Mafia Story: Angel of Darkness

Mafia Story: Angel of Darkness
Eps 09. Hal Sia-sia


__ADS_3

"Apa tujuanmu datang ke sini hanya untuk mengganggu waktu makan malamku?" bukannya membalas, Zane justru bertanya balik. Matanya tampak menyipit dengan sebelah alis terangkat.


Hugo menjadi gelapan. "Ya—Ya, bukan gitu juga. Aku datang karena mengkhawatirkan keadaanmu,"


"Daripada kau mengkhawatirkanku secara berlebihan, sebaiknya beritahu aku hasil kerjamu? Apa kau sudah berhasil menemukannya?" pertanyaan Zane tiba-tiba membuat raut wajah Hugo berubah. Tampak lebih serius dan juga ada pancaran kekhawatiran dari sorot matanya.


Perubahan raut wajah Hugo tidak terlepas dari pandangan Zane. Gadis itu sudah bisa menebak apa jawaban yang akan di berikan oleh Hugo.


"Aku belum berhasil," kalimat itu di ucapkan Hugo dengan pelan tapi Zane masih bisa mendengarnya.


"Tidak masalah. Kau bisa berusaha lagi," Zane terlihat biasa saja—Santai. Padahal Hugo merasa bersalah padanya karena kembali gagal menemukan hal yang saat ini Zane sangat butuhkan.


"Tapi kamu butuh itu secepatnya," sanggah Hugo bersikeras. Ia tidak bisa sesantai Zane menanggapi masalah itu.


Zane terdiam sesaat, menikmati makan malamnya. "Jika belum berhasil, lantas aku harus bagaimana? Mendesakmu. Begitukah?"


"Bukan begitu. Aku tahu kamu bukan tipe orang yang suka mendesak akan sesuatu. Tetapi setidaknya pikirkan dirimu. Keadaanmu tidak bisa di anggap sebagai hal sepele. Kamu ingat itu, bukan?" Hugo tidak mengerti kenapa sikap Zane seperti itu. Selalu tampak acuh, terutama pada dirinya sendiri. Tidakkah gadis itu pernah memikirkan dirinya sendiri meski hanya sedetik? Pikirnya.


"Aku tidak lupa," sahut Zane begitu singkat.


"Lalu kenapa sikapmu acuh dan tidak peduli begini?" tanya Hugo yang terdengar konyol.


Sudah berapa kali ia menanyakan itu tapi tetap kembali bertanya untuk ke sekian kalinya. Meski ia tahu jelas jawaban Zane apa. Siapa tahu Zane akan memberikan jawaban berbeda—Jawaban yang sangat ingin di dengarnya.


"Kau sudah tahu jawabannya," jawab Zane tepat bersamaan dengan meletakkan sendok serta garpunya di atas piring bekas makan. Ia baru saja selesai makan malam.


"Tidak bisakah kamu memberikan jawaban berbeda?"


Zane terdiam seribu bahasa mendengar pertanyaan itu. Kemudian tampak menghela nafas. "Jangan membuatku melanggar apa yang telah ku jalani selama ini, Hugo! Jika kau masih ingin bersahabat denganku,"

__ADS_1


Kini giliran Hugo yang menghela nafas, lalu menghembuskannya dengan kasar. Sekali lagi ia harus mengalah dari sang sahabat yang tidak suka di paksa. Meskipun itu demi kebaikan dirinya sendiri.


"Lagi-lagi aku harus mengalah karena ancamanmu ini," ucapnya tersenyum jengkel.


"Hmmm," Zane hanya berdeham pelan.


Huh! Gadis itu sungguh tidak peduli akan apapun. Termasuk perasaan Hugo yang selama ini terus mengkhawatirkannya.


"Aku memang mengalah tapi bukan berarti kamu bisa bersikap acuh terus terhadap dirimu sendiri. Pikirkan keadaanmu. Jangan menganggapnya sebagai hal sepele karena kamu sendiri tahu seberapa besar bahayanya untukmu!" seru Hugo memperingatkan sang sahabat—Zane. Entah akan di dengar atau tidak, ia selalu memperingatkannya.


"Iya, aku tahu. Kenapa semakin hari, kau semakin cerewet?" celetuk Zane yang membuat laki-laki itu merasa tambah jengkel.


Laki-laki itu bersedekap dada dan mendengus kesal. "Bagaimana aku tidak semakin cerewet kalau menghadapi gadis sepertimu, heh?"


"Aku tidak memintamu untuk menghadapiku," Zane berucap dengan enteng, meski nadanya tetap terdengar dingin.


"Ck. Kenapa aku bisa mempunyai sahabat menjengkelkan sepertimu?" decak Hugo mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Oh astaga. Kamu jangan salah paham! Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh!" Hugo memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


"Terserah,"


Zane beranjak berdiri dari kursinya. Lantas Hugo pun juga melakukan hal yang sama.


"Kamu mau ke mana?" tanya Hugo saat Zane hendak berjalan pergi.


"Pulang," jawab Zane singkat tanpa menatap ke arah lawan suara.


"Aku akan mengiringimu sampai rumah," ucap Hugo cepat.

__ADS_1


Tidak ada balasan apapun dari Zane. Entah itu setuju ataupun menolak. Gadis itu justru langsung berjalan pergi dan tentu saja Hugo segera menyusulnya. Meskipun Zane bisa pulang sendiri, Hugo akan mengiringinya sampai ke rumah. Ia cukup sering melakukannya pada saat selesai bertemu Zane. Tindakannya ini sebagai bentuk rasa ingin menjaga seorang sahabat. Hugo ingin memastikan sahabatnya sampai ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat jam 10 malam, Zane baru sampai ke kediamannya dengan di iringi oleh Hugo dari tempat rahasia tadi—Dimana itu adalah markas dari organisasi MOD. Laki-laki itu baru pergi setelah memastikan Zane masuk ke dalam rumah.


"Zane—Kamu tidak apa-apa, kan?" pertanyaan seseorang menghentikan langkah Zane.


Orang itu siapa lagi kalau bukan Ezio Anevay—Kakaknya. Zane telah begitu hafal dan biasa akan keberadaan sang kakak yang setia menunggunya pulang di malam hari. Padahal ia sama sekali tidak meminta kakaknya itu untuk menunggunya pulang. Terlebih lagi, kakaknya itu telah menjadi seorang pengusaha muda yang terbilang sibuk. Pasti sangat lelah dan seharusnya langsung istirahat saat pulang ke rumah. Namun Ezio sama keras kepalanya seperti dirinya sendiri. Meski di minta untuk tidak menunggunya, laki-laki itu bersikap acuh dan tetap melakukannya sampai sekarang.


"Kakak bisa melihat sendiri. Aku baik-baik saja," jawab Zane yang kini berdiri berhadapan dengan sang kakak.


"Syukurlah. Kakak khawatir terjadi sesuatu padamu," terdengar helaan nafas lega dari mulut Ezio. Sungguh—Dirinya tidak berbohong. Mendengar keadaan Zane baik, ia baru bisa bernafas lega.


"Apa yang perlu di khawatirkan? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kakak jangan terlalu mengkhawatirkanku!" Zane berucap dengan mengurangi sedikit nada dinginnya.


Pletakk...


Ezio menyentil pelan dahi sang adik. "Gadis bodoh! Bagaimana kakak tidak mengkhawatirkanmu? Kalau di luar sana, kamu bermain dengan bahaya,"


"Bahaya dan kegelapan adalah bagian dari kehidupanku. Kakak tahu itu," tukas Zane sembari tersenyum tipis tapi terkesan datar.


"Ya, kakak sangat tahu. Bahaya adalah teman paling setia di kehidupanmu. Sedangkan kegelapan adalah dunia dan jalan yang kamu jalani. Dimana kakak kesulitan untuk menarikmu keluar dari kedua hal itu. Tetapi, apa salah jika seorang kakak mengkhawatirkan adiknya? Tidak. Dunia juga tahu jelas bahwa sikap kakak ini benar," Ezio menatap intens Zane.


Ada pancaran kesedihan, kekhawatiran dan kasih sayang dari sorot mata yang ia perlihatkan. Zane selalu melihat itu selama ini tapi juga selalu bersikap seolah-olah tidak melihatnya.


"Dunia mungkin membenarkan sikap kakak tapi aku tidak mengijinkannya,"


"Kenapa?" tanya Ezio penasaran.

__ADS_1


"Karena sejatinya mengkhawatirkanku adalah hal sia-sia yang seharusnya tidak kakak lakukan. Lebih baik kakak fokus pada pekerjaan dan mewujudkan semua keinginan papa-mama. Itu lebih berguna," jawab Zane datar.


Bukan. Ia bukan tidak ingin di khawatirkan oleh Ezio, maupun Azrail. Justru dirinya merasa sangat bahagia sebab kedua saudaranya begitu peduli terhadapnya. Namun ia tidak ingin keberadaannya menjadi alasan ketidakfokusan atau bahkan kegagalan kedua saudaranya nanti dalam melakukan sesuatu yang membanggakan. Dimana hal itu akan berimbas pada kekecewaan orang tuanya. Ia berusaha menghindari hal itu terjadi yang nantinya juga akan menambah luka di hatinya.


__ADS_2