
Seperti yang tuan Ivon katakan sebelum pergi dari meja makan, Zane sekarang tengah berjalan menuju ruang kerja papanya. Awalnya Ezio berniat untuk ikut dengannya karena takut tuan Ivon akan meminta ia melakukan sesuatu yang buruk. Namun ia melarang keras untuk kakaknya ikut. Tentu di sertai sedikit ancaman yang akhirnya membuat Ezio harus membiarkannya pergi sendiri ke ruang kerja sang papa.
Tok... Tok... Tok...
Baru saja Zane mengetuk pintu ruang kerja papanya. Kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan sebab itu adalah bentuk kesopanan—Ajaran tuan Ivon dan nyonya Tasanee. Meskipun berstatus keluarga Anevay, bukan berarti mereka bisa bertindak yang termasuk dalam zona privasi.
"Masuk!"
Setelah mendapat ijin dari pemilik ruangan itu yang tidak lain adalah papanya, Zane segera membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam. Tampak tuan Ivon tengah duduk di kursi kerjanya sembari membaca sebuah berkas.
"Ada apa papa memintaku ke sini?" tanya Zane sesampainya di hadapan laki-laki paruh baya itu.
Sontak tatapan tuan Ivon yang sedari tadi fokus pada berkas, beralih ke arahnya. "Duduklah! Ada hal yang ingin papa bicarakan denganmu,"
Zane pun melakukan seperti yang di minta—Duduk berhadapan dengan sang papa. Sesaat tuan Ivon menatapnya dalam diam. Hingga akhirnya membuka suara kembali.
"Apa kamu ingat soal perusahaan ICGroup?" sambungnya.
"Hmmm. Salah satu perusahaan otomotif terbesar di Jepang?"
"Baguslah kamu ingat karena itu yang akan papa bicarakan," ucap tuan Ivon bernada serius. Biasanya hanya datar tanpa ada nada apapun dalam berbicara.
Zane mengangguk mengerti. "Katakan saja, pa!"
"Minggu depan pimpinannya—Tuan Ichiro bersama sang istri dan anaknya akan datang. Kedatangan mereka bukan sekedar untuk berlibur tapi juga mencari perusahaan yang dapat di ajak bekerja sama dan berpotensi memberikan keuntungan besar. Kamu mengerti maksud papa selanjutnya, bukan?" tuan Ivon menatap intens ke arah Zane. Seolah tengah mengisyaratkan hal yang dimaksudkan.
"Papa ingin aku memastikan mereka memilih perusahaan kita untuk di ajak bekerjasama?" tebak Zane yang dapat menangkap cepat maksud sang papa.
"Kamu memang sangat pintar. Papa menginginkan kerjasama ini di dapatkan agar perusahaan kita memiliki peluang untuk memiliki keuntungan besar, sekaligus mendapatkan dukungan kuat untuk mendirikan cabang di jepang. Kerjasama ini juga akan membuat kakakmu mendapatkan lebih banyak pengalaman," tuan Ivon mendorong pelan berkas yang di depannya ke arah Zane.
"Aku mengerti. Serahkan saja ini padaku!"
Zane mengambil berkas itu, lalu beranjak pergi dari hadapan tuan Ivon. Tidak ada lagi hal lain yang di bicarakan sebab biasanya sang papa hanya langsung berbicara inti—Tanpa berbasa-basi panjang lebar. Makanya ia segera pergi usai mengambil berkas itu. Dapat di pastikan di dalamnya adalah semua informasi soal perusahaan ICGroup. Seperginya dari ruang kerja papanya, Zane berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Ternyata di depan pintu kamarnya sudah berdiri sang kakak sedang bersedekap dada.
"Apa yang papa bicarakan padamu?"
__ADS_1
Sontak pertanyaan itu menghentikan langkah Zane yang tengah berjalan menuju kamarnya. "Bukan hal besar"
"Lalu hal sekecil apa sampai harus berbicara berdua saja?" tanya Ezio penasaran. Lebih tepatnya mencurigai pembicaraan tuan Ivon tidak jarang membuat Zane melakukan hal berbahaya.
"Hmmm," Zane berdeham pelan. Kakaknya itu pasti tidak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Dan—Ia rasa keinginan papanya kali ini harus di beritahukan.
"Aku hanya di minta membantu kakak untuk memastikan perusahaan ICGroup memilih perusahaan kita," sambungnya.
Alis Ezio tampak terangkat sebelah. "Sungguh hanya itu?"
Zane sudah mengira akan hal itu. Kakaknya sulit untuk percaya bila menyangkut tuan Ivon, maupun Tasanee. Perlahan ia menghembuskan nafasnya. Lalu mengulurkan berkas di tangannya ke arah Ezio.
"Berkas ini buktinya,"
Kedua mata Ezio menatap intens ke arah berkas itu. Sebelum mengambil dan membukanya. Sesaat ia membacanya, sampai menyerahkan kembali berkas itu pada Zane.
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanyanya memastikan sekali lagi.
"Terserah kakak mau percaya atau tidak! Aku mau istirahat sekarang," Zane tidak berniat untuk lebih meyakinkan sang kakak. Baginya sudah cukup. Soal percaya atau tidaknya, itu hak sang kakak.
"Selamat malam," balas Zane singkat.
Zane segera membuka pintu kamarnya dan berjalan masuk ke dalam. Sekilas kedua matanya beradu tatapan dengan Ezio. Hingga akhirnya ia menutup kembali pintu kamarnya. Tidak berselang lama, Ezio juga langsung pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Zane
Gadis itu sudah duduk di sofa yang berada di dalam kamarnya. Lebih tepatnya terletak di dekat balkon dan di depannya ada sebuah meja berukuran minimalis. Kini tangannya mulai sibuk membuka lembaran demi lembaran berkas yang tadi di berikan tuan Ivon. Di dalam berkas itu memang berisi informasi lengkap soal perusahaan ICGroup. Namun menurut Zane, isinya masih belum lengkap. Dimana berkas itu hanya berisikan berkas detail tentang perusahaan, bukan hal lain yang lebih menguntungkan untuknya ketahui. Seperti informasi soal kehidupan dan keluarga pemilik perusahaan ICGroup, mungkin?
Dan Zane langsung saja menghubungi seseorang untuk mendapatkan informasi yang di inginkannya.
"Kumpulkan semua informasi soal kehidupan hingga keluarga pemilik dari perusahaan ICGroup. Jangan melewatkan hal sekecil apapun. Aku butuh semua itu secepatnya!" ucap Zane begitu datar dan tegas di telepon.
Tuttt...
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya, Zane mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia tahu bahwa orang yang menjadi lawan bicaranya itu sangat mengerti perintahnya tanpa banyak bertanya.
Drrrtt.... Drttt... Drttt...
Baru saja Zane mematikan telepon secara sepihak dan berniat melanjutkan membaca berkas di tangannya, sebuah panggilan terdengar masuk di ponselnya. Lantas ia segera memeriksa nama si pemanggil. Dahinya tampak mengernyit saat melihat bahwa Hugo yang sedang menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Zane setelah mengangkat panggilan dari Hugo.
[Hugo📞: Seharusnya aku tidak menganggu waktu istirahatmu tapi ada hal penting yang ingin ku beritahukan]
"Katakan!" Zane tidak menggubris ucapan Hugo sebelumnya. Ia hanya sedikit penasaran dengan hal penting yang di maksud Hugo.
[Hugo📞: Rencana pernikahanku di percepat menjadi 2 minggu lagi atas keinginan orang tuaku dan Marie]
Zane berhenti mengernyitkan dahinya. Rasa penasarannya sudah terjawab. Ternyata hal penting itu tidak lain adalah perubahan jadwal rencana pernikahan Hugo dan Marie—Tunangannya.
"Itu bagus,"
[Hugo📞: Ya memang bagus tapi masalahnya aku bingung harus melakukan apa sekarang. Perubahan rencana ini membuatku sangat dan sangat kebingungan. Kamu tahu itu?]
Nada bicara laki-laki itu terdengar panik dan sedikit frustasi. Zane terkekeh pelan mendengarnya. "Kenapa harus bingung?"
[Hugo📞: Astaga. Jelas saja aku bingung. Kamu belum merasakan di posisiku sekarang yang sedang kebingungan harus melakukan apa saat waktu pernikahan di percepat. Dimana semua rencana harus di atur ulang kembali. Padahal sudah tersusun rapi tapi lihatlah sekarang? Aku sangat kebingungan]
"Atur ulang saja. Apa sulitnya?" Zane mengucapkannya dengan begitu enteng dan langsung mendapat dengusan kesal dari sang sahabat.
[Hugo📞: Huh menyebalkan. Kamu mana mengerti perasaanku. Sudahlah—Selamat malam!]
Tutttttt
Kali ini bukan Zane yang mematikan panggilan, tetapi Hugo. Laki-laki itu sepertinya sungguh kesal karena ucapannya. Namun Zane mana peduli? Ia hanya mengangkat bahunya dengan acuh. Kemudian lanjut membaca berkas soal informasi perusahaan ICGroup.
~To Be Continued
Jan lupa follow IG Author@csc_nfsa yo❤️ Biar Author makin sayang. Eh maksudnya makin kenal sama kalian>_<
__ADS_1