Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 11. Azrail Di Serang


__ADS_3

Azrail pergi ke rumah temannya di antarkan sopir pribadi keluarga Anevay. Laki-laki muda itu sibuk bermain ponsel selama dalam perjalanan. Tanpa di sadarinya ada dua orang berkendara motor hitam yang tengah mengikutinya. Awalnya kedua orang itu hanya mengikuti di belakang, sebelum akhirnya menyalip dan berhenti tepat di depan mobilnya.


Cittt.... Bughh


Sang sopir terpaksa mendadak menginjak rem mobil membuat Azrail yang sedari tadi sibuk bermain ponsel terkejut. Bahkan kepalanya sedikit terbentur dengan kursi belakang kemudi.


"Aduh!" ringis Azrail spontan sembari mengelus kepalanya yang baru saja terbentur.


"Kenapa berhenti mendadak, pak?" sambungnya bertanya.


Pertanyaannya tidak langsung di jawab oleh sang sopir. Laki-laki paruh baya itu masih sedikit shock. Jika saja terlambat menginjak rem, mungkin ia akan menabrak kedua orang yang berkendara motor itu.


"Maaf, tuan muda. Di depan—Ada yang tiba-tiba menghalangi mobil,"


Azrail yang tengah mengelus kepalanya, sontak menatap ke arah depan mobil. Memang benar ada dua orang yang berhenti tepat di depan mobil dengan posisi menghalangi. Kedua orang itu tampak mulai turun dari motor.


"Apa-apaan mereka!? Tidak tahu apa, tindakan mereka bisa membuat orang lain celaka," gerutu Azrail merasa kesal karena tindakan kedua orang itu.


Kekesalannya bertambah saat salah satu dari mereka dengan menunjuk tajam ke arah mobil. Wajah mereka tertutup helm yang di pakai.


"Turun dari mobil!"


"Tuan muda tetaplah di mobil! Biar saya yang turun," seru sang sopir pada Azrail.


"Biar aku saja, pak. Mereka perlu di beri pelajaran," tolak Azrail sembari bersiap turun dari mobil. Ia tidak terima akan tindakan kedua orang itu yang berhenti sembarangan dan menghalangi jalan mobilnya.


"Tapi—"

__ADS_1


"Sudah. Tenang saja, pak. Aku bisa menjaga diriku," sela Azrail yang kemudian membuka pintu mobil dan berjalan turun.


Dengan langkah santai, ia berjalan ke hadapan kedua orang itu. Meski begitu raut wajahnya jelas tampak kekesalan. Sang sopir juga ikut turun karena merasa khawatir dengan tuan mudanya.


"Maksud kalian apa menghalangi mobilku? Kalian tahu? Tindakan kalian ini bisa membuat orang celaka," Azrail mendengus kasar.


"Ya. Kami memang ingin membuatmu celaka," sahut orang tadi membenarkan.


Azrail menatap malas ke arah kedua orang itu. "Apa kalian tidak tahu siapa aku? Sampai berani berniat mencelakaiku,"


Walaupun wajah mereka tertutup helm, Azrail bisa tahu kalau kedua orang itu tengah tertawa. Mereka sungguh menganggapnya remeh, pikirnya.


"Ck—Justru karena kami tahu, makanya kami berani. Orang sepertimu bisa dengan mudah kami celakai," satu orang lainnya kini menyahut. Ucapannya begitu percaya diri.


"Meski aku tidak tahu ada masalah apa di antara kita. Tetapi kalian sudah membuatku kesal dan berani berniat mencelakaiku. Lalu apa boleh buat? Biar aku beri pelajaran kalian berdua," ucap Azrail sembari melemaskan otot-otot kedua tangannya.


Sejak remaja Azrail sudah berlatih bela diri sebagai bentuk perlindungan diri di situasi genting. Bukan hanya dirinya, Ezio juga sama. Keduanya berlatih karena ingin bisa melindungi diri masing-masih agar tidak selalu merepotkan Zane. Yeah. Tidak di ungkiri kalau selama ini Zane-lah yang selalu melindungi mereka. Gadis itu telah di latih beladiri sejak masih kecil. Pelatihan yang di terimanya begitu keras, sampai hasilnya bisa jadi sangat ahli beladiri sekarang. Apa yang di lihat Zane mendorong keinginan Azrail dan Ezio untuk ikut berlatih beladiri. Jadi jangan heran kalau Azrail tidak takut sama sekali menghadapi sendiri orang yang mengganggunya.


Kemudian tanpa di duga, mereka mulai berlari menyerang Azrail. Beruntung Azrail sudah siap sedari tadi, sehingga ia bisa menghindari serangan kedua orang itu. Kini terjadi aksi saling serang antara Azrail dengan kedua orang itu di tengah jalan. Azrail yang awalnya hanya menghindar, mulai mengubah situasi dengan melakukan serangan balik. Tendangan dan pukulan saling mereka berikan. Kedua orang itu tidak memberikan celah untuk Azrail berhasil menyerang, begitu pula sebaliknya. Di sela menyerang, otak Azrail sibuk memikirkan cara agar serangannya berhasil. Ia harus bisa mengalahkan kedua orang itu secepatnya.


Aksi saling serang Azrail dan kedua orang itu membuat jalanan menjadi macet. Beberapa orang merasa kesal akan kejadian itu. Namun tidak sedikit pula orang yang senang menontonnya dari pinggiran jalan. Tidak ada satu pun yang berniat untuk membantu menghentikannya. Sebaliknya mereka justru merekam aksi tersebut dan menguploadnya ke media sosial masing-masing.


Bughh...


Punggung Azrail terbentur bagian depan mobil akibat pukulan dan tendangan yang di terimanya secara bersamaan.


"Tuan muda!" pekik sang sopir panik sembari menghampiri Azrail.

__ADS_1


Azrail mengangkat tangan kanannya pada sang sopir. "Tidak apa-apa,"


Melihat serangan mereka berhasil, kedua orang itu lantas tersenyum puas dari balik helm. Tetapi mereka belum benar-benar puas dan menyerang kembali Azrail. Sayangnya, serangan mereka di tangkis oleh beberapa orang laki-laki berjas hitam formal. Tidak hanya menangkis serangan, mereka juga menyerang balik kedua orang itu. Sekarang situasinya jelas tidak seimbang karena kedua orang itu kalah jumlah. Sehingga kedua orang kewalahan dalam menghindari serangan dari beberapa orang laki-laki berjas hitam formal. Setelah 5 menit berlalu, kedua orang itu akhirnya jatuh tersungkur usai terkena tendangan dan pukulan mereka.


"Bawa mereka!" perintah salah satu dari laki-laki berjas hitam tadi. Dari auranya, jelas ia adalah pimpinan mereka.


"Baik," sahut beberapa laki-laki berjas hitam lainnya.


Kedua orang itu segera di bawa pergi menggunakan mobil hitam yang berada tidak jauh dari sana. Sedangkan laki-laki berjas hitam tadi berbalik badan menghadap Azrail.


"Maaf, tuan muda! Kami terlambat datang," ungkap laki-laki itu menunduk hormat.


Azrail menganggukkan kepala yang sangat mengenal siapa laki-laki itu—Salah satu anggota organisasi MOD. Begitu pula dengan beberapa laki-laki berjas hitam lain yang tadi sudah pergi.


"Tidak masalah,"


"Apa tuan muda terluka?" tanya laki-laki itu terdengar cemas.


"Sedikit tapi bukan masalah besar," sahut Azrail tersenyum tipis. Meski badannya terasa sakit akibat serangan kedua orang itu.


"Saya antarkan tuan muda ke rumah sakit," laki-laki itu tidak ingin mengambil resiko akan keadaan tuan mudanya. Cukup terlambat datang, jangan sampai membuat kesalahan kedua kali yang bisa membuat Zane marah besar.


"Ah itu tidak perlu! Aku baik-baik saja," tolak Azrail cepat.


"Kalau begitu tuan muda mau kemana? Biar saya antarkan,"


"Aku mau ke rumah temanku," Azrail telah berdiri tegak, usai sempat sedikit membungkuk karena menahan sakit.

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan antar tuan muda ke sana,"


Setelah itu Azrail berjalan masuk ke dalam mobil, di ikuti sang sopir. Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. Di belakang terdapat anggota organisasi MOD yang mengiringi.


__ADS_2