
Zane yang masih berada di balkon kamarnya, tampak mencengkram kuat ponselnya. Baru saja ia mendapat kabar dari anak buahnya tentang Azrail di serang dua orang asing. Bahkan gadis itu juga menonton rekaman kejadian yang terjadi beberapa menit lalu. Ia sangat marah sebab adiknya di serang. Sekalipun serangan itu hanya membuat Azrail mengalami luka kecil, di matanya luka tetaplah luka. Tidak boleh ada orang yang membuat adiknya terluka. Namun siapapun orang yang berani melakukannya—Maka ia pasti tidak akan mengampuninya.
"Berani sekali mereka menyerang Azrail!" geram Zane, usai menonton rekaman kejadian itu.
Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berjalan keluar dari kamarnya. Keadaan rumahnya cukup ramai seperti biasa dengan para pelayan yang sibuk bekerja. Zane tidak terlalu menghiraukan para pelayan yang menyapanya sepanjang berjalan menuju ke pintu masuk utama rumahnya. Dalam pikirannya hanya ada cara memberi pelajaran pada kedua orang yang telah menyerang Azrail.
"Anda mau kemana, nona Zane?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang merupakan salah satu kepala pelayan di rumahnya.
Langkah Zane sempat terhenti, tepat sesaat keluar dari rumah. "Ada urusan di luar,"
"Hati-hati, nona!"
Laki-laki paruh baya itu tidak berniat bertanya apapun lagi. Selama hampir 15 tahun bekerja di rumah keluarga Anevay, tentu ia tahun jelas semua sifat anggota keluarga. Termasuk Zane yang terkenal dingin dan irit bicara. Sehingga ia sangat mengerti bagaimana bersikap saat berhadapan dengan nona muda nya itu.
"Hmmm," Zane berdeham pelan. Sebelum akhirnya lanjut berjalan menuju garasi mobil.
Sesampainya di garasi mobil, Zane langsung masuk ke dalam mobil sport putih miliknya. Dan—Mulai melajukan mobil beberapa detik setelahnya. Zane melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata, meninggalkan kawasan rumah keluarga Anevay. Kepergiaannya tidak lepas dari pandangan Ezio yang tengah berdiri di balkon kamarnya sendiri. Laki-laki itu tampak menghela nafas. Ia sangat tahu alasan kepergian Zane yang tampak tergesa-gesa. Tetapi, dirinya juga tidak bisa mencegahnya karena sang adik sudah terbiasa melakukannya.
"Dia pasti pergi untuk memberi pelajaran sendiri pada mereka," gumam Ezio pelan yang kini menatap intens layar ponselnya.
Dimana terpampang jelas rekaman aksi perkelahian Azrail melawan dua orang misterius itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak perlu waktu lama untuk Zane sampai ke markas organisasi MOD. Di sana sudah menunggu beberapa mafioso MOD yang tadi membawa kedua orang itu. Mereka langsung menunduk hormat saat melihat kedatangan Zane.
"Dimana mereka?" tanya Zane dengan tatapan datar.
"Ada di dalam, nona. Kami membuat mereka tidak sadarkan diri," jawab salah satu mafioso MOD.
__ADS_1
Zane menganggukkan kepala. "Ambilkan 2 wadah air es dan bawa ke dalam!"
"Baik,"
Dua orang mafioso MOD berjalan pergi untuk menjalankan perintah Zane. Sementara beberapa mafioso lainnya mengikuti Zane masuk ke dalam sebuah ruangan. Kedua mata Zane langsung menangkap keberadaan dua orang laki-laki tanpa baju yang sedang tidak sadarkan diri. Mereka di biarkan berdiri dengan tangan di rantai ke atas.
"Siapa mereka?"
Maksud pertanyaan Zane tentu di mengerti oleh beberapa mafioso di belakangnya.
"Di lihat dari tato yang ada di tubuh mereka—Mereka adalah mafioso Killer Eagle," sahut salah satu mafioso MOD yang sebelumnya telah memastikan identitas kedua orang itu.
"Kau yakin?" tanya Zane memastikan.
"100% yakin, nona!"
Zane terdiam setelah mendengarnya. Seketika suasana di dalam ruangan itu hening. Beberapa mafioso MOD pun ikut terdiam dan tidak ada yang berani membuka suara lagi. Jujur saja, saat Zane diam seperti itu tidak lebih baik daripada saat dirinya marah. Sama-sama membuat suasana mencekam.
Sorot mata Zane melirik sekilas kedua mafioso MOD itu. Sebelum ia memberikan isyarat tangan agar mereka pergi untuk menyiramkan air es itu pada kedua orang yang masih tidak sadarkan diri. Isyaratnya di balas anggukan kepala oleh kedua mafioso MOD itu. Mereka segera menjalankan perintah dan tanpa menunda waktu lagi, 2 wadah air es itu langsung di siramkan. Sontak membuat kedua orang itu tersadar. Perlu beberapa menit untuk mereka benar-benar sadar sepenuhnya.
"Selamat datang di markas MOD!" sambut Zane sembari bersedekap dada.
Kedua orang itu kini menatapnya dengan intens. Tidak ada ketakutan sama sekali dari sorot mata mereka. Zane tidak merasa heran lagi mengingat mereka adalah anggota Killer Eagle—Salah satu organisasi mafia dengan tingkat pembunuhan tertinggi. Dimana mereka terkenal akan keberanian dan kekuatan yang tidak bisa di anggap remeh. Mereka membunuh orang tanpa memandang latar belakang. Sekalipun yang mereka bunuh adalah orang dari organisasi mafia lain, tidak ada rasa takut sama sekali di hati mereka. Zane mengakui keberanian dan kekuatan yang mereka miliki.
"Queen Angel of Darkness," sebut kedua mafioso Killer Eagle secara bersamaan.
"Ternyata kalian mengenalku," Zane tesenyum dingin sembari menatap mereka berdua.
Kedua mafioso Killer Eagle itu tersenyum remeh meski tubuh mereka menggigil kedinginan akibat siraman air es tadi.
__ADS_1
"Siapa yang tidak mengenal dirimu? Seorang pemimpin mafia perempuan pertama di negara ini. Dengan sebutan Queen Angel of Darkness. Bahkan seluruh organisasi dunia bawah telah mengakui kehebatanmu,"
"Kalian memujiku?" tanya Zane masih tersenyum.
"Benar. Kami memuji sedikit daripada kelebihan seorang gadis yang dengan beraninya masuk ke organisasi dunia bawah," jawab salah satu mafioso Killer Eagle.
"Sayangnya aku sama sekali tidak butuh pujian kalian," Zane berjalan mendekati mereka berdua.
Kedua mafioso MOD yang tadi menyiramkan air es, segera berjalan mundur ke belakang. Mereka tahu bahwa sekarang adalah waktunya Zane memberi pelajaran dan tidak boleh di ganggu.
"Rupanya memang benar kalau pemimpin MOD adalah seorang gadis yang sombong. Ah—Tapi kurasa kesombonganmu akan segera hilang karena kau telah berhasil masuk dalam permainan ketua kami. Hahahaha," gelak tawa kedua mafioso Killer Eagle memenuhi ruangan itu. Mereka benar- menganggap remeh seorang Zane.
Beberapa mafioso MOD hanya diam mendengar hinaan yang kedua mafioso Killer Eagle berikan pada Zane. Mengapa? Sebab mereka tahu kalau kedua mafioso itu akan segera di buat bungkam oleh Zane dengan cara yang pastinya akan sangat mengerikan
"Benarkah? Kalau begitu aku dengan senang hati bermain di permainan yang ketua kalian buat," tukas Zane sembari memberikan isyarat pada salah satu mafioso MOD.
Isyaratnya bisa dengan mudah di pahami. Mafioso MOD itu segera pergi mengambil sebuah katana—Sebuah pedang panjang bermata satu yang terdapat di dinding ruangan dan kemudian memberikannya pada Zane. Katana tersebut sangat tajam karena selalu di pertajam mafioso MOD. Mereka melakukannya atas perintah dari Zane yang menggunakan katana sebagai salah satu senjata favoritnya. Sudah banyak darah lawan yang melumuri katana itu.
"Katanamu itu tidak akan bisa membuat kami merasa takut," salah satu mafioso Killer Eagle begitu percaya diri mengucapkannya.
"Oh—Lalu bagaimana dengan ini?"
Srekkk....
Dalam sekali gerakan yang gesit, Zane mengayunkan katananya hingga satu tangan mafioso Killer Eagle terpenggal.
"Arghhhh!"
Rasa sakit tidak bisa di ungkiri oleh mafioso Killer Eagle itu. Bersamaan dengan kepercayaan dirinya yang mulai hilang.
__ADS_1
"Apa katanaku sudah berhasil menghilangkan kepercayaan dirimu?" Zane tersenyum dingin.