Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 22. Anemia Aplastik


__ADS_3

Bahkan rasa sesak di dadanya membuat Zane tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Saat hendak mengambilnya tapi tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang lebih dulu mengambil benda pipih itu.


"Ponselmu,"


Suara bariton dari pemilik tangan kekar terdengar jelas di telinga Zane. Bersamaan dengan tangan kekar itu tengah mengulurkan ponsel miliknya ke arahnya. Sontak Zane mendongakkan kepala—Dimana kedua matanya kini dapat melihat wajah laki-laki pemilik tangan kekar itu. Oh bukan. Lebih tepatnya kini ia sedang beradu tatapan dengan mata laki-laki itu yang tidak kalah tajam dan dingin. Hal itu tidak berselang lama sebab penglihatan Zane mulai kabur akibat kepalanya pusing. Ia pun segera mengambil ponselnya.


"Terima kasih," ungkap Zane singkat.


Baru saja mengucapkan itu, keseimbangan tubuhnya mulai goyah. Sebelum ia terjatuh ke lantai, laki-laki itu langsung menahannya. Posisi seperti itu tampak sangat intim.


"Hati-hati," ucapnya dingin.


Zane sedikit tersentak kaget dan kemudian menjauhkan dirinya dari laki-laki itu. "Hmmm—Ya,"


"Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja,"


Tentu saja laki-laki itu menyadari keadaan Zane yang tidak baik dari wajahnya nan pucat. Terlebih lagi sedari tadi sebelah tangannya terus memegang dadanya.


"Tidak. Aku—"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zane kembali kehilangan keseimbangan. Spontan laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya—Menahan Zane agar tidak terjatuh ke lantai. Kali ini nafasnya terasa sangat sesak, begitu pula kepalanya yang terasa semakin pusing dan penglihatannya benar-benar buram. Tanpa sadar sebelah tangannya memegang erat lengan laki-laki itu. Sungguh keadaan seperti ini melemahkannya dalam hitungan detik.

__ADS_1


"Duduklah!" seru laki-laki itu sembari mendudukkan Zane di kursi secara perlahan.


Zane tidak membantah sedikitpun dan duduk bersandar di kursi. Kedua matanya terpejam seraya melakukan pernafasan Diafragma—Pernapasan yang dilakukan secara sadar dengan menggunakan diafragma sepenuhnya, sehingga paru-paru bisa terisi lebih efisien. Pernafasan ini melibatkan sepenuhnya perut, otot perut dan diafragma saat bernafas. Zane sering melakukannya saat mengalami sesak nafas seperti ini. Pemandangan itu tidak terlepas dari sorot mata tajam laki-laki yang baru saja menolongnya.


"Pelayan!" laki-laki itu memanggil seorang pelayan yang berada tidak jauh dari sana.


Mendengar di panggil oleh laki-laki itu, pelayan tadi bergegas datang menghampirinya. "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Cepat bawakan segelas air hangat!"


Satu kalimat perintah yang laki-laki itu ucapkan, pelayan tadi sudah cukup mengerti. Apalagi melihat keadaan Zane yang sedang tidak baik-baik saja. Sehingga mengharuskan pelayan tadi bergerak cepat untuk mengambilkan segelas air hangat. Laki-laki itu hanya duduk diam di sebelah Zane sampai pelayan tadi kembali. Sesekali sorot matanya nan tajam melirik ke arah Zane yang sibuk melakukan pernafasan diafragma. Tanpa bertanya pun, ia sudah mengetahui bahwa gadis itu mengalami sesak nafas. Dan—Apa yang sedang di lakukan Zane sekarang, tidak lain untuk meredakan sesak nafasnya.


"Ini air hangatnya, tuan!" pelayan tadi telah kembali dengan membawakan segelas air hangat sesuai perintah.


Seketika mata Zane yang terpejam, perlahan terbuka. Meski penglihatannya buram tapi masih bisa melihat wajah laki-laki itu. Tampak begitu familiar untuknya, hanya saja ia tidak ingat laki-laki itu siapa. Tetapi, ia juga tidak berniat mengingatnya dan segera mengambil segelas air hangat itu tanpa bersuara lagi. Lalu meminumnya dengan perlahan. Selama beberapa menit keheningan terjadi di meja itu. Zane sibuk minum di sela sesekali melakukan pernafasan Diafragma Sedangkan laki-laki itu telah duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Hingga akhirnya seseorang datang menghampiri gadis itu dengan tergesa-gesa. "Zane! Maaf—Aku datang terlambat,"


Zane hanya menganggukkan kepala. Orang itu tidak lain adalah Hugo yang langsung bergegas pergi ke tempat dimana dirinya berada.


"Ini minumlah dulu!" sambungnya menyerahkan beberapa butir obat antibiotik padanya dan ia pun meminumnya.

__ADS_1


Obat antibiotik itu hanya berguna untuk membantu mencegah terjadinya infeksi. Sedangkan untuk meredakan gejala anemia yang tengah di rasakan Zane, harus di lakukan transfusi darah. Benar. Gadis itu mengidap anemia aplastik—Penyakit langka akibat kelainan pada sumsum tulang, yang menyebabkan organ ini tidak dapat menghasilkan cukup sel darah, baik itu sel darah merah, sel darah putih, trombosit, atau ketiganya sekaligus. Kondisi ini bisa membahayakan apabila jumlah darah yang berkurang sangat banyak dan tidak mendapatkan pengobatan.


Zane sendiri mengidap anemia aplastik jenis Acquired aplastic anemia—Anemia aplastik yang terjadi setelah dirinya lahir dan bukan diturunkan dari orang tua. Sebagian kasus anemia aplastik tidak di ketahui apa penyebabnya. Namun ada teori yang menunjukkan bahwa sebagian besar kondisi seperti ini di sebabkan oleh gangguan autoimun. Dimana gangguan ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang organ tulang sumsum. Biasanya orang yang mengidap anemia aplastik akan menunjukkan gejala sesuai jenis darah yang jumlahnya berkurang. Dan gejala yang sering di alami Zane adalah pusing, dada berdebar dan sesak nafas.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Zane! Keadaanmu tidak baik," sambung laki-laki itu tampak cemas.


Ucapannya sekali lagi di balas Zane dengan anggukan kepala. Hugo berniat untuk membawanya pergi tapi tanpa sengaja kedua matanya baru menyadari keberadaan laki-laki yang sedari tadi berdiri di dekat Zane.


"Kau?"


"Jaga temanmu," ucap laki-laki singkat, sebelum berjalan pergi dari sana.


Hugo tampak memainkan alisnya sebab merasa familiar wajah laki-laki itu. Tetapi keadaan Zane langsung menyadarkannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun membawa pergi Zane dari sana. Di luar cafe terdapat seorang mafioso yang tadi datang bersamanya.


"Bawa mobilku! Aku akan membawa Zane dengan mobilnya," seru Hugo pada mafioso itu.


"Baik, tuan!"


Meski anemia aplastiknya sedang kambuh, kesadaran Zane belum benar-benar hilang. Ia memberikan kunci mobilnya pada Hugo dan membiarkan laki-laki itu membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian Hugo segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Selama perjalanan ia memastikan keadaan Zane tidak memburuk. Hanya saja tidak dapat di ungkiri dirinya tengah cemas. Setiap kali anemia aplastik Zane kambuh, Hugo mencemaskan keadaannya yang kapan saja bisa memburuk. Apalagi mengingat kadar darah Zane yang sangat rendah. Kemungkinan terburuk yang Hugo cemaskan saat anemia Aplastik Zane kambuh adalah dampaknya bisa menyebabkan kematian.


"Zane—Kamu tenanglah. Secepatnya aku pasti akan menyembuhkanmu," gumamnya melirik sekilas gadis yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Gadis itu masih melakukan pernafasan diafragma dengan mata terpejam. Namun Hugo tahu bahwa Zane pasti mendengar gumamannya.


__ADS_2