Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 21. Kambuh


__ADS_3

Bersamaan dengan kematian ketua Killer Eagle dalam ledakan yang menghancurkan tubuhnya, para mafioso MOD berhasil mengalahkan semua mafioso Killer Eagle tanpa tersisa satu orang pun. Sehingga keadaan markas Killer Eagle penuh akan mayat para mafioso yang mati mengenaskan.


"Semuanya sudah beres, Queen!" seru Addy pada Zane usai mendengar laporan dari pimpinan setiap kelompok MOD.


"Hmmm good," Zane berdeham pelan sembari masih menatap ruangan yang baru saja meledak bersama ketua Killer Eagle. Meski ledakannya tidak menghancurkan seisi markas Killer Eagle tapi ia cukup puas membalas perbuatan laki-laki itu.


"Lebih baik kita pergi sekarang, Queen. Asap beracun sudah hampir sepenuhnya menyebar di markas ini," ucap Addy yang memang benar adanya. Dimana keadaan markas Killer Eagle telah pekat akan asap beracun yang di ledakkan oleh kelompok MOD5.


Tanpa membalas ucapan Addy, Zane mulai berjalan pergi. Addy mengikutinya di belakang. Mereka berdua pergi menuju dimana semua mafioso MOD berkumpul setelah mengalahkan para mafioso Killer Eagle. Tepatnya di luar markas Killer Eagle, para mafioso MOD tampak berdiri menunggu kedatangan Zane bersama Addy. Sebagian para mafioso MOD membantu memapah mafioso lainnya yang sedang terluka. Percayalah—Luka di tubuh seorang mafioso menandakan bahwa dirinya telah membuktikan statusnya sebagai mafioso yang bertarung tanpa henti untuk memperjuangkan kemenangan bagi organisasinya.


"Queen!!!" para mafioso berseru saat melihat kedatangan Zane bersama Addy.


Zane tidak langsung menyahut, melainkan melihat para mafioso di hadapannya. "Ada berapa banyak mafioso yang terluka?"


"Menjawab, Queen—Tidak lebih dari 200 orang," sahut salah satu mafioso MOD yang berdiri lebih dekat dengannya.


"Hmmm. Cepat bawa pulang semua mafioso yang terluka ke markas untuk di obati!" perintah Zane bernada tegas.


"Baik, Queen!"

__ADS_1


"Addy—Kau hubungi Hugo dan tim medisnya agar standby di markas! Aku ingin mereka sudah ada di sana sebelum kedatangan para mafioso yang terluka," Zane beralih melirik sekilas Addy yang berdiri tepat di belakangnya.


Addy menganggukkan kepala. "Sesuai perintah Queen,"


"Dan sisanya, kalian juga pulanglah untuk beristirahat! Terserah hendak pulang ke markas atau ke rumah kalian. Penyerangan malam ini sudah berakhir," ucap Zane pada para mafioso MOD dengan sangat jelas.


"Baik, Queen! Terima kasih,"


Kemudian Zane pergi lebih dulu menggunakan mobilnya. Addy tidak mengikutinya sebab mengerti bahwa gadis itu tidak ingin di ikuti. Oleh karena itu ia hanya fokus melaksanakan perintah yang Zane berikan. Para mafioso MOD yang di tugaskan untuk membawa pulang mafioso terluka, langsung bergerak pergi menuju markas MOD. Sisanya juga mulai bersiap pergi dari sana. Selain Addy yang harus memastikan kelompok MOD5 melaksanakan perintah terakhir dengan benar. Laki-laki itu tidak akan tenang bila tidak memastikannya sendiri. Menurutnya di detik-detik terakhir, mungkin terjadi sesuatu yang tidak terduga. Jadi untuk menghindari hal itu, memang lebih baik memastikannya sampai berakhir.


"Ledakkan!" perintah Addy di alat komunikasi setelah memastikan para mafioso MOD telah meninggalkan kawasan markas Killer Eagle.


"Selesai. Semuanya segera kembali ke markas!" sambungnya pada kelompok MOD5.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah berakhirnya penyerangan ke markas Killer Eagle, Zane tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan pergi ke sebuah cafe yang berada tidak jauh dari sana. Cafe itu masih tampak ramai akan pengunjung, padahal malam sudah sangat larut. Pengunjung cafe itu di dominasi para anak muda yang tengah asik bercengkrama. Kebiasaan para anak muda di setiap malam. Entah untuk sekedar menongkrong biasa atau karena hal lain yang membuat mereka lebih memilih berlama-lama duduk di sana. Seperti yang sedang Zane lakukan saat ini. Gadis itu telah memperbaiki penampilannya yang sempat berantakan dan terdapat banyak bercak darah di pakaiannya.


Untungnya ia mempunyai pakaian ganti di mobil, sehingga bisa dengan mudah menggantinya. Bahkan luka yang di dapatkannya akibat bertarung dengan ketua Killer Eagle juga telah di obati sendiri sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


"Nona—Ini pesananmu," ucap seorang pelayan menyerahkan segelas karamel frapuccino panas dan french fries.


Sontak suara pelayan itu membuyarkan tatapan Zane yang sedari tadi mengarah ke arah luar jendela. Dimana rintik hujan turun secara tiba-tiba. Cuaca yang tidak terduga sebab tadi langit tidak terlihat mendung.


"Terima kasih," balas Zane singkat.


"Sama-sama,"


Pelayan itu tersenyum ramah dan berjalan pergi dari hadapannya. Zane pun segera meraih gelas karamel frapuccino-nya. Lalu meniupnya beberapa kali, sebelum meminumnya secara perlahan sembari menatap kembali ke arah luar jendela. Jujur saja, ia sangat menyukai hujan. Menurutnya setiap tetesan air hujan mempunyai melodi yang begitu menenangkan. Melodi yang mampu meredakan emosi dalam dirinya, sekaligus membuatnya merindukan sosok paling berharga baginya—Nyonya Noemi. Yah mamanya itu adalah sosok perempuan paling berharga di dalam hidupnya.


Mengapa? Ah tolong jangan tanyakan itu. Bagi seorang anak, sosok mama merupakan orang yang paling berharga sebelum papa.


Begitu pula di mata Zane, nyonya Noemi adalah sosok terhebat yang pernah di kenalnya dalam kehidupan ini. Perempuan yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa. Perempuan yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Dan—Perempuan yang dengan penuh kesabaran mengajari semua hal yang perlu di ketahuinya. Setelah semua itu, bagaimana Zane tidak kagum terhadap perempuan sehebat mamanya? Rasanya rasa kagumnya akan selalu bertambah bila mengingat sosok nyonya Noemi. Bersamaan rasa rindu yang semakin membuncah seperti sekarang.


Cukup lama Zane duduk di sana sembari meminum karamel frapuccino di temani french fries. Sampai akhirnya habis dan ia pun beranjak berdiri setelah membayar. Namun baru saja berdiri, kepalanya terasa pusing. Bersamaan detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Tidak berselang lama, nafasnya terasa sesak. Wajahnya perlahan memucat.


"Kenapa harus sekarang?" lirihnya pelan sembari memegang dadanya.


Zane bergegas mengambil ponselnya di dalam saku jaket. Dengan kesadarannya yang mulai berkurang, ia mencari nomor Hugo dan langsung menghubunginya.

__ADS_1


"Jemput aku di cafe xxxxx sekarang! Sakitku kambuh," hanya kalimat itu yang Zane sempat ucapkan sebab nafasnya benar-benar terasa sesak.


__ADS_2