
Cittt....
Zane menghentikan mobilnya tepat di dekat gerbang sekolah Azrail. Di sana tampak sebagian siswa dan siswi yang juga baru datang. Entah itu di antar, maupun menggunakan mobil sendiri. Tampilan mereka tidak biasa sebab sekolah itu hanya di peruntukkan untuk anak orang kaya dan berpengaruh. Mereka memiliki latar belakang yang hampir sama-sama kuat. Sehingga tidak heran kalau tampilan mereka tampak tidak biasa—Lebih tepatnya terkesan mewah untuk seorang anak SMA. Begitu pula dengan sebagian dari mereka yang tidak segan menunjukkan kekuasaan di sana.
"Belajar yang rajin, Azrail!" seru Zane pada sang adik yang tengah bersiap turun dari mobil.
"Siap, kak!" Azrail mengacungkan jempolnya sembari mengedipkan mata.
Kemudian laki-laki muda itu berjalan turun dan menutup pintu mobil. Ia juga sempat melambaikan tangan ke arah Zane yang hanya mengangguk sebagai balasan. Tidak berselang lama, Zane kembali melajukan mobilnya meninggalkan kawasan sekolah Azrail. Tetapi sebelum mobilnya benar-benar menjauh dari sana, ia menghubungi seseorang.
"Tambahkan beberapa orang untuk berjaga di sekitar sekolah Azrail! Aku tidak ingin ada satu orang pun yang berusaha mencelakai adikku," ucap Zane bernada dingin seperti biasa.
[......................]
"Katakan pada semuanya untuk bersiap! Hari ini aku ingin membereskan semut itu,"
[......................]
Tuttt...
Zane mengakhiri panggilan itu dan fokus mengemudikan mobilnya menuju kampus. Jarak dari sekolah Azrail ke kampusnya cukup jauh. Mobilnya melaju dengan kecepatan rata-rata sehingga tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai di sana. Ia datang tepat waktu, sebelum mata kuliah pertamanya di mulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Matahari sudah terbenam, di gantikan bulan yang tampak bersinar terang. Tetapi raut wajah Zane tidak seindah sinar bulan itu. Datar dan dingin—Seperti itulah raut wajahnya sekarang. Kedua matanya menatap tajam ke arah jalanan depan. Sekarang ia sedang melajukan mobilnya ke suatu tempat. Dimana beberapa orang sudah menunggu kedatangannya.
"Nona!" panggil seseorang saat ia baru saja tiba di sana dan berjalan turun dari mobil. Orang itu menunduk hormat ke arahnya.
Zane menatap datar orang itu. "Bagaimana?"
"Kami menunggu perintah nona selanjutnya," sahut orang itu usai mengangkat kepalanya kembali. Sehingga bisa melihat dengan jelas wajah Zane.
__ADS_1
"Bereskan dan bawa semut itu padaku!" perintah Zane dingin.
"Baik, nona!"
Orang itu menunduk hormat, sebelum berjalan pergi hadapannya. Kini Zane duduk bersandar di bagian depan mobil sambil bersedekah dada. Tatapannya nan tajam tengah mengamati sebuah gedung yang menjulang tinggi tepat beberapa meter dari tempatnya sekarang. Tidak berapa lama, tampak banyak orang berlarian keluar dari gedung itu dengan panik dan ketakutan. Zane tersenyum datar dari tempatnya yang redup akan pencahayaan. Para anak buahnya baru saja mulai menjalankan perintahnya. Ia cukup suka melihat itu tapi tidak berniat melihatnya lebih lama. Seperti biasa—Zane akan pergi menuju sebuah tempat rahasia dan menunggu para anak buahnya kembali.
1 Jam berlalu
Zane tengah duduk di kursi king Size. Sejak tadi kedua tangannya sibuk memainkan rubik. Kebiasaannya memang bermain rubik saat tidak ada pekerjaan lain.
"Nona—Kami sudah berhasil menjalankan perintah," orang tadi datang kembali menghadap Zane.
Sontak laporannya itu membuat Zane berhenti memainkan rubik, lalu menatapnya. "Bagaimana dengan semut itu?"
"Ada di luar, nona!"
"Bawa masuk!" titah Zane yang langsung di angguki orang itu.
"Lepaskan atau kalian akan menyesal!" salah satu dari ketiga laki-laki itu terus saja memberontak. Sedangkan kedua laki-laki yang lain tampak lemah tidak berdaya karena telah di lumpuhkan oleh para anak buah Zane.
"Sudah begini, kau masih berani mengancam—Tuan Eiden?" pertanyaan yang Zane ajukan membuat ketiga laki-laki itu langsung menyadari keberadaannya.
Memang kursi yang Zane duduki tidak terlalu terlihat karena pencahayaan ruangan yang cukup redup. Oleh karena itu ketiga laki-laki itu tadi tidak menyadari keberadaan Zane. Meski begitu, mereka tidak dapat melihat jelas wajahnya.
"Siapa kau? Berani sekali membuat kekacauan di perusahaanku dan menangkap ku seperti ini! Kau sudah bosan hidup, heh!?" erang laki-laki yang di panggil Zane dengan nama tuan Eiden.
Zane tertawa pelan. Mungkin orang-orang akan terpesona saat melihatnya tapi percayalah—Di saat seperti ini, lebih baik Zane tidak tertawa karena itu begitu mengerikan.
"Jika aku tidak berani, mana mungkin hal ini terjadi. Dan lagi—Bukan aku yang sudah bosan hidup tapi kau!"
"Sialan! Sebenarnya siapa kau!? Aku tidak pernah merasa berbuat masalah dengan seorang perempuan," cecar tuan Eiden sembari masih berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari para anak buah Zane yang sedang menahannya.
__ADS_1
"Siapa aku? Ku rasa kau pasti mengenaliku," perlahan Zane beranjak berdiri dan berjalan maju beberapa langkah. Hingga wajahnya bisa terlihat jelas.
Mata tuan Eiden membulat sempurna. Sama halnya dengan kedua laki-laki yang di tahan bersamanya.
"Kau!!? Nona Zwetta Anevay—Adik dari Ezio?"
Zane memetikkan jarinya. "Tepat sekali. Jadi kau juga pasti sudah mengerti jawaban dari pertanyaanmu sebelumnya,"
"Apa masalahmu denganku!?" tanya tuan Eiden tidak mengerti.
"Oh jadi kau tidak mengerti. Baiklah—Aku akan memberitahukannya padamu, tuan Eiden! Selama ini kau telah bermain trik kotor pada kakakku, bukan?" Zane memberikan tatapan mengintimidasi pada laki-laki itu.
"Trik kotor apa? Kau jangan berbicara sembarangan. Aku bisa saja melaporkanmu atas pencemaran nama baik dan tindakan lancangmu padaku hari ini!" sanggah tuan Eiden, sekaligus memberikan ancaman.
Sayangnya, Zane bukan orang yang bisa di ancam. Gadis itu justru tersenyum sinis mendengarnya. "Jangan kau pikir aku tidak tahu trik kotormu itu! Aku punya semua buktinya. Bahkan sebelum kau melaporkanku, aku akan lebih dulu melaporkanmu. Setelah itu ku lakukan, mungkin kau tidak akan bisa lagi mengancamku. Hmmm?"
"Ka—Kau!?" tuan Eiden menunjuk tajam ke arah Zane, lalu mengepalkan tangannya.
"Tapi sayang sekali aku tidak sebaik itu," cetus Zane bersedekah dada.
"Apa yang kau mau dariku!?" tanya tuan Eiden berusaha mengontrol emosinya. Kalau sampai Zane melaporkannya, bisa hancur semua yang telah ia bangun sejauh ini.
"Hmmm pertanyaan bagus," Zane berdeham ringan.
"Katakan apa maumu! Aku akan memberikannya asal kau melepaskanku. Dan—Aku tidak akan bermain trik kotor lagi dengan kakakmu,"
"Sepertinya aku tidak mau apapun darimu," sahut Zane begitu santai.
"Lalu untuk apa kau melakukan ini padaku?" tuan Eiden tidak mengerti dengan isi pikiran Zane.
"Tentu saja karena ingin memberimu pelajaran,"
__ADS_1
"Bagaimana bisa seorang gadis sepertimu memberiku pelajaran? Lebih baik kau lepaskan aku dan kita bisa membicarakan masalah ini dengan cara damai," tanpa sadar tuan Eiden telah menghina Zane. Para anak buah Zane tersenyum samar sebab laki-laki itu belum tahu dengan siapa dirinya berhadapan.