
Setelah merasa keadaannya sudah membaik, Zane memutuskan untuk pulang tepat jam 8 pagi. Awalnya Hugo memintanya agar beristirahat lebih lama lagi di penginapan itu. Namun seperti biasa, keras kepala Zane tidak bisa di lawan. Sehingga mau tidak mau laki-laki itu membiarkannya pulang.
"Ingat! Kamu harus banyak beristirahat!" seru Hugo pada Zane—Mereka baru saja sampai di rumah keluarga Anevay.
"Kau sangat cerewet," cetus Zane menatap jengah ke arah laki-laki itu.
"Aku cerewet juga karena kau," timpal Hugo tidak mau kalah.
"Sudahlah. Aku masuk sekarang," Zane berjalan pergi tanpa menunggu balasan dari Hugo.
"Hei, apa kau tidak mau mengajakku masuk dulu!?" Hugo sedikit berteriak agar Zane mendengarnya.
Zane mengangkat dan melambaikan tangannya ke atas. "Rumahku sedang tidak menerima tamu,"
Hugo menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu memang jarang mengajaknya masuk ke dalam rumah keluarga Anevay. Namun ia memaklumi hal itu, mengingat bagaimana hubungan Zane dengan orang tuanya yang terbilang tidak baik. Ia pun segera masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan kawasan rumah keluarga Anevay.
"Zane—Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ezio yang bergegas menghampirinya. Dari raut wajahnya dapat terlihat jelas kekhawatiran. Yeah. Laki-laki itu pasti mengkhawatirkannya karena mendengar kabar soal penyerangan MOD ke markas Killer Eagle kemarin malam.
"Seperti yang kakak lihat," jawab Zane singkat.
Tetapi, jawabannya tidak langsung membuat kekhawatiran sang kakak berkurang. Ezio justru memeriksa sendiri keadaannya dengan memutar-mutar tubuhnya.
"Stop, kak! Aku tidak apa-apa," sambungnya tegas. Baru setelah itu Ezio berhenti melakukan hal yang membuat kepalanya terasa pusing.
"Huffft.... Syukurlah. Kakak sangat khawatir padamu," Ezio menghembuskan nafas lega, usai memastikan Zane tidak terluka.
"Hmmm. Sudah berapa kali ku katakan, jangan terlalu khawatir padaku. Aku bisa menjaga—"
Greppp...
Belum sempat Zane menyelesaikan ucapannya, Ezio sudah memeluk tubuhnya dengan erat. Pelukan yang dapat membuatnya bungkam. Dan—Pelukan yang dapat membuat ia merasakan perasaan hangat, sekaligus kekhawatiran seorang kakak padanya.
__ADS_1
"Iya benar. Kamu memang bisa menjaga dirimu sendiri tapi perasaan khawatir kakak padamu, tidak bisa di batasi. Wajar kalau seorang kakak khawatir pada keadaan adiknya. Terlebih lagi seorang kakak memang berkewajiban menjaga agar adiknya baik-baik saja. Jadi tolong jangan mengambil perasaan dan kewajiban ini dari kakak! Kamu adalah salah satu orang terpenting dalam hidup kakak. Ingatlah itu selalu!" ucap Ezio dengan penuh penegasan. Tetapi, juga terdapat kelembutan yang tidak akan pernah hilang.
Zane terdiam cukup lama. Mungkin ia sangat dingin saat berbicara dengan semua orang. Sekarang keadaannya sedikit berbeda. Mulutnya terasa kelu untuk berbicara dan hatinya—Ya tidak di ungkiri kalau hatinya ingin merasakan kehangatan pelukan dari sang kakak. Jarang sekali Ezio memeluknya sebab selama ini Zane selalu menjaga jarak. Ia tidak ingin kehangatan Ezio membuatnya lalai dalam menjalankan tugas orang tuanya. Mengingat sang kakak adalah orang yang paling menentang hal itu.
"Heum. Aku selalu mengingatnya, kak. Terima kasih,"
"Kakak akan melakukan apapun untukmu, Zane. Sekalipun harus mengorbankan nyawa kakak, itu tidak masalah. Asal kamu tidak meminta kakak untuk menjauhimu. Apalagi sampai memutuskan hubungan di antara kita. Kakak tidak ingin itu terjadi," Ezio berucap apa adanya dan tulus dari hati.
"Iya, kak!" sahut Zane singkat sebab bingung harus membalas apa.
Ezio memang sangat tahu seperti apa dirinya dan bagaimana cara agar membuatnya tidak dapat berkutik lagi. Hanya saja jarang mempunyai kesempatan untuk membuat situasi seperti ini.
"Sekarang pergilah beristirahat! Kamu pasti lelah," Ezio melepaskan pelukannya. Beralih mengelus puncak kepala Zane.
Perlakuan hangat itu—Sesaat menjadikan seorang Zane patuh. Gadis itu menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Baru kemudian berjalan pergi dengan perasaan sedikit tertekan.
"Jika kakak memperlakukanku begini, bagaimana bisa aku akan tahan pada pendirianku?" gumamnya pelan.
Setelah sampai di kamarnya, Zane tidak langsung beristirahat. Ia pergi membersihkan dirinya terlebih dulu. Di bawah guyuran air, ia berusaha menghilangkan perasaan tertekannya dari pikiran dan hatinya. Jika tidak di hilangkan, mungkin pendiriannya akan goyah. Dan—Mungkin ia akan mengecewakan keinginan orang tuanya. Egois? Benar, ia egois pada dirinya sendiri dengan mementingkan keinginan mereka sampai memberi jarak di antara dirinya dan sang kakak—Orang yang selama ini menginginkan semua hal baik bagi Zane.
"Maaf. Aku menjaga jarak darimu, kak. Kamu pasti mengerti alasannya, bukan? Aku hanya ingin melakukan semua keinginan papa dan mama. Itulah yang bisa kulakukan untuk mereka. Berharap suatu hari nanti mereka memberiku balasan yang ku inginkan," ucap Zane yang kini tengah berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Drttt... Drttt... Drttt...
Tiba-tiba ponselnya yang terletak di atas nakas samping ranjang bergetar. Zane melihat ke arah nakas, sebelum mengambil ponselnya dan melihat nama Azrail tertera di layar benda pipih itu.
"Azrail?" beonya dengan sebelah alis tampak terangkat ke atas.
Zane sedikit bingung sebab di jam seperti ini, seharusnya Azrail belajar di sekolah. Terlebih lagi sangat jarang adiknya itu menelepon saat sedang berada di sekolahan. Namun daripada merasa kebingungan, ia pun segera mengangkat teleponnya.
"Ya, Azrail. Ada apa?" tanya Zane the to point tanpa menyapa secara basa-basa.
__ADS_1
[Azrail📞: Syukurlah kakak mengangkat teleponku. Apa sekarang kakak masih di luar rumah?]
"Sudah dirumah. Kenapa?" tanya Zane balik.
[Azrail📞: Aku mau minta tolong, kak. Para pelayan di rumah tidak ada yang mengangkat telepon dariku. Mungkin mereka sedang sibuk bekerja Makanya aku menelepon kakak. Siapa tahu kakak sudah ada di rumah]
"Katakan saja! Kakak akan membantumu,"
[Azrail📞: Flashdick milikku tertinggal di atas meja belajar. Didalamnya ada berisi file presentasi sejarah yang sebentar lagi mau di presentasikan. Tolong kakak ambilkan Flashdick itu dan minta sopir untuk mengantarkannya ke sekolahku. Itu sangat penting!]
"Hmmm. Baiklah," Zane membalas singkat seraya beranjak bangun dari kasur.
[Azrail📞: Terima kasih, kak!]
Tutttt....
Zane mematikan telepon secara pihak. Dengan langkah cepat, ia berjalan pergi menuju kamar sang adik. Sesampainya di sana, Flashdick yang di maksud Azrail memang ada di atas meja belajar.
"Lebih baik aku antarkan sendiri saja. Sopir mungkin akan lambat sampai ke sana. Azrail butuh ini cepat," ucapnya melihat ke arah Flashdick yang kini berada di genggaman tangannya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Zane pergi kembali ke kamarnya. Ia merapikan rambutnya yang sudah tidak terlalu basah dan mengikatnya tinggi. Wajahnya pun sedikit di beri polesan make up agar tidak terlalu pucat. Dengan setelan hodie berwarna cream dan sneakers putih, Zane tampak cantik dan santai. Ia pun bergegas pergi sebab tidak ingin membuang waktu. Suasana rumahnya hanya tampak para pelayan yang tengah sibuk bekerja. Lalu dimana tuan Ivon, nyonya Tasanee dan Ezio? Tentu saja mereka bertiga sudah pergi untuk melakukan pekerjaan masing-masing.
Zane pergi dengan mengendari mobil sportnya yang berwarna putih. Mobilnya melaju di kecepatan rata-rata. Sehingga tidak butuh waktu lama untuknya sampai di sekolahan Azrail.
"Selamat pagi, nona Zane! Nona datang untuk mencari tuan Azrail, ya?" sapa seorang laki-laki tua berpakaian penjaga sekolah pada Zane yang baru saja turun dari mobilnya.
Gadis itu menganggukkan kepala tanpa tersenyum. "Apa saya boleh masuk?"
"Tentu saja boleh. Silakan, nona!" seru penjaga itu yang langsung membukakan gerbang sekolah.
Penjaga itu tidak merasa tersinggung akan sikap Zane karena memang sudah sangat mengenal sosoknya. Entah itu dari secara langsung, maupun dari berita-berita yang tersebar.
__ADS_1
"Terima kasih,"