Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 23. Kejengkelan Hugo


__ADS_3

Beberapa jam lalu, Hugo memang berniat menyusul Zane dan para mafioso MOD yang tengah menyerang markas Killer Eagle. Untuk mengantisipasi keadaan yang mungkin tidak terduga selama penyerangan berlangsung, terutama keadaan Zane. Selama ini ia cukup sering menemui anemia Aplastik Zane kambuh, saat atau sesudah penyerangan. Oleh sebab itu, Hugo selalu menyusul ke manapun Zane dan para mafioso MOD melakukan pertarungan. Dengan membawa peralatan medis lengkap. Sehingga ia bisa cepat menangani jika terjadi sesuatu. Seperti yang saat ini sedang terjadi.


Hugo tidak membawa Zane pulang ke markas MOD tapi ke sebuah penginapan milik salah satu temannya yang berada cukup dekat dari lokasi mereka sekarang. Keputusan ini adalah yang terbaik sebab keadaan Zane sudah tidak memungkinkan lagi untuk menunggu sampai ke markas MOD. Butuh waktu 20 menit untuk mencapai penginapan itu.


"Tolong bawakan alat medisku!" seru Hugo pada mafioso yang mengemudikan mobilnya. Setelah turun dari mobil sembari memapah Zane.


"Baik,"


Zane segera dibawa masuk Hugo ke dalam penginapan milik temannya. Ia sudah menghubungi temannya soal kedatangannya dan memesan sebuah kamar. Sehingga kedatangannya bersama Zane telah di tunggu seorang pelayan. Mereka langsung di antar ke sebuah kamar yang sudah di siapkan. Lalu pelayan itu pergi, usai mengantarkan sampai ke depan pintu kamar dan membantu Hugo membukakan pintu. Hugo memapah Zane masuk, kemudian membaringkannya secara perlahan di kasur. Bersamaan kedatangan mafioso MOD yang membawakan peralatan medisnya.


Hugo mulai melakukan tugasnya sebagai Dokter untuk meredakan gejala anemia Aplastik pada Zane dengan melakukan transfusi darah. Sebelumnya ia sudah menyiapkan beberapa kantong darah. Dimana kantong darah itu merupakan persediaan untuk menangani keadaan Zane saat anemia aplastiknya kambuh. Zane tidak bersuara sedikit pun saat transfusi darah di lakukan. Matanya terpejam saat merasakan aliran darah dari kantong darah itu masuk ke dalam tubuhnya. Tampak hembusan nafasnya mulai membaik. Meski belum sepenuhnya baik dan kembali normal. Namun itu sudah bisa membuat Hugo bernafas lega.


Selama proses transfusi darah berlangsung, gejala yang di alami Zane perlahan mereda. Terlihat dari bagaimana gadis itu sekarang bisa tertidur dengan tenang. Hugo benar-benar bernafas lega sepenuhnya melihat itu. Pasalnya gadis seusia Zane mengidap anemia aplastik sangat jarang di temukan. Hal ini di karenakan biasanya anemia Aplastik hanya menyerang orang dewasa berusia 20 tahun ke atas. Sedangkan Zane sendiri baru berusia 18 tahun. Fakta itulah yang membuat Hugo sering mencemaskan keadaan Zane saat anemia Aplastiknya kambuh. Hugo cemas, sekaligus takut bahwa kemungkinan terburuknya akan di alami gadis itu.


"Jika saja kamu tidak keras kepala, mungkin aku tidak akan secemas ini memikirkan keadaanmu. Kapan kamu akan berubah pikiran? Keadaanmu ini harus segera mendapat penanganan lebih lanjut," gumam Hugo pelan seraya menatap intens Zane yang sedang tertidur pulas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam telah berganti dengan siang hari. Sinar matahari yang menembus celah-celah gorden, sontak mengganggu tidur Zane. Perlahan ia mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"Kamu sudah bangun, Zane?"


Zane pun langsung menoleh ke arah asal suara. Tampak Hugo—Sahabatnya yang berpakaian kaos santai tengah membawa sebuah nampan dan berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Dimana?" tanya balik Zane pelan sembari beranjak duduk bersandar. Matanya melihat sekilas ke arah tangannya yang terdapat bekas transfusi darah.


"Di penginapan temanku," jawab Hugo di sela meletakkan nampan tadi di atas nakas yang ada di samping kasur. Nampan itu berisikan segelas air putih dan sarapan untuk Zane.


Raut wajah Zane terlihat berubah. Dan—Hugo tentu sangat mengerti alasan perubahan raut wajah sahabatnya itu.


"Tenang saja. Aku sudah mengurus semuanya. Keadaanmu tidak akan di ketahui oleh siapapun," sambungnya.


"Hmmm," Zane berdeham pelan. Raut wajahnya kembali datar seperti biasa.


"Aku sudah meminta pelayan menyiapkan sarapan untukmu. Makanlah!" seru Hugo memberikan tatapan isyarat ke arah nampan di atas nakas.


Sekilas Zane mengikuti arah tatapan Hugo. Lalu beralih menatap laki-laki yang berdiri di samping kasur. "Terima kasih,"


Bukannya marah dengan ucapan Hugo, Zane justru bersikap acuh. Gadis itu segera mengambil piring berisi sarapannya dan mulai makan. Hugo duduk di sofa yang ada di sana sambil menunggunya selesai sarapan. Tidak ada pembicaraan terjadi di antara mereka. Hanya ada keheningan menyelimuti kamar itu sampai akhirnya Zane selesai sarapan.


"Kenapa kemarin malam kamu tidak langsung pulang?" pertanyaan dari Hugo memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Aku ingin bersantai dulu," sahut Zane begitu enteng, usai meletakkan gelas bekas minumnya.


Hugo mendengus kasar mendengar jawaban itu. "Begitukah? Apa kamu lupa dengan keadaanmu? Seharusnya kamu langsung pulang dan beristirahat,"


"Lalu apa salahnya kalau aku ingin bersantai dulu?" Zane bertanya seolah tidak mengerti arah pembicaraan Hugo.

__ADS_1


"Jelas salah! Kamu seharusnya pulang dan beristirahat, bukannya bersantai di cafe. Beruntung aku berada tidak jauh dari tempatmu. Jika aku datang terlambat—Mungkin kamu sudah tidak bernafas saat ini," cecar Hugo sembari bersedekap dada.


Zane tampak menyipitkan matanya. "Kau memang datang terlambat. Lupa dengan ucapanmu kemarin malam, hmmm?"


"Ya—Maksudku datang sangat terlambat," kilah laki-laki itu menimpali.


"Sudahlah. Terpenting aku sudah baik-baik saja," Zane tampak malas untuk melanjutkan pembicaraan itu.


Makin merasa jengkel, Hugo beranjak berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Zane. "Hei, nona Zwetta Anevay yang terhormat! Anda bisa mengatakan itu dengan mudah tapi coba pikirkan saya. Jantung saya berasa berhenti berdetak saat keadaan Anda seperti itu. Apa Anda tahu itu, heh?"


"Oh—Kenapa tidak sungguhan berhenti?"


Respon Zane spontan membuat Hugo memicingkan mata ke arahnya. "Kamu ingin aku mati!?"


Zane mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Hugo benar-benar jengkel akan respon dari sahabatnya itu. Rasanya ia ingin sekali memukulnya saat itu juga. Namun dalam prinsip hidupnya, tidak boleh bersikap kasar pada perempuan. Apalagi pada Zane—Sahabat yang telah banyak berjasa untuk kehidupannya. Mungkin ia sudah tidak waras kalau sampai bersikap kasar padanya. Tidak hanya tidak waras, mungkin ia juga akan tidak bernyawa lagi. Mengingat siapa dan bagaimana sosok Zwetta Anevay selama ini.


"Haishh. Mengajakmu berbicara serius memang tidak pernah bisa. Ujung-ujungnya aku yang mengalah atau emosiku yang ku tahan agar tidak tumpah. Menjengkelkan!" umpat Hugo menyerah.


"Kau tahu itu," timpal Zane singkat tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Tapi aku serius, Zane! Jangan menyepelekan keadaanmu. Kamu harus banyak beristirahat dan selalu membawa obat yang ku berikan padamu supaya bisa di minum saat anemiamu kambuh," Hugo kembali menegaskan kecemasannya pada gadis itu.


Dirinya jengkel karena merasa cemas terhadap keadaan Zane yang terkadang mendadak kambuh. Bukan jengkel karena ucapan gadis itu yang selalu memberikan balasan menohok padanya.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Tenang saja,"


__ADS_2