Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 19. Permainan Nyawa 2


__ADS_3

Pertarungan permainan nyawa yang di lakukan Zane dan ketua Killer Eagle berlangsung hampir 1 jam. Belum ada satupun serangan yang berhasil mengenai mereka. Entah itu serangan Zane, maupun serangan Killer Eagle. Mereka berdua tidak memberi celah sedikitpun. Pertarungan yang sangat sengit. Suara katana dan pedang mereka saling bersentuhan kasar terdengar jelas di ruangan itu. Namun tidak ada satupun goresan yang kedua benda itu berikan pada mereka berdua. Addy tidak mampu berkata-kata melihat kehebatan Zane dan ketua Killer Eagle yang ahli dalam memainkan senjata tajam berbeda ukuran itu, serta sedikit ada perbedaan desainnya. Sangat sempurna saat di kombinasikan dengan teknik beladiri.


Srekkkk...


Zane menyentuh lengan kanan jaketnya yang baru saja robek terkena sayatan pedang milik ketua Killer Eagle. Tampak pula darah segar bercucuran keluar dari sana karena sayatan itu membuat lengannya terluka.


"Queen!" pekik Addy merasa khawatir melihat Zane terluka dan segera ingin menghampirinya.


Tangan kiri Zane terangkat, memberikan isyarat untuk Addy tetap berdiri di tempatnya. Mau tidak mau laki-laki itu melakukan seperti yang Zane isyaratkan.


"Akhirnya seranganku berhasil melukaimu. Sebuah kemajuan yang baik, bukan?" ucap ketua Killer Eagle merasa bangga sebab serangannya lebih dulu berhasil melukai Zane.


"Yeah. Kenapa sudah merasa bangga? Ini baru awal," celetuk Zane tanpa meringis kesakitan. Padahal luka sayatan di lengannya cukup parah.


"Ah benar juga. Ini baru awal. Aku masih perlu memberikan banyak karya di tubuhmu. Sebelum akhirnya kau ku kirim ke neraka," ketua Killer Eagle tersenyum miring sembari mengangkat kembali kedua pedangnya. Kini salah satu pedangnya telah terdapat sedikit lumuran darah segar Zane—Ia bangga dan puas melihat itu.


"Percaya diri itu memang di perlukan tapi terlalu percaya diri terkadang juga merugikan. Mungkin bukan aku yang akan ke neraka, melainkan kau!" seru Zane menatap sinis sekaligus mengejek ketua Killer Eagle.


"Omong kosong!"


Ketua Killer Eagle langsung berlari menyerangnya kembali. Heh. Zane berdecih kasar sebab ini sudah waktunya untuk memberitahu bahwa laki-laki itu telah salah mencari masalah dengannya.

__ADS_1


"Heh—Ayo akhiri permainan ini!" gumamnya pelan.


Sebelum laki-laki itu sampai di hadapannya, Zane lebih dulu menembakkan peluru dari pistolnya yang sempat di letakkan di saku belakang celananya


Door ...


Tembakan pertama Zane meleset. Ketua Killer Eagle semakin menatap remeh ke arahnya. Sayangnya, tembakan itu memang sengaja Zane buat meleset. Pada saat ketua Killer Eagle menghindar ke sebelah kiri, ia dengan gesitnya memainkan katananya tepat mengenai bagian lengan kirinya. Impas.


"Kau memang hebat, nona Zane. Hmmm tapi kemenangan pasti akan menjadi milikku," puji ketua Killer Eagle di tengah pertarungan.


"Oh benarkah?" tanya Zane dingin. Tanpa di ketahui laki-laki itu, ia sedang menyeringai jahat di balik di balik maskernya.


"Tentu sa—Arghhhh!"


Selain berguling untuk menghindar, ketua Killer Eagle juga kembali memainkan kedua pedangnya. Posisinya boleh sedang berada di bawah tapi kemampuannya dalam bertarung tetap tidak berkurang. Justru laki-laki itu semakin brutal dalam memainkan kedua pedangnya. Zane menatap dingin gerakan brutal laki-laki itu. Meski sangat gesit dan selalu bisa menangkis serangannya, tetap saja gerakan itu tidak beraturan. Hal itu tentu menguntungkan Zane. Ia bisa dengan mudah mencari celah untuk bisa kembali melukainya. Celah yang sedari tadi sudah di tunggunya.


Pranggg!


Serangan katana Zane berhasil membuat salah satu pedang ketua Killer Eagle terlempar jauh. Kehilangan satu pedang spontan mengharuskan laki-laki itu untuk bisa menyerang lebih cepat dengan satu pedang yang masih di pegangnya. Jujur saja, ketua Killer Eagle mulai merasa sedikit panik. Yeah. Panik akan di kalahkan oleh Zane. Mungkin kekuatannya begitu besar tapi saat ini ia berhadapan dengan Zane—Dimana gadis itu memiliki kekuatan yang sama dengannya. Di tambah keahliannya dalam memainkan katana dan pistol secara bersamaan, ia akui itu sangat hebat. Namun untuk membiarkan dirinya kalah di tangan Zane, tidak akan pernah.


Akan di taruh dimana wajahnya jika sampai kalah dengan seorang gadis? Terlebih lagi ia sendiri yang mengajaknya bermain. Mana mungkin ia kalah dalam ajakan permainannya sendiri. Oleh karena itu, ia telah bersiap dari awal untuk mengatasi situasi yang terjadi. Tampak sudut bibirnya terangkat—Tersenyum licik.

__ADS_1


"Kau sangat bersemangat bertarung denganku, ya? Apa tidak khawatir dengan keadaan adikmu yang dalam hitungan detik bisa kehilangan nyawa?"


Zane yang mendengar itu, lantas berhenti menyerang ketua Killer Eagle. "Apa maksudmu!?"


"Menurutmu apa?" tanya balik ketua Eagle tambah memperlihatkan senyuman liciknya.


“Kau—Sialan! Ad—Cepat hubungi mafioso yang bertugas menjaga Azrail!" perintah Zane pada Addy.


"Baik, nona!" sahut Addy yang bergegas melakukan perintahnya.


"Astaga. Kau terlihat sangat panik," ejek ketua Killer Eagle sembari berusaha untuk beranjak bangun.


Sayangnya, usahanya harus di gagalkan dengan tendangan Zane yang melayang tepat di wajahnya. Spontan ketua Killer Eagle kembali terjatuh dengan noda darah keluar dari sudut bibirnya. Tendangan Zane begitu keras. Walaupun begitu, ia belum puas dan kini menggerakkan cepat katananya. Dalam satu gerakan, katananya berhasil memisahkan tangan ketua Killer Eagle yang memegang sisa pedang dari tubuhnya.


"Arghhhh—Tanganku!" jerit ketua Killer Eagle antara terkejut dan kesakitan.


"Jika terjadi sesuatu pada adikku, ku pastikan kematianmu akan sangat menyakitkan!" aura yang Zane perlihatkan semakin mengerikan. Emosinya kini sudah di bisa di redam lagi. Ketua Killer Eagle telah benar-benar membuatnya marah.


"Kau telah memotong satu tanganku dan kau juga akan mati dengan sangat menyakitkan di tanganku yang satunya!" cecar ketua Killer Eagle seraya memegang tangannya yang baru saja terpotong.


Laki-laki itu tidak terima kehilangan satu tangan. Tekadnya untuk menang dan menghabisi Zane dengan sangat menyakitkan bertambah besar. Ia pun segera beranjak berdiri.

__ADS_1


"Dengan satu tangan tersisa, kau bisa apa? Masih ingin membunuhku? Coba saja! Aku ingin lihat seberapa besar usahamu untuk itu. Sebelum aku yang membunuhmu," ucap Zane dingin. Kilatan amarah dan kekejaman terlihat jelas dari sorot matanya.


"Cih! Sombong sekali!" ketua Killer Eagle berdecih kasar. Tangannya terlihat mengambil sebuah pisau tajam yang tersimpan di balik jaketnya. Kemudian langsung menyerang Zanee


__ADS_2