Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 07. Inilah Akibatnya


__ADS_3

"Kau ingin tahu?" tanya Zane sembari berjalan mendekati tuan Eiden. Hingga akhirnya ia berhenti tepat di hadapan laki-laki paruh baya itu.


"Ck—Tidak perlu. Aku tahu kau tidak akan mampu. Lebih baik kau lepaskan aku dan kita bisa melupakan semua yang terjadi," tuan Eiden masih saja meremehkan kemampuan Zane. Nyatanya ia tidak tahu kalau Zane bukan seseorang yang bisa di remehkan hanya karena berjenis kelamin perempuan.


Zane tersenyum sinis sembari membungkukkan badannya ke depan. Lebih tepatnya mendekatkan wajahnya pada wajah tuan Eiden. "Bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan lebih dulu? Aku bahkan belum menunjukkannya,"


"Semua perempuan itu lemah. Mereka tidak pernah mampu untuk melawan dan selalu memilih tunduk pada laki-laki. Bukankah kau juga sama seperti itu?"


Plakkk...


Tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanan tuan Eiden. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Zwetta Anevay.


"Arghhh—Berani sekali kau menamparku!" pekik tuan Eiden tidak terima. Rahangnya tampak mengeras.


"Ups. Apa itu sakit?" tanya Zane sok polos.


"Tentu saja sakit, sialan! Kau benar-benar ingin bermasalah denganku hah!?" tuan Eiden membentak Zane dengan emosi yang meluap-luap.


Plakkkk...


Zane kembali melayangkan tamparan keras pada pipi kiri tuan Eiden. Bahkan sebelum laki-laki paruh baya itu bersuara lagi, ia menamparnya lagi. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Tamparannya pun semakin terasa keras. Hingga tidak perlu waktu lama untuknya membuat pipi tuan Eiden memar.


"Sialan—Arghhh... Berhenti!" jerit tuan Eiden meminta Zane untuk berhenti menamparnya.


Tidak disangka, Zane benar-benar berhenti menamparnya. Bukan karena menuruti permintaan tuan Eiden, melainkan tangannya sudah merasa sedikit pegal.

__ADS_1


"Kalau sudah begini, kau baru boleh berkata sakit. Aku bisa percaya sekarang," ucap Zane sembari menyentuh wajah tuan Eiden yang tampak memar di kedua pipinya.


"Kau akan menyesal karena telah melakukan ini padaku! Lihat saja nanti!" tuan Eiden mengerang marah pada Zane di sela menahan rasa nyeri pada kedua pipinya.


"Benarkah?" sentak Zane pura-pura terkejut dan merasa takut.


"Hmmm kalau begitu aku akan menambahkannya. Biar setelah itu aku puas dan tidak akan menyesal sama sekali seperti yang kau katakan," sambungnya—Bernada dingin tapi santai.


Tuan Eiden semakin membulatkan kedua matanya. Entah mengapa hatinya merasakan perasaan tidak enak. "Apa lagi yang ingin kau lakukan!? Jangan coba-coba melakukannya atau ku pastikan kau tidak punya keinginan lagi untuk hidup!"


"Fuffft... Tentu saja aku ingin bermain denganmu. Setelah itu mari kita lihat, siapa yang akan masih punya keinginan untuk hidup!" Zane tertawa kecil. Tetapi, tawanya itu justru terdengar begitu mengerikan.


Para anak buahnya yang memang sudah terbiasa akan hal itu, tetap saja bergidik ngeri. Mereka sangat tahu jelas bagaimana sosok Zane—Berwajah malaikat tapi sekali marah, sangat mengerikan bak seorang iblis. Oleh karena itu orang-orang organisasi dunia bawah sering menyebutnya AOD[Angel Of Darkness]. Zane telah terjun ke organisasi dunia bawah sejak usianya masih belia. Tindakannya itu tidak terlepas dari keinginan tuan Ivon dan nyonya Tasanee. Orang tuanya ingin dirinya bisa menjadi lebih kuat, membuat dan memperkuat kekuasaan, serta menjalin hubungan dengan orang-orang organisasi dunia bawah. Mereka tidak peduli seberapa kejamnya dunia itu. Terpenting adalah Zane bisa mewujudkan keinginan mereka bagaimana pun caranya, meski nyawa jadi taruhan.


"Gadis sialan! Badebah! Cepat lepaskan aku! Jangan sampai kesabaranku habis! Ingat—Aku mempunyai kekuasaan yang cukup kuat. Jika kau berbuat sesuatu padaku lebih dari ini, kau akan mati!" cecar tuan Eiden semakin berusaha memberontak. Sayangnya, tenaganya kalah kuat dari anak buah Zane.


"Kau—,"


Belum sempat tuan Eiden menyelesaikan ucapannya, Zane telah lebih dulu menyuruhnya untuk diam.


"Syuttt! Diam dan nikmati permainanku!"


"Ad—Berikan padaku!" sambungnya mengulurkan tangan pada anak buahnya yang sedari tadi berdiri di dekatnya.


Addy atau yang lebih sering di panggil Ad merupakan salah satu orang kepercayaan Zane di MOD[Master of Darkness]—Nama dari organisasi mafia yang di pimpinnya. Laki-laki berusia lebih tua beberapa tahun darinya dan sudah bergabung cukup lama dengan MOD. Zane mempercayainya setelah begitu banyak hal yang di lalui. Bagi seorang Zane, sulit untuk percaya pada seseorang. Namun Addy sudah berhasil membuktikan bahwa dirinya pantas untuk di percaya. Sehingga saat ini ia menjadi salah satu orang kepercayaan Zane.

__ADS_1


"Ini, nona!" Addy menyerahkan sebuah pisau tajam berukuran kecil padanya.


Zane langsung menerimanya dengan seringaian yang masih terlihat jelas di bibirnya. Sementara itu, tuan Eiden justru mulai bersikap waspada.


"Apa yang ingin kau lakukan? Jangan macam-macam!" seru tuan Eiden masih bernada tinggi.


"Berisik!" umpat Zane yang tanpa di duga langsung menyayat pipi kiri tuan Eiden. Perlahan darah segar mulai bercucuran keluar dari bekas sayatannya.


"Arghhhh!" tuan Eiden menjerit kesakitan.


Pasalnya pisau yang Zane gunakan begitu tajam. Di tambah Zane menyayatnya dengan di tekan. Oleh karena itu rasanya sangat sakit. Namun siapa yang peduli akan rasa sakitnya itu? Zane? Tentu saja tidak. Gadis itu justru semakin memperlihatkan seringaian iblis. Didikan keras, serta luka yang di dapatnya selama ini bukan hanya mengubahnya menjadi sosok gadis dingin tapi juga kejam bak seorang iblis psychopath. Saat marah, kesadarannya hampir hilang. Ia hanya memikirkan bagaimana membalas orang yang telah membuatnya marah. Entah itu hanya dengan sayatan kecil atau menghilangkan nyawanya dalam hitungan menit.


"Itu untuk kau yang telah berani bermain kotor dengan kakakku," ucap Zane tersenyum puas. Bahkan tidak tampak penyesalan di raut wajahnya.


Srettt...


"Ini untuk niat busukmu yang ingin menjebak kakakku," sambungnya, usai menyayat pipi kanan tuan Eiden.


"Erghh hentikan!"


Sekeras apapun tuan Eiden meminta Zane berhenti, gadis itu tidak peduli sama sekali. Ia ingin memberi pelajaran pada laki-laki paruh baya itu. Tidak hanya sayatan pada pipi tapi juga anggota tubuh lainnya, seperti tangan dan kaki. Jeritan kesakitan tuan Eiden menggema di ruangan itu. Begitu menyedihkan. Kedua orang yang ikut di bawa bersama tuan Eiden tampak bergidik ngeri melihat kekejaman Zane. Mereka merasa kasihan pada tuan Eiden, tetapi juga tidak bisa menolongnya. Hal yang bisa mereka lakukan hanya diam melihat itu dan berharap tidak bernasib semenyedihkan tuan Eiden.


"Dan ini—Untuk keberanianmu karena telah meremehkanku!" Zane menusuk tangan tuan Eiden sebagai akhir dari permainannya.


"Arghhh sakit!" jeritan tuan Eiden di padu dengan air matanya yang tidak henti-hentinya menetes karena rasa sakit luar biasa.

__ADS_1


Keadaan tuan Eiden benar-benar menyedihkan. Terdapat sayatan di kedua pipinya, tangan dan kaki. Sekarang Zane mengakhiri permainannya dengan tusukan dalam pada tangannya. Meski tidak sampai menembus, tetapi tetap saja sangat menyakitkan.


"Inilah akibatnya karena kau telah berani mengganggu keluargaku," ucap Zane tersenyum dingin sambil membersihkan darah tuan Eiden yang ada di tangannya.


__ADS_2