Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 13. Kegilaan Zane


__ADS_3

"Tidak sama sekali!" bantah mafioso itu, meski dengan jelas wajahnya menunjukkan raut wajah ketakutan.


Zane akui kekuatan mafioso Killer Eagle yang masih bisa berkata seperti itu. Padahal kehilangan satu tangan bukanlah rasa sakit yang kecil. Ia ingin melihat seberapa kuat mafioso Killer Eagle itu bertahan.


"Wah—Aku sangat kagum," cibir Zane menatap sinis kedua mafioso Killer Eagle secara bergantian.


"Itulah kelebihan kami. Kau akan melihat yang lebih nanti saat bertemu dengan ketua kami," sahut mafioso Killer Eagle lainnya.


Mendengar ucapan kedua mafioso itu, Zane sama sekali tidak menunjukkan raut wajah meremehkan. Ia sadar bahwa Killer Eagle memang bukan lawan yang mudah. Namun bukan berarti pula ia menjadi takut. Terlebih lagi mereka telah berarti melukai Azrail—Adiknya. Sebuah kesalahan yang tidak bisa ia maafkan.


"Baiklah. Aku akan melihatnya nanti. Tetapi sebelum itu, aku selesaikan dulu masalah yang kalian buat," ucap Zane datar.


"Coba kalian beritahu aku. Bagian tubuh mana yang mereka gunakan saat membuat Azrail terluka?" sambungnya pada beberapa mafioso MOD yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Tangan dan kaki mereka, nona!" jawab beberapa mafioso MOD itu.


"Oh. Tangan dan kaki?" ulang Zane sembari menyeringai.


"Apa heh? Kau mau memotong kedua kaki dan tangan kami? Supaya kami berteriak memohon, lalu mengakui kesalahan kami?" tanya mafioso Killer Eagle bernada ketus.


"Pintar," Zane memuji kepekaan mafioso Killer Eagle itu terhadap maksud ucapannya.


"Bermimpilah sampai kau sendiri bangun dan sadar—Arghhhhh!"


Mafioso Killer Eagle itu tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Zane telah lebih dulu melayangkan katananya dalam beberapa gerakan sekaligus yang langsung memisahkan kedua tangan dan kakinya dari tubuhnya. Sontak mafioso Killer Eagle itu jatuh ke lantai sebab tidak mempunyai tumpuan lagi. Bahkan lantai ruangan itu kini mulai memerah dengan darah segar yang berasal dari tubuh mafioso Killer Eagle itu. P*t*ngan kakinya juga berada di genangan darah segarnya sendiri. Sedangkan P*t*ngan tangannya masih menggantung di rantai. Keadaan yang begitu mengerikan.


"Dasar sialan!" umpat mafioso Killer Eagle yang tadi lebih dulu kehilangan satu tangannya.


"Apa? Kau juga ingin mendapat kasih sayang dariku? Baiklah. Sesuai keinginanmu," ucap Zane seolah-olah tidak tahu kalau mafioso Killer Eagle itu sangat marah.


"Siapa yang ingin mendapatkan kasih—"


Srekkk... Srekkk... Srekkk...

__ADS_1


Dalam 3 kali gerakan, Zane memisahkan tangan dan kaki mafioso Killer Eagle itu. Dimana sekarang mafioso Killer Eagle itu bernasib sama seperti temannya. Tidak hanya lantai di ruangan itu saja yang memerah tapi juga wajah, serta pakaian Zane ikut memerah.


"Arghhhh—Sialan! Psychopath gila!" jerit mafioso Killer Eagle sembari memberi sumpah pada Zane.


"Hei, memangnya kapan seorang psychopath itu waras?" Zane masang tampang wajah polos.


Sebelum terdengar tawa kecilnya yang terdengar mengerikan. "Ku rasa tidak pernah. Dan—Ya, kalian berdua beruntung karena bisa melihat kegilaanku ini,"


"Kau yang tidak akan beruntung karena berani melakukan ini pada kami. Hidupmu pasti berakhir sial saat bertemu dengan ketua kami nanti. Ssshhhhh,"


Sudah kehilangan kedua kaki dan tangan, kedua mafioso Killer Eagle itu masih saja bisa berucap begitu. Padahal seharusnya mereka menjerit kesakitan sambil memikirkan keselamatan diri sendiri. Namun itu sepertinya tidak berlaku bagi mereka yang terlalu percaya diri. Ah—Tidak. Bukan percaya diri tapi lebih tampak sombong.


"Astaga aku tersanjung sekali mendengar kalian mengkhawatirkanku," imbuh Zane pura-pura terharu.


"Siapa yang mengkhawatirkanmu heh!? Kami hanya merasa kasihan karena kau akan berakhir dengan nasib yang sangat sial! Saat itu tiba, kau pasti akan menyesal. Benar-benar menyesal!" erang mafioso Killer Eagle di tengah berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Zane berdecih kasar sembari membersihkan bercak darah yang ada di wajahnya. "Pada saat seperti ini, kalian masih saja memikirkan aku. Bukankah seharusnya yang kalian pikirkan sekarang adalah nasib kalian sendiri? Walaupun itu sebenarnya hanya sia-sia,"


"Percaya diri itu memang di perlukan. Hanya saja terlalu percaya diri terkadang juga merugikan," cela Zane secara langsung.


"Benarkan?" sambungnya bertanya pada beberapa mafioso MOD.


Mereka pun mengangguk cepat. "Benar, nona!"


"Hmmm tapi sepertinya aku sudah membuang banyak waktu. Jadi katakan padaku! Bagian tubuh Azrail mana yang terkena serangan mereka?" Zane kembali bertanya pada beberapa mafioso MOD yang mengerti maksud dari pertanyaannya.


"Perut. Mereka menendang perut tuan muda, nona!"


"Kepala tuan muda juga sempat kena pukulan mereka,"


Beberapa mafioso MOD menjawab secara bergantian. Emosi Zane semakin meluap, meski tidak terlihat lewat raut wajahnya karena hanya ada raut dingin dan datar.


"Sekarang biar aku kembalikan rasa sakit yang adikku rasakan," ucap Zane seraya menggerak-gerakan katana di tangannya.

__ADS_1


"Jika kau berani melakukannya, kami pastikan kau tidak akan punya kesempatan untuk menyesal!" ancam mafioso Killer Eagle itu memperingatkan.


"Jangan khawatir—Aku tidak perlu kesempatan itu,"


Zane berucap bersamaan dengan menusukkan ujung katananya pada perut mafioso Killer Eagle itu.


"Arghhhhhh... Sakit!"


Bukan hanya di tusukkan saja, Zane juga memutar katananya. Dapat di pastikan tindakannya itu merusak organ dalam mafioso itu. Bahkan mulutnya telah mengeluarkan darah segar. Sebuah pemandangan yang amat di sukai Zane. Berbeda dengan beberapa mafioso MOD yang merasa ngeri. Padahal mereka cukup sering melihat seberapa kejamnya Zane saat sifat Psychopathnya keluar di saat marah.


"Badebah! Sialan! Psychopath gila! Hentikan tindakanmu itu!" teriak mafioso Killer Eagle lainnya.


"Sesuai keinginanmu," Zane langsung menarik kembali katananya. Bersamaan dengan hembusan nafas terakhir mafioso Killer Eagle yang baru saja di tusuk perutnya dengan perasaan kejam.


Mafioso Killer Eagle yang masih hidup membulatkan sempurna matanya. Ia tidak menyangka nyawa temannya melayang dengan mudah di tangan Zane. Perkiraan mereka tentang Zane yang tidak akan berani berbuat macam-macam pada mereka karena status mafioso Killer Eagle, justru salah besar. Tampaknya Zane memang sangat berani padahal.


"Aaa—Ampun! Aku mengaku salah. Jangan bunuh aku! Keadaanku seperti ini sudah cukup sebagai hukuman atas kesalahanku," sesal mafioso Killer Eagle itu memohon pada Zane.


Seringai jahat semakin terlihat mengembang di bibir Zane. "Sudah cukup? Tidak. Kau dan temanmu telah berani menyerang, bahkan melukai Azrail. Kau bilang itu sudah cukup hah!?"


"Tidak. Itu tidak cukup! Keluargaku bukan orang yang bisa kalian sentuh, apalagi di lukai. Seharusnya kalian berpikir berkali-kali sebelum melakukan itu,"


"Ku mohon ampuni aku!" pinta mafioso Killer Eagle itu dengan raut wajah memelas dan penyesalan.


"Sekarang kau baru meminta ampun padaku. Hmmmm sayang sekali, aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah membuatmu mati,"


Mafioso Killer Eagle menggelengkan kepalanya. Sebelum ia bersuara, tiba-tiba Zane lebih duli menebas kepalanya. Hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya. Zane menatap datar kedua mafioso Killer Eagle yang telah menjadi korban selanjutnya dari kekejamannya.


"Bakar tubuh mereka dan bersihkan ruangan ruangan ini!" perintah Zane sembari menyerahkan katananya yang telah berlumuran darah pada salah satu mafioso MOD.


"Sesuai perintah nona," sahut beberapa mafioso MOD itu serentak.


Zane pun berjalan pergi dari ruangan itu. Beberapa mafioso MOD tadi segera menjalankan perintah. Mereka tidak mau memicu kemarahan Zane karena lambat menjalankan perintah yang di berikan.

__ADS_1


__ADS_2