Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 08. Bodoh


__ADS_3

"Bawa dia pergi!" perintah Zane sembari mengubah posisinya menjadi berdiri tegak.


"Baik," sahut kedua anak buahnya yang menahan tuan Eiden.


Kedua anak buah Zane segera membawa tuan Eiden pergi. Laki-laki paruh baya itu akan di tahan di dalam ruangan yang memang di sediakan untuk membuat lawan Zane membusuk dengan semua luka di tubuhnya. Termasuk tuan Eiden yang harus bernasib sial karena berani mencari masalah pada Zane.


"Lalu bagaimana dengan mereka berdua, nona?" tanya Addy menatap kedua orang yang tadi di bawa bersama tuan Eiden.


Zane melirik kedua orang itu secara bergantian. Sebelum berjalan menuju kursi dan kembali duduk di sana. "Buat mereka cacat! Itu balasan yang pantas untuk mereka berdua,"


"Baik, nona. Kami mengerti," sahut para anak buah Zane yang tengah menahan kedua orang itu.


"Nona—Tolong ampuni kami!" kedua orang itu memohon untuk di ampuni. Tetapi sekeras apapun mereka memohon, Zane tetap tidak peduli.


Para anak buah Zane langsung membawa kedua orang itu untuk di eksekusi. Kata eksekusi di sini bukan di hukum mati. Melainkan mereka akan membuat kedua orang itu cacat sesuai perintah dari Zane. Jika bisa memilih saat permohonan ampun di tolak—Kedua orang itu tentu memilih mati daripada di buat cacat. Sayangnya, semua keputusan ada di tangan Zane. Mereka berdua seharusnya bersyukur karena di biarkan tetapkan hidup meski nantinya cacat. Di karenakan orang-orang yang dulu berani mengganggu keluarganya dan dirinya sendiri, kecil kemungkinan untuk di biarkan tetap hidup. Yeah. Minimal di buat cacat, maksimalnya mati—Entah secara perlahan ataupun langsung.


"Sekarang apa ada perintah lain lagi, nona?" tanya Addy setelah di ruangan tinggal dirinya bersama Zane.


"Hancurkan kekuasaan tuan Eiden sampai habis! Aku tidak ingin mendengar jejaknya lagi," jawab Zane dingin tapi sangat jelas.


"Saya akan segera melakukannya nona," Addy mengangguk mengerti.


Zane menyandarkan tubuhnya ke kursi sembari kembali memainkan rubiknya. "Hmmm. Ada satu hal lagi yang perlu kau lakukan,"


"Apapun yang nona perintahkan, saya siap untuk melakukannya. Nona katakan saja!"


"Cari informasi soal sekelompok orang yang tadi pagi mengikutiku dan berusaha mencelakaiku!" perintah Zane tentu membuat Addy terkejut.


Laki-laki itu tampak membulatkan matanya dengan sempurna. "Berani sekali orang-orang itu melakukannya! Tapi nona tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Lakukan saja seperti perintahku tadi!" Zane berucap dengan tenang. Bahkan tidak terlihat emosi sedikit pun di raut wajahnya.


"Baik, nona! Saya pasti akan mendapatkannya secepat mungkin," sahut Addy berusaha meredam emosinya.


Tentu saja ia merasa emosi saat mendengar ada sekelompok orang yang mengikuti dan berusaha mencelakai Zane. Addy sangat hormat pada Zane—Pimpinannya. Terlebih lagi sikap baik Zane padanya selama ini membuat Addy merasa begitu beruntung bisa mengenalnya. Oleh karena itu ia telah berjanji untuk setia, serta menjaga nyawa Zane—Sama seperti menjaga nyawanya sendiri.


"Kau boleh pergi sekarang! Aku ingin sendiri dulu di sini," ucap Zane, usai merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakannya pada laki-laki itu.


Addy mengangguk mengerti. Laki-laki itu menunduk hormat, sebelum berjalan pergi meninggalkan Zane sendiri di dalam ruangan itu. Dalam sekejap suasana di dalam ruangan itu kembali hening. Zane tampak fokus bermain rubik miliknya, hingga semua warna pada rubik itu tersusun rapi seperti semula. Bersamaan dengan tersusunnya rubik itu, pikirannya menerawang kembali kejadian beberapa menit lalu. Di susul kejadian-kejadian yang telah di laluinya selama ini. Ia tampak menatap datar ke arah tangannya.


"Aku selalu melakukan yang kalian inginkan. Bahkan tanganku ini sudah banyak terkena lumuran darah orang. Lalu kapan aku bisa mendapatkan balasan?" gumamnya pelan.


Tanpa sadar bibirnya mengembangkan senyuman getir. "Bodoh. Pertanyaan apa yang baru saja ku tanyakan? Kau terlalu berharap—Zwetta Anevay. Pertanyaanmu ini tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Begitu pula dengan harapanmu yang selamanya akan menjadi angan,"


Salahkah jika dirinya bertanya soal itu? Dan—Salahkah jika dirinya berharap? Tidak. Rasanya itu tidak salah sama sekali. Manusia memang di perbolehkan bertanya untuk mendapatkan sebuah jawaban yang ingin di dengar. Berharap—Manusia juga tidak di larang untuk berharap akan sesuatu yang di inginkan. Namun dalam kehidupan seorang Zwetta Anevay, kedua hal itu di larang keras. Mengapa? Tentu saja karena orang tuanya tidak mengijinkannya untuk bertanya atau berharap. Hidupnya bukan miliknya sendiri. Itulah kenyataan yang selama ini ia hadapi. Sebuah kenyataan yang menegaskan bahwa kehidupannya berjalan sesuai keinginan dari orang tuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Seorang laki-laki tampan berpakaian serba hitam datang menghadap Zane yang tengah menikmati makan malamnya.


"Nona Z.A!"


[Note: Z.A Di baca Zi-Ay]


Z.A sendiri adalah insial dari nama Zane—*Z*wetta ****A******nevay** yang merupakan panggilan Zane dalam organisasi *MOD*.


Sontak Zane menghentikan kegiatannya, lalu menatap sekilas laki-laki itu. Alisnya tampak saling bertaut.

__ADS_1


"Hmmm?"


"Saya dengar pagi tadi nona di ikuti dan berusaha di celakai sekelompok orang. Apa nona terluka? Kalau terluka—Biar saya periksa sekarang. Takutnya luka nona akan mengalami infeksi nanti. Saya tidak ingin itu terjadi," baru saja datang, laki-laki itu sudah mencerocos panjang. Zane hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sepertinya kau harus memeriksa matamu dulu," celetuk Zane bernada enteng sembari melanjutkan kegiatan makan malamnya yang sempat terhenti.


Laki-laki tampan itu mendengus pelan. "Keadaan mataku baik-baik saja, nona! Tidak perlu di periksa,"


"Begitu pula keadaanku," Zane menimpali di sela makan malam tanpa menatap ke arah lawan bicara.


"Tapi tetap harus di periksa, nona. Untuk menghindari hal buruk," cetus laki-laki itu tidak mau kalah.


"Kau keras kepala—Hugo!" seru Zane kembali menggelengkan kepalanya.


Hugo. Benar itulah nama dari laki-laki tampan berpakaian serba hitam itu. Masih berusia muda dan merupakan dokter pribadi organisasi MOD. Hmmm sebenarnya bukan itu saja. Hugo adalah sahabat pertama yang Zane miliki, setelah menjalani berbagai rintangan. Yeah. Mengingat betapa dinginnya sosok Zane, Hugo harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan kepercayaannya. Dan finally, mereka telah bersahabat hampir 10 tahun. Banyak orang berkata bahwa tidak ada persahabatan sesungguhnya antara laki-laki dan perempuan. Di dalamnya pasti ada sebuah perasaan suka atau cinta. Namun hal itu tidak berlaku bagi Zane, maupun Hugo. Mereka berdua benar-benar hanya bersahabat.


Meskipun ada berperasaan satu sama lain, itu hanya sekedar rasa saling kagum, sayang, bahkan suka untuk sahabat. Bukan perasaan lebih. Di tambah Hugo juga telah mempunyai kekasih yang amat di cintai.


"Nona Z.A lebih keras kepala!" balas Hugo bernada sewot.


"Terserah," Zane berucap singkat, padat dan jelas.


"Dan berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Kita tidak sedang dalam lingkup organisasi," sambungnya.


"Ya baiklah, Zane. Padahal aku memanggilmu dengan sebutan nona Z.A, tidak lain karena demi keselamatanku. Aku tidak ingin di cap tidak hormat olehmu dan berakhir cacat," ucap Hugo terus terang sambil bergidik ngeri membayangkan bagaimana sikap kejam yang Zane miliki.


"Mending cacat, bagaimana kalau kubuat kau mati dengan mengenaskan?" tanya Zane menyeringai datar.


Hugo memicingkan matanya. "Masa kamu tega melakukan itu padaku? Aku ini sahabat pertamamu, loh? Sahabat yang sudah hampir 10 tahun ini menemanimu dan yang selalu bersabar menghadapi sikapmu ini. Kamu tidak lupa itu, kan?"

__ADS_1


__ADS_2