.
"Aku bersikap sesuai dengan bagaimana sikap orang itu sendiri. Jadi jika papa dan mama ingin aku bersikap baik, maka perbaiki dulu sikap kalian pada adikku!" cetus Ezio dingin—Begitu pula dengan raut wajahnya.
__ADS_1
"Jaga sikapmu, Ezio! Mama tidak pernah mengajarkanmu bersikap seperti ini pada orang tua," tukas nyonya Tasanee sedikit meninggikan nada bicaranya. Entah mengapa setiap kali berbicara dengan Ezio, emosinya selalu di buat naik. Ucapan sang putra begitu pedas.
"Ya benar. Mama atau pun papa tidak pernah mengajarkanku bersikap seperti ini. Tetapi, sikap kalian pada Zane yang mengajariku. Bahwa tidak semua orang tua bersikap baik pada anaknya. Lalu mengapa aku juga tidak melakukan hal yang sama?" lagi-lagi ucapan Ezio menusuk dan membuat telinga kedua orang tuanya memanas.
"Kapan kamu akan berhenti bersikap seperti ini? Jangan membuat kesabaran papa dan mama habis atau kamu akan menyesal nanti!" giliran tuan Ivo yang membuka suara. Meski tidak terdengar emosi di dalam nada bicaranya tapi terdapat penegasan yang lebih mengarah pada ancaman.
Ezio terkekeh mendengar itu dan menatap sinis orang tuanya. "Aku akan berhenti, jika kalian juga berhenti memperlakukan Zane dengan buruk. Dan—Ku pastikan, aku tidak akan pernah menyesal atas apa yang kulakukan ini. Meskipun nanti papa mengambil semua yang kupunya sekarang. Its okay. Aku bisa hidup tanpa semua hal ini,"
Kemudian Ezio berbalik badan dan pergi dari sana. Ia tidak menghiraukan kedua orang tuanya yang menjadi emosi karena ucapannya tadi.
"Anak itu benar-benar keterlaluan," gerutu nyonya Tasanee yang tidak mengerti lagi bagaimana cara agar Ezio berhenti berdebat dan bersikap buruk pada mereka.
"Dia terlalu menyayangi Zane," sahut tuan Ivon dengan helaan nafas kasar—Usaha menetralkan emosi dirinya.
Mereka pasti selalu berakhir seperti itu setelah berbicara dengan Ezio. Rasanya cukup sulit untuk membuat Ezio berhenti berdebat dan bersikap buruk pada mereka. Sang putra begitu menyayangi Zane. Bahkan di bandingkan Azrail, Ezio jelas menunjukkan perlawanannya akan perlakuan mereka yang Zane terima. Tidak heran pembicaraan mereka selalu berakhir dengan tidak baik. Bahkan makin hari, makin merenggangkan hubungan di antara mereka. Ini karena sikap keras kepala yang sama-sama mereka miliki. Tuan Ivon dan nyonya Tasanee keras kepala, Ezio lebih keras kepala lagi. Begitulah.
Saat di ruang keluarga terjadi perdebatan sengit antara Ezio dan kedua orang tuanya, Zane juga tengah berbicara serius di telepon.
"Apa kau yakin tentang ini?" tanyanya.
[........................]
"Hmmm. Kalau begitu kumpulkan semua anggota di markas! Malam ini kita akan menyerang mereka," ucap Zane dingin sembari menggoyangkan gelas minuman di tangannya.
[........................]
Tuttt....
__ADS_1
Zane mematikan teleponnya. Kini tatapannya kian menatap jauh ke arah depan yang menunjukkan keadaan sekitar rumahnya. Dimana masih terbilang cukup asri dengan banyak pohon hijau yang tertanam karena kawasan rumahnya hampir berada di sekitar pinggiran kota.